Smart Home: Gaya Hidup Modern atau Kebutuhan Keluarga?
RAU - Saturday, 21 February 2026 | 09:51 AM


Apa Itu Smart Home?
Smart home adalah sistem rumah berbasis Internet of Things (IoT), di mana perangkat elektronik terhubung ke internet dan bisa dikontrol melalui aplikasi atau perintah suara.
Di Indonesia, pasar perangkat ini terus tumbuh. Data dari Statista menunjukkan nilai pasar smart home Indonesia meningkat setiap tahun seiring pertumbuhan kelas menengah dan ekonomi digital.
Artinya, ini bukan "rumah masa depan" yang hanya bisa dilihat di televisi. Sudah banyak sekali keluarga di Indonesia yang punya perangkat cerdas di rumahnya.
Smarthome memakai peralatan yang bisa hidup mati dengan kontrol dan akses terbatas hanya dari ponsel pemiliknya.
Seperti :
1.Smart Bulb (Lampu Pintar)
Lampu ini bisa:
Diatur terang-redupnya lewat aplikasi
Dijadwalkan menyala otomatis saat magrib
Diubah warnanya sesuai suasana
Cara pakai: Pasang seperti lampu biasa → hubungkan ke WiFi → sinkronkan ke aplikasi → atur jadwal.
Efeknya? Lupa matikan lampu? Tinggal klik dari kantor.
2. Smart CCTV
Berbeda dari CCTV biasa, versi pintar bisa:
•Kirim notifikasi saat ada gerakan
•Dipantau real-time lewat ponsel
•Simpan rekaman di cloud
Untuk orang tua yang bekerja, ini memberi rasa kontrol tambahan saat anak di rumah bersama pengasuh.
Tapi tetap perlu sistem keamanan password yang kuat.
3. Smart Door Lock
Tanpa kunci fisik.
Bisa dibuka dengan:
•Sidik jari
•PIN
•Kartu
•Aplikasi
Kalau anak pulang sekolah, orang tua bisa buka pintu dari jarak jauh.
Praktis. Tapi tetap harus ada backup manual.
4. Smart Plug
Ini kecil tapi underrated.
Colokan listrik ini bisa:
•Mematikan alat elektronik otomatis atau dijadwalkan
•Monitor konsumsi listrik
Kalau sering lupa cabut setrika atau dispenser, ini bisa jadi solusi.
Menurut International Energy Agency, sistem kontrol energi berbasis digital berpotensi menekan pemborosan listrik rumah tangga jika digunakan optimal.
5. Smart Speaker (Asisten Suara)
Perangkat seperti yang terintegrasi dengan layanan dari Google atau Amazon memungkinkan pengguna memberi perintah suara:
"Matikan lampu ruang tamu."
"Set suhu AC 24 derajat."
"Putar murottal."
Rumah terasa responsif.
Dan di sinilah banyak orang mulai merasa:
Teknologi ini benar-benar mengubah pengalaman tinggal di rumah.
Tapi… Apakah Kita Jadi Terlalu Bergantung?
Semakin banyak yang otomatis, semakin sedikit yang manual.
Anak-anak tumbuh di rumah yang serba digital.
Lampu menyala sendiri.
Pintu terkunci sendiri.
Bel dijawab dari ponsel.
Kita perlu sadar: smart home adalah alat bantu, bukan pengganti kontrol manusia.
Teknologi seharusnya menyederhanakan hidup, bukan membuat kita kehilangan kesadaran dasar.
Jadi, Perlu atau Tidak?
Untuk keluarga urban dengan mobilitas tinggi, smart home bisa:
✔ Meningkatkan rasa aman
✔ Membantu efisiensi energi
✔ Mengurangi kelupaan
Namun tetap perlu:
•Pengaturan yang benar
•Keamanan digital
•Kesadaran penggunaan
Smart home itu bukan soal rumah menjadi pintar.
Tapi bagaimana penghuninya tetap bijak.
Next News

Pilihan Mukena Yang Tepat Untuk Negara Tropis
14 hours ago

Melindungi kulit dari Matahari yang Kian Agresif
14 hours ago

Waspada, Stress Yang Tersembunyi
14 hours ago

Harimau Sumatra di Ambang Sunyi
14 hours ago

Benarkah 24 Jam Tak Lagi Sama?
14 hours ago

Cashless Society: Indonesia Menuju Masyarakat Tanpa Uang Tunai?
14 hours ago

Anak dan Gadget: Batas Wajar Berapa Jam Sehari?
15 hours ago

Menyesap Nostalgia Lewat Gulali Rambut Nenek
11 hours ago

Makin Keriput, Makin Manis
11 hours ago

Seni Memadukan Warna Outfit
11 hours ago





