Daun Pandan, Si Hijau Wangi yang Diam-diam Jadi MVP di Dapur Kita
Liaa - Saturday, 21 February 2026 | 12:50 PM


Daun Pandan: Si Hijau Wangi yang Diam-diam Jadi MVP di Dapur Kita
Pernah nggak sih, kalian lagi jalan santai di sore hari, terus tiba-tiba hidung menangkap aroma manis, gurih, dan menenangkan yang entah datangnya dari mana? Biasanya, bau itu muncul dari dapur tetangga yang lagi masak kolak atau gerobak bubur sumsum yang kebetulan lewat. Bau itu bukan parfum mahal dari Paris, melainkan aroma dari selembar daun hijau panjang yang sering kita remehkan: daun pandan.
Kalau dunia Barat punya vanila yang harganya selangit dan dianggap sebagai standar kemewahan aroma, kita di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, punya pandan. Orang bule sering menyebutnya "Vanilla of the East". Tapi jujur saja, sebutan itu terasa agak kurang adil. Pandan itu jauh lebih dari sekadar "versi timur" dari vanila. Pandan adalah identitas, memori masa kecil, sekaligus pahlawan tanpa tanda jasa di hampir setiap masakan nusantara.
Lebih dari Sekadar Pengharum Masakan
Coba deh kalian bayangkan nasi uduk atau nasi kuning tanpa pandan. Rasanya bakal hambar, kayak ada yang kurang, semacam makan bakso tapi lupa nggak pakai kuah. Pandan punya kekuatan magis untuk mengubah aroma nasi yang biasa-biasa saja menjadi sesuatu yang menggugah selera. Rahasianya ada pada senyawa kimia bernama 2-Acetyl-1-pyrroline. Nama ilmiahnya memang terdengar ribet kayak hafalan kimia SMA, tapi intinya senyawa inilah yang memberikan aroma mirip popcorn atau nasi hangat yang baru matang.
Di tangan ibu-ibu kita, pandan bukan cuma soal bau. Daun ini adalah alat serbaguna. Pernah lihat daun pandan yang diikat simpul lalu dicemplungkan ke dalam santan? Itu teknik legendaris. Fungsinya supaya sari-sarinya keluar tanpa membuat daunnya hancur berantakan di dalam masakan. Selain itu, pandan juga adalah pewarna alami paling aman sejagat raya. Sebelum era pewarna sintetis yang warnanya hijau neon aneh itu merajalela, nenek moyang kita sudah lebih dulu menumbuk pandan dan suji untuk mendapatkan warna hijau yang estetik dan aromatik pada kue-kue tradisional seperti dadar gulung atau klepon.
Pandan di Tengah Gempuran Tren Kuliner Modern
Lucunya, meskipun pandan ini barang lama, dia nggak pernah benar-benar ketinggalan zaman. Di saat tren Matcha atau Thai Tea sempat menjajah lidah anak muda, pandan tetap punya tempat spesial. Lihat saja menu-menu di kafe kekinian. Sekarang ada yang namanya "Pandan Latte" atau "Pandan Cake with Gula Melaka". Ini membuktikan kalau pandan itu fleksibel. Dia bisa tampil humble di pinggir jalan bersama tukang gorengan, tapi bisa juga tampil elegan di gelas kaca kafe estetik dengan harga lima puluh ribu rupiah.
Menurut observasi saya yang suka nongkrong sambil perhatiin menu, pandan itu punya efek psikologis yang menenangkan. Ada semacam rasa "pulang ke rumah" setiap kali kita mencium aromanya. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota yang bikin stres, aroma pandan dalam segelas teh hangat itu rasanya kayak dapet puk-puk di pundak, seolah bilang, "Tenang, semuanya bakal baik-baik saja."
Bukan Cuma Urusan Perut, Tapi Juga Urusan Nyawa (Eh, Kesehatan)
Jangan salah, pandan nggak cuma jago di dapur. Dalam dunia pengobatan tradisional atau yang sekarang sering disebut "back to nature", daun pandan punya reputasi yang cukup mentereng. Banyak orang tua kita yang percaya kalau rebusan air daun pandan bisa membantu menurunkan tekanan darah tinggi atau meredakan asam urat. Apakah ini valid secara medis? Beberapa penelitian memang menunjukkan adanya kandungan flavonoid dan polifenol yang bersifat antioksidan dan anti-inflamasi.
Selain diminum, pandan juga sering dijadikan "senjata" untuk mengusir tamu tak diundang di dapur, yaitu kecoak. Katanya, kecoak nggak suka sama aroma pandan yang kuat. Jadi, kalau kalian malas beli semprotan serangga yang baunya bikin sesak napas, coba deh taruh beberapa potong daun pandan di sudut lemari atau di bawah tempat tidur. Selain bikin ruangan wangi alami, serangga pun bakal mikir dua kali buat mampir. Ini adalah solusi paling organik dan ramah kantong yang pernah ada.
Filosofi di Balik Selembar Daun
Ada hal menarik kalau kita bicara soal cara tumbuh tanaman pandan. Dia nggak butuh perawatan ekstra mewah. Cukup tanah yang agak lembap, sedikit sinar matahari, dan dia akan tumbuh rimbun di pojokan halaman. Dia nggak menuntut banyak, tapi memberi banyak. Mungkin di situ letak filosofinya: menjadi berguna tanpa harus terlihat mencolok.
Kalau kita perhatikan, daun pandan itu bentuknya tajam dan pinggirannya kadang agak kasar, tapi aromanya lembut luar biasa. Ini mirip kayak orang Indonesia pada umumnya; dari luar mungkin kelihatan tangguh atau bahkan sedikit "berduri", tapi kalau sudah kenal, aslinya ramah, hangat, dan menyenangkan hati. Pandan mengajarkan kita kalau kualitas itu nggak selalu harus dibungkus dengan penampilan yang berkilau atau harga yang mahal.
Kesimpulan: Mari Mengapresiasi si Hijau Ini
Jadi, lain kali kalau kalian belanja ke pasar atau lewat di depan tanaman pandan di pinggir jalan, jangan cuma lewat begitu saja. Petik selembar (minta izin dulu kalau punya tetangga ya!), remas sedikit, dan hirup aromanya. Itu adalah aroma bumi kita, aroma tradisi yang tetap bertahan di tengah gempuran makanan instan dan bumbu-bumbu kimia.
Pandan adalah pengingat bahwa kebahagiaan itu kadang sesederhana mencium bau nasi yang baru matang. Dia adalah pahlawan dapur yang tetap rendah hati meski jasanya besar sekali. Tanpa pandan, dunia kuliner kita mungkin bakal terasa hambar dan kurang warna. Jadi, mari kita beri apresiasi lebih untuk si daun hijau panjang ini. Karena pada akhirnya, tren makanan bisa datang dan pergi, tapi wangi pandan akan selalu punya tempat abadi di hati (dan hidung) kita semua.
Next News

Menyesap Nostalgia Lewat Gulali Rambut Nenek
in 4 hours

Makin Keriput, Makin Manis
in 4 hours

Seni Memadukan Warna Outfit
in 4 hours

Bukan Sekadar Camilan, Tapi Sebuah Warisan Peradaban Ngemil
in 4 hours

Mengupas Sisi Psikologis dan Fakta Menarik Si Pecinta Warna Hitam
in 3 hours

Pemandian Air Panas Alami: Fenomena Sains Yang Menjadi Sumber Kesehatan
in 3 hours

Biji Salak, Plot Twist Kuliner yang Bikin Gagal Paham tapi Tetap Jadi Primadona
in 3 hours

Antara Bunga Tidur dan Ramalan
in a minute

Mitos 'Tidur Itu Ibadah': Antara Irit Tenaga atau Memang Malas Saja?
4 minutes ago

Bukan Cuma Asap yang Lewat, Tapi Racun yang Mengendap
11 hours ago





