Makin Keriput, Makin Manis
Liaa - Saturday, 21 February 2026 | 01:10 PM


Markisa: Si Buah Keriput yang Penuh Plot Twist dan Rahasia Tersembunyi
Pernahkah kalian berdiri di depan rak buah di supermarket, lalu mata tertuju pada sebuah benda bulat, kecil, dan seringkali terlihat keriput seperti kulit kakek-kakek yang kelamaan berendam di kolam renang? Kalau iya, selamat, kalian baru saja bertemu dengan markisa. Buah ini memang punya visual yang agak menipu. Kalau buah apel atau jeruk selalu berusaha tampil "glowing" dan mulus demi menarik perhatian pembeli, markisa justru sebaliknya. Makin jelek tampilannya, biasanya isinya makin juara.
Markisa itu ibarat teman kita yang pendiam dan tampilannya biasa saja, tapi pas diajak ngobrol, ternyata pengetahuannya luas dan punya selera musik yang asyik. Dia tidak butuh validasi dari tampilan luar. Tapi, di balik kulitnya yang keras dan isinya yang mirip lendir—mari kita jujur, penampakannya memang agak alien—buah ini menyimpan deretan fakta yang bakal bikin kalian geleng-geleng kepala. Mari kita bedah satu per satu kenapa buah ini layak dibilang sebagai salah satu buah paling "underrated" di jagat raya.
Nama "Passion Fruit" Bukan Berarti Buah Gairah
Kita sering mendengar orang menyebutnya passion fruit. Kalau diterjemahkan mentah-mentah ke Bahasa Indonesia, jadinya "buah gairah". Pasti banyak yang berpikir kalau buah ini punya khasiat mistis untuk meningkatkan libido atau semacamnya. Maaf banget buat yang sudah berharap lebih, tapi kalian salah besar. Nama "passion" di sini sama sekali tidak ada hubungannya dengan urusan asmara atau gairah di ranah romansa.
Asal-usul namanya justru datang dari para misionaris Spanyol di Amerika Selatan pada abad ke-16. Saat mereka melihat bunga markisa yang unik, mereka mengaitkannya dengan kisah penyaliban Yesus Kristus (The Passion of Christ). Bagian-bagian bunga markisa dianggap melambangkan mahkota duri, paku, hingga jumlah rasul. Jadi, secara sejarah, buah ini lebih punya nuansa religius ketimbang nuansa erotis. Agak plot twist, kan? Dari sejarahnya saja sudah terlihat kalau markisa ini buah yang punya kedalaman karakter.
Makin Keriput, Makin Manis: Sebuah Filosofi Kehidupan
Di dunia buah-buahan, ada aturan tak tertulis bahwa buah yang sudah keriput berarti sudah mau busuk. Tapi markisa dengan tegas bilang, "Peraturan itu tidak berlaku buat gue." Kalau kalian membeli markisa yang kulitnya masih mulus dan kencang seperti baru habis perawatan botox, siap-siap saja lidah kalian bakal menari karena rasa asam yang luar biasa tajam. Markisa yang mulus itu biasanya belum matang sempurna.
Sebaliknya, markisa yang kulitnya sudah mulai berlesung pipit, bahkan terlihat agak penyok dan mengkerut, justru itulah puncak kejayaannya. Di titik itulah kadar gulanya naik dan aromanya menjadi sangat kuat. Ini adalah pelajaran hidup yang nyata: jangan pernah menilai sesuatu hanya dari kemasan luarnya. Markisa mengajarkan kita bahwa kedewasaan (dan rasa manis) seringkali datang setelah melewati proses "pengeriputan" alami. Jadi, kalau nanti belanja ke pasar, carilah yang paling terlihat "menderita" kulitnya, karena di sanalah letak kenikmatannya.
Bukan Cuma Segar, Tapi Juga Obat Tidur Alami
Pernah merasa stres setelah seharian dikejar deadline atau terjebak macet yang nggak masuk akal di Jakarta? Daripada langsung lari ke obat tidur atau suplemen kimia, cobalah makan markisa atau minum sari buahnya. Markisa mengandung senyawa alkaloid obat, termasuk harman, yang berfungsi sebagai obat penenang ringan (sedatif).
Buah ini secara alami membantu menurunkan tingkat kecemasan dan bikin saraf kita lebih rileks. Makanya, di beberapa budaya, makan markisa sebelum tidur dianggap sebagai ritual agar bisa bermimpi indah. Ini jauh lebih sehat dan estetik ketimbang cuma scrolling TikTok sampai jam 3 pagi demi mencari distraksi dari rasa cemas. Sensasi asam-manisnya yang meledak di mulut itu seperti memberikan kejutan kecil ke otak agar berhenti berpikir berat sejenak.
Biji Markisa: Antara Gangguan dan Kenikmatan
Salah satu debat terbesar saat makan markisa adalah: bijinya dimakan atau dibuang? Bagi kaum yang nggak suka ribet, biji markisa adalah bagian yang memberikan tekstur "crunchy" yang asyik. Tapi bagi sebagian orang, biji-biji hitam kecil itu dianggap sebagai pengganggu kenyamanan saat menelan. Padahal, faktanya biji markisa itu sangat kaya akan serat dan antioksidan.
Mengunyah biji markisa itu seperti makan kerupuk versi mini dan sehat. Di dalamnya terkandung zat bernama piceatannol yang konon bagus untuk kesehatan jantung dan kulit. Jadi, kalau kalian selama ini repot-repot menyaring bijinya hanya untuk mendapatkan cairannya, kalian baru saja membuang harta karun nutrisi yang sebenarnya. Mulailah berteman dengan tekstur "kletuk-kletuk" saat mengonsumsi buah ini.
Ikon Oleh-Oleh yang Tak Tergantikan
Di Indonesia, kalau kita bicara markisa, ingatan kita pasti langsung terbang ke Medan atau Makassar. Sirup markisa sudah menjadi identitas budaya tersendiri. Rasanya nggak sah kalau pulang dari Sumatera Utara atau Sulawesi Selatan tanpa menenteng satu dus sirup markisa botolan. Tapi jujur saja, kadang kita sering lupa kalau markisa versi asli—buah yang dipetik langsung—jauh lebih "powerful" daripada versi sirup yang sudah ditambah gula berliter-liter.
Makan buah markisa segar dengan cara membelahnya menjadi dua, lalu mengeruk isinya dengan sendok, adalah pengalaman sensorik yang mewah. Aroma tropisnya langsung menyeruak, memenuhi ruangan. Baunya saja sudah bisa membangkitkan mood. Tidak heran kalau aroma markisa sering dicontek untuk produk parfum, sabun mandi, hingga lilin aromaterapi. Markisa itu punya wangi yang nggak bisa ditiru oleh buah lain; dia punya ciri khas yang sangat spesifik, antara kecut, segar, dan manis yang elegan.
Penutup: Mari Beri Respek Lebih pada Markisa
Pada akhirnya, markisa bukan sekadar pelengkap di es buah atau bahan baku sirup saat Lebaran tiba. Ia adalah buah dengan kepribadian kuat. Ia tangguh dengan kulit luarnya yang keras, ia jujur dengan rasa asamnya yang berani, dan ia sangat bermanfaat bagi kesehatan mental maupun fisik kita.
Mungkin ke depannya kita perlu lebih sering memasukkan markisa ke dalam daftar belanjaan mingguan. Bukan cuma buat gaya-gayaan biar terlihat sehat, tapi karena buah ini memang punya kualitas yang sulit ditandingi. Jadi, kalau nanti kalian melihat markisa yang terlihat layu dan keriput di pojokan toko buah, jangan kasih pandangan kasihan. Ambil, beli, dan rasakan ledakan rasa yang ada di dalamnya. Karena seperti kata pepatah lama (yang baru saja saya karang): yang mulus belum tentu manis, yang keriput bisa jadi paling eksotis.
Next News

Menyesap Nostalgia Lewat Gulali Rambut Nenek
in 4 hours

Seni Memadukan Warna Outfit
in 4 hours

Daun Pandan, Si Hijau Wangi yang Diam-diam Jadi MVP di Dapur Kita
in 4 hours

Bukan Sekadar Camilan, Tapi Sebuah Warisan Peradaban Ngemil
in 4 hours

Mengupas Sisi Psikologis dan Fakta Menarik Si Pecinta Warna Hitam
in 3 hours

Pemandian Air Panas Alami: Fenomena Sains Yang Menjadi Sumber Kesehatan
in 3 hours

Biji Salak, Plot Twist Kuliner yang Bikin Gagal Paham tapi Tetap Jadi Primadona
in 3 hours

Antara Bunga Tidur dan Ramalan
a few seconds ago

Mitos 'Tidur Itu Ibadah': Antara Irit Tenaga atau Memang Malas Saja?
5 minutes ago

Bukan Cuma Asap yang Lewat, Tapi Racun yang Mengendap
11 hours ago





