Menyesap Nostalgia Lewat Gulali Rambut Nenek
Liaa - Saturday, 21 February 2026 | 01:15 PM


Menyesap Nostalgia Lewat Gulali Rambut Nenek: Jajanan Legendaris yang Enggan Pensiun
Kalau kita bicara soal mesin waktu, kita nggak butuh alat canggih ala film fiksi ilmiah buatan Hollywood. Kadang, mesin waktu itu wujudnya cuma sepotong jajanan manis yang kalau dimakan bikin tenggorokan sedikit seret, tapi hati mendadak hangat. Ya, apalagi kalau bukan Gulali Rambut Nenek. Jajanan yang punya nama resmi Arumanis ini adalah juara bertahan di liga camilan tradisional Indonesia yang sanggup melintasi generasi tanpa kehilangan jati dirinya.
Bayangkan suasana sore di depan gerbang SD atau di sudut gang perumahan tahun 90-an. Suara khas gesekan alat musik sederhana yang terdengar seperti "ngik-ngok-ngik-ngok" mulai mendekat. Itu adalah kode alam. Tanpa perlu promosi di Instagram Story atau pasang iklan di baliho, anak-anak bakal langsung lari keluar rumah sambil menggenggam koin recehan hasil sisa uang jajan. Sang penjual, biasanya bapak-bapak dengan pikulan kayu legendaris, akan berhenti dan mulai membuka tutup kaleng atau kotak kacanya. Di sanalah keajaiban itu berada: gumpalan serat manis berwarna merah muda atau putih yang teksturnya mirip rambut nenek-nenek—makanya dinamakan demikian.
Kenapa Namanya Seram tapi Rasanya Sayang?
Secara teknis, nama aslinya adalah Arumanis atau Harumanis. Tapi entah siapa provokator pertamanya, sebutan "Rambut Nenek" jauh lebih populer dan melekat di kepala kita. Mungkin karena teksturnya yang awut-awutan, kasar-kasar halus, dan warnanya yang pucat kalau tidak diberi pewarna makanan. Kalau dipikir-pikir, memberi nama makanan dengan istilah anatomi orang tua itu agak nyeleneh, ya? Tapi itulah uniknya Indonesia. Kita punya kemampuan luar biasa untuk memberikan nama yang "ngasal" tapi malah jadi ikonik.
Gulali ini bukan sekadar gula yang diputar-putar dalam mesin kayak arum manis kapas (cotton candy) yang sering ada di pasar malam. Rambut nenek punya kasta tersendiri. Proses pembuatannya adalah sebuah seni tingkat tinggi yang mengandalkan otot dan perasaan. Gula pasir direbus bersama air dan sedikit pewarna sampai menjadi karamel yang kental dan elastis. Setelah itu, adonan karamel panas itu ditarik-tarik di atas tumpukan tepung terigu yang sudah disangrai. Ditarik, dilipat, ditarik lagi, sampai ribuan kali hingga serat-serat halus terbentuk. Ini adalah workout yang jauh lebih berat daripada angkat beban di gym, jujur saja.
Antara Kerupuk Tipis dan Sensasi "Seret" yang Khas
Makan rambut nenek itu ada seninya. Biasanya, penjual akan menjepit gumpalan manis ini di antara dua keping kerupuk tipis berwarna warni yang disebut opak. Rasanya? Manis legit bertemu dengan gurihnya kerupuk yang renyah. Begitu digigit, rambut neneknya akan langsung meleleh di lidah, meninggalkan jejak butiran tepung dan gula yang bikin kita pengen lagi dan lagi.
Tapi ada satu risiko yang sudah kita pahami bersama: sensasi "seret". Makan rambut nenek tanpa sedia air minum di samping adalah sebuah kecerobohan tingkat tinggi. Tepung sangrai yang menyelimuti gula itu seringkali nempel di tenggorokan, bikin kita batuk-batuk kecil ala orang tersedak debu. Tapi anehnya, sensasi seret itulah yang bikin kangen. Ada semacam kepuasan tersendiri saat kita berhasil menaklukkan tumpukan serat gula itu sampai ludes.
Evolusi Rambut Nenek di Era Gen Z
Zaman berganti, tren kuliner datang dan pergi secepat scrolling TikTok. Kita sempat melihat demam donat artisan, croffle, hingga es krim lapis emas. Namun, rambut nenek menolak untuk punah. Alih-alih hilang ditelan bumi, jajanan ini melakukan rebranding yang cukup cerdas. Sekarang, kita nggak perlu nunggu abang-abang pikulan lewat depan rumah untuk sekadar nostalgia.
Rambut nenek sudah masuk ke mall-mall besar dengan kemasan yang jauh lebih estetik. Wadahnya bukan lagi plastik bening yang diikat karet gelang, melainkan toples kedap udara dengan desain minimalis. Rasanya pun makin beragam. Kalau dulu cuma ada rasa original manis atau stroberi, sekarang ada varian matcha, cokelat, durian, bahkan taro. Harganya pun ikut naik kelas, dari yang dulu cuma lima ratus perak, sekarang bisa puluhan ribu per toplesnya. Tapi ya itu, yang dibeli bukan cuma gulanya, tapi memorinya.
Filosofi di Balik Gumpalan Gula
Kalau kita renungkan sedikit lebih dalam (cie, filosofis banget), rambut nenek adalah simbol kesederhanaan yang bertahan di tengah gempuran modernitas. Ia mengajarkan kita bahwa sesuatu yang dibuat dengan tangan secara manual, penuh keringat, dan menggunakan bahan-bahan sederhana tetap punya tempat di hati banyak orang. Rambut nenek adalah pengingat masa kecil yang jujur, di mana kebahagiaan itu bentuknya simpel banget: cuma butuh gula dan kerupuk warna-warni.
Mungkin bagi sebagian orang kota yang sangat peduli kesehatan, rambut nenek dianggap "bom gula" yang harus dihindari. Tapi bagi kita yang tumbuh besar dengannya, satu gigitan rambut nenek adalah obat stres paling ampuh. Ia membawa kita kembali ke masa di mana masalah terbesar dalam hidup hanyalah tugas matematika atau belum mandi sore saat asyik main layangan.
Jadi, kalau kebetulan kamu lagi jalan-jalan di pasar tradisional atau liat ada toko yang jual Arumanis dalam kemasan modern, jangan ragu buat beli. Sesekali, biarkan lidahmu merasakan manisnya masa lalu. Meskipun habis makan harus buru-buru cari air mineral biar nggak keselek, setidaknya hatimu sudah merasa cukup dengan nostalgia yang satu ini. Karena jujur saja, di dunia yang makin rumit ini, kita butuh sesuatu yang manis dan nggak menuntut banyak, seperti sepotong Gulali Rambut Nenek.
Next News

Makin Keriput, Makin Manis
in 4 hours

Seni Memadukan Warna Outfit
in 4 hours

Daun Pandan, Si Hijau Wangi yang Diam-diam Jadi MVP di Dapur Kita
in 4 hours

Bukan Sekadar Camilan, Tapi Sebuah Warisan Peradaban Ngemil
in 4 hours

Mengupas Sisi Psikologis dan Fakta Menarik Si Pecinta Warna Hitam
in 3 hours

Pemandian Air Panas Alami: Fenomena Sains Yang Menjadi Sumber Kesehatan
in 3 hours

Biji Salak, Plot Twist Kuliner yang Bikin Gagal Paham tapi Tetap Jadi Primadona
in 3 hours

Antara Bunga Tidur dan Ramalan
a minute ago

Mitos 'Tidur Itu Ibadah': Antara Irit Tenaga atau Memang Malas Saja?
6 minutes ago

Bukan Cuma Asap yang Lewat, Tapi Racun yang Mengendap
11 hours ago





