Sabtu, 21 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Bukan Sekadar Camilan, Tapi Sebuah Warisan Peradaban Ngemil

Liaa - Saturday, 21 February 2026 | 12:45 PM

Background
Bukan Sekadar Camilan, Tapi Sebuah Warisan Peradaban Ngemil

Keripik Pisang: Masterpiece Sederhana yang Nggak Pernah Gagal Nyelametin Suasana

Coba deh bayangin situasi ini: kamu lagi duduk di depan laptop, tugas atau kerjaan numpuk, deadline tinggal hitungan jam, dan perut mulai ngasih sinyal minta "sesuatu" yang bisa dikunyah. Di saat-saat kritis kayak gitu, kehadiran sebungkus keripik pisang seringkali jadi pahlawan tanpa tanda jasa. Nggak perlu ribet pakai sendok atau piring, tinggal robek plastiknya, ambil satu keping yang paling garing, dan—kriuk! Beban hidup rasanya sedikit terangkat lewat satu gigitan.

Keripik pisang itu menurut saya adalah salah satu bentuk comfort food paling jujur yang pernah diciptakan manusia Indonesia. Dia nggak berusaha jadi makanan mewah yang pretensius. Dia nggak butuh plating cantik di atas piring porselen mahal. Ditaruh di plastik kiloan yang diikat karet gelang pun, daya tariknya tetap maksimal. Ada semacam magis di balik irisan tipis buah kuning ini yang bikin kita susah berhenti kalau udah mulai ngunyah. Tahu-tahu, sebungkus besar sudah tinggal remah-remahnya doang di dasar plastik.

Bukan Sekadar Camilan, Tapi Sebuah Warisan Peradaban Ngemil

Kalau kita bicara soal sejarah, mungkin nggak ada catatan pasti kapan pertama kali orang Indonesia kepikiran buat mengiris pisang tipis-tipis terus digoreng sampai kering. Tapi yang jelas, keripik pisang sudah jadi bagian dari DNA kuliner kita. Dari Sabang sampai Merauke, hampir tiap daerah punya versi keripik pisangnya masing-masing. Ada yang asin klasik, ada yang manis legit karena karamel gula merah, sampai yang dibalut bumbu-bumbu modern yang bikin lidah menari.

Salah satu yang paling legendaris tentu saja dari Lampung. Kalau kamu main ke Lampung dan pulang nggak bawa keripik pisang cokelat, rasanya kayak ada yang kurang. Keripik pisang Lampung itu beda level. Potongannya tebal tapi tetap empuk, dan bumbu cokelatnya itu lho, tebalnya minta ampun sampai nutupin warna asli pisangnya. Ini adalah bukti kalau keripik pisang bisa bertransformasi dari camilan tradisional yang "ndeso" jadi produk oleh-oleh yang kelasnya sudah premium.

Tapi, jangan lupakan juga versi tradisional yang warnanya kuning cerah dan rasa asinnya bikin nagih. Rahasianya biasanya ada di jenis pisang yang dipakai. Nggak semua pisang bisa dijadikan keripik yang enak. Biasanya para suhu pembuat keripik bakal milih Pisang Kepok atau Pisang Nangka yang masih mentah atau mengkal. Kenapa? Karena teksturnya masih keras dan kandungan patinya tinggi. Kalau pakai pisang yang kematangan, yang ada malah benyek dan nggak bisa garing pas digoreng.



Seni di Balik Kegaringan dan Bumbu yang "Nendang"

Banyak orang pikir bikin keripik pisang itu gampang. Tinggal kupas, iris, goreng. Padahal, ada art atau seni tersendiri di situ. Mengiris pisang itu butuh konsistensi. Kalau ketebalan, bakal keras kayak gigit kayu; kalau ketipisan, bakal cepat gosong. Belum lagi soal suhu minyak. Minyak harus benar-benar panas biar pisangnya langsung "mekar" dan nggak menyerap terlalu banyak lemak. Istilah anak sekarang, harus perfectly crispy tanpa bikin tenggorokan serak.

Lalu ada urusan bumbu. Di era sekarang, varian rasa keripik pisang sudah melampaui batas imajinasi kita. Dulu mungkin cuma ada pilihan asin atau manis. Sekarang? Ada rasa Matcha, Red Velvet, Balado, Keju, bahkan rasa pedas berlevel-level yang bikin keringat bercucuran. Inovasi ini bagus banget sih buat narik minat gen-z dan milenial yang selalu haus akan sesuatu yang baru. Tapi buat saya pribadi, keripik pisang bumbu cokelat atau yang asin klasik tetap memegang tahta tertinggi. Ada rasa nostalgia yang nggak bisa digantikan oleh bubuk perasa kimiawi sesanggih apa pun.

Kenapa Kita Selalu Gagal Berhenti Ngunyah?

Pernah nggak sih kamu nanya ke diri sendiri, "Kenapa ya gue nggak bisa berhenti makan ini keripik?" Ternyata ada penjelasan logisnya—setidaknya menurut pengamatan amatir saya. Keripik pisang itu punya kombinasi tekstur yang memuaskan secara psikologis. Suara "krak" saat digigit itu ngasih sinyal kepuasan ke otak. Ditambah lagi, pisang sendiri punya rasa dasar yang earthy dan manis alami, yang kalau ketemu garam atau gula, bakal menciptakan profil rasa yang seimbang.

Selain itu, keripik pisang adalah teman sosial yang paling asyik. Mau lagi nongkrong bareng teman, lagi nonton drakor, atau lagi di perjalanan jauh naik mobil, keripik pisang selalu bisa masuk di segala suasana. Dia nggak bikin ribet, nggak bikin tangan terlalu kotor (kecuali yang varian cokelat ya, itu risiko yang sebanding), dan porsinya biasanya banyak jadi bisa dibagi-bagi. Meskipun ujung-ujungnya kita sering egois dan pengen habisin sendiri.

Masa Depan Si Kuning yang Terus Eksis

Melihat tren sekarang, saya yakin keripik pisang nggak bakal hilang ditelan zaman. Di tengah gempuran camilan impor dari Korea atau Jepang yang bungkusnya lucu-lucu, keripik pisang tetap punya tempat spesial di hati masyarakat. Sekarang makin banyak UMKM yang mulai serius ngurusin branding keripik pisang mereka. Kemasannya dibikin pakai ziplock biar tetap garing, desainnya estetik, dan dipasarkan lewat TikTok atau Instagram.



Bahkan, keripik pisang sekarang juga mulai dipandang sebagai alternatif camilan yang "agak" lebih sehat dibanding kerupuk tepung biasa. Ya, walaupun tetap digoreng, setidaknya bahan dasarnya adalah buah, kan? Ada seratnya dikit-dikit lah buat menghibur diri pas lagi diet tapi pengen ngemil.

Kesimpulannya, keripik pisang itu adalah bukti kalau sesuatu yang sederhana, kalau ditekuni dengan niat dan inovasi, bisa jadi sesuatu yang luar biasa. Dia adalah simbol ketahanan pangan lokal sekaligus simbol kebahagiaan sederhana rakyat Indonesia. Jadi, kalau nanti sore kamu bingung mau ngemil apa, coba deh cari tukang keripik terdekat atau cek toko oleh-oleh langganan. Ambil satu bungkus, nikmati setiap gigitannya, dan biarkan kegaringannya memperbaiki mood kamu hari ini.

Lagipula, hidup ini sudah cukup keras, setidaknya biarlah keripik pisang yang kita kunyah juga keras, tapi dengan cara yang menyenangkan.

Tags