Sabtu, 21 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Biji Salak, Plot Twist Kuliner yang Bikin Gagal Paham tapi Tetap Jadi Primadona

Liaa - Saturday, 21 February 2026 | 12:15 PM

Background
Biji Salak, Plot Twist Kuliner yang Bikin Gagal Paham tapi Tetap Jadi Primadona

Biji Salak: Plot Twist Kuliner yang Bikin Gagal Paham tapi Tetap Jadi Primadona

Pernah nggak sih kalian ngebayangin ada orang yang saking polosnya, pas disuruh bikin kolak biji salak, dia beneran pergi ke pasar, beli salak sekilo, dimakan buahnya, terus bijinya dikumpulin buat direbus? Kalau kejadian beneran, itu bukan cuma tragedi dapur, tapi fix bakal jadi konten viral yang bikin netizen elus dada sambil istighfar. Bayangin aja, biji salak yang kerasnya minta ampun itu mau dikunyah? Yang ada bukannya kenyang, malah gigi rontok semua atau minimal dapet tiket VIP ke dokter gigi terdekat.

Nah, di sinilah letak uniknya khazanah kuliner kita. Nama makanan di Indonesia itu seringkali penuh dengan metafora dan "clickbait" alami. Ada yang namanya nasi kucing tapi nggak pakai daging kucing, ada rondo royal yang ternyata tape goreng, dan tentu saja si bintang utama kita hari ini: Biji Salak. Padahal kalau kita bedah anatominya, nggak ada satu pun DNA buah salak yang nempel di menu takjil legendaris ini.

Kenapa Namanya Harus Biji Salak?

Jujurly, penamaan biji salak ini sebenarnya adalah bentuk kreativitas nenek moyang kita dalam urusan visualisasi. Kenapa disebut biji salak? Ya karena bentuknya yang bulat-bulat agak lonjong dan warnanya yang cokelat mengkilap gara-gara direndam kuah gula merah. Sekilas emang mirip banget sama biji buah salak pondoh yang abis diemut. Simpel banget, kan? Nggak perlu riset branding berbulan-bulan sampai bayar agensi mahal, orang dulu cukup melihat kemiripan visual dan bum! Lahirlah nama yang ikonik.

Secara esensi, biji salak itu adalah "local wisdom" dari boba yang lagi tren sekarang. Kalau boba berasal dari tapioka dan warnanya hitam karena brown sugar, biji salak ini lebih advanced karena ada campuran ubi jalarnya. Ada tekstur lembut dari ubi, tapi tetep ada sensasi kenyal-kenyal gemoy dari tepung sagu atau tapiokanya. Ibaratnya, biji salak adalah kakak kelasnya boba yang lebih punya karakter dan lebih berwibawa di meja makan.

Debat Nasional: Biji Salak vs Bubur Candil

Masalah nggak berhenti di nama doang. Sering banget terjadi perdebatan di tongkrongan atau di grup WhatsApp keluarga soal perbedaan antara biji salak dan bubur candil. Buat orang awam, keduanya mungkin terlihat sama: bola-bola kenyal, kuah gula merah, dan siraman santan. Tapi buat para purist kuliner, ini adalah dua entitas yang berbeda kasta.



Biji salak itu wajib hukumnya pakai ubi jalar dalam adonannya. Ubinya bisa ubi kuning, ubi oranye, atau ubi ungu biar estetikanya dapet. Sedangkan candil, biasanya murni cuma pakai tepung ketan dan air. Jadi secara tekstur, candil itu lebih lengket dan "ngelawan" pas digigit, sementara biji salak punya serat-serat lembut khas ubi yang bikin sensasi makannya lebih kaya. Jadi, please, jangan sampai tertukar ya, biar nggak dibilang kurang literasi kuliner.

Ritual Bikin Biji Salak: Ujian Kesabaran dan Feeling

Bikin biji salak itu sebenarnya gampang-gampang susah. Bahan-bahannya mah receh banget, modal ubi sekilo sama tepung sagu dikit aja udah bisa buat ngasih makan satu RT. Tapi, tantangannya ada di proses "nguleni" atau mencampur adonan. Ini adalah momen di mana insting masak kita diuji. Kalau kebanyakan tepung, biji salaknya jadi keras kayak kelereng. Kalau kebanyakan ubi atau kurang tepung, dia bisa hancur lebur pas direbus, ambyar kayak harapan pas ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.

Proses membulat-bulatkannya juga punya nilai terapeutik tersendiri. Ada kepuasan batin pas kita berhasil bikin bola-bola yang ukurannya seragam dan permukaannya mulus tanpa retakan. Di sinilah kesabaran kita dilatih. Nggak heran kalau menu ini identik banget sama bulan Ramadhan, karena proses bikinnya aja udah kayak latihan menahan emosi.

Simfoni Rasa dalam Satu Mangkok

Apa sih yang bikin kolak biji salak ini begitu dicintai? Jawabannya ada pada keseimbangan rasa. Bayangin, lu dapet sensasi manis legit dari kuah gula merah yang udah kental karena dicampur sedikit larutan maizena atau sagu. Terus, manisnya itu "dinetralkan" sama siraman santan kental yang gurihnya nampol dan ada aroma pandan yang wangi banget. Begitu digigit, bola ubinya kerasa lembut tapi kenyal. Beuh, itu adalah sebuah simfoni di dalam mulut!

Apalagi kalau dimakannya pas cuaca lagi hujan atau pas momen buka puasa. Mau disajikan anget-anget enak, mau dikasih es batu juga sabi banget. Biji salak itu fleksibel, nggak kaku kayak jadwal meeting Senin pagi. Dia bisa masuk ke suasana apa aja dan disukai dari anak kecil sampai kakek-nenek.



Filosofi di Balik Semangkok Kolak

Kalau kita mau sedikit sok filosofis, biji salak ini sebenarnya ngajarin kita soal "don't judge a book by its cover". Namanya mungkin terdengar aneh atau menyesatkan, tapi begitu dicoba, rasanya bikin ketagihan. Ini juga bukti kalau makanan enak itu nggak harus pakai bahan-bahan impor yang namanya susah dieja. Cukup ubi dari pasar tradisional, gula merah hasil sadapan petani lokal, dan santan dari kelapa yang diparut sendiri, kita udah bisa dapet kebahagiaan yang hakiki.

Di tengah gempuran dessert kekinian kayak croffle, tiramisu, atau cheesecake yang harganya seringkali nggak masuk akal buat kaum mendang-mending, biji salak tetap teguh berdiri. Dia adalah pahlawan lokal yang nggak butuh promosi besar-besaran di media sosial buat tetap eksis. Selama masih ada ubi jalar di tanah ini, biji salak bakal tetap jadi juara di hati (dan perut) kita semua.

Jadi, buat kalian yang selama ini cuma tahu makan doang, coba deh sesekali main ke dapur pas ibu atau mbak lagi bikin menu ini. Rasain sensasi lengketnya adonan di tangan dan wangi gula merah yang mendidih. Karena sejatinya, kenikmatan semangkok biji salak itu bukan cuma soal rasa di lidah, tapi juga soal kenangan dan usaha di balik pembuatannya. Selamat menikmati plot twist termanis dalam sejarah kuliner Indonesia!

Tags