Mitos 'Tidur Itu Ibadah': Antara Irit Tenaga atau Memang Malas Saja?
Liaa - Saturday, 21 February 2026 | 09:05 AM


Mitos 'Tidur Itu Ibadah': Antara Irit Tenaga atau Memang Malas Saja?
Pernah dengar kalimat sakti "tidurnya orang berpuasa adalah ibadah"? Kalau kamu adalah tipe orang yang menjadikan kutipan ini sebagai tameng untuk tidur dari habis Subuh sampai menjelang Maghrib, selamat, kamu punya jutaan teman di luar sana. Memasuki bulan Ramadan, ritme hidup mendadak berubah total. Yang biasanya produktif di pagi hari, tiba-tiba jadi kaum "low-battery" yang cuma bisa berfungsi kalau sudah kena takjil. Tapi pertanyaannya, apakah jurus tidur maraton ini benar-benar efektif buat menjaga stamina, atau malah bikin kita makin loyo kayak kerupuk kena kuah soto?
Mari kita jujur-jujuran. Tidur saat puasa itu rasanya memang beda. Ada kenikmatan tersendiri ketika kita memejamkan mata di tengah cuaca siang yang terik, sementara perut mulai konser musik keroncong. Rasanya seperti melakukan perjalanan waktu (time travel). Merem jam dua siang, tahu-tahu bangun sudah jam lima sore. "Wah, bentar lagi buka," pikir kita dengan bangga. Padahal, kalau ditilik lebih dalam, kebiasaan "hibernasi" mendadak ini punya dampak yang nggak main-main buat tubuh dan mental kita.
Kenapa Kita Jadi Kayak Zombie di Siang Hari?
Secara biologis, tubuh kita memang sedang beradaptasi. Kadar gula darah yang menurun membuat otak mengirim sinyal untuk menghemat energi. Itulah kenapa kelopak mata rasanya berat banget, lebih berat daripada cicilan paylater yang belum lunas. Ditambah lagi, siklus tidur kita biasanya berantakan karena harus bangun sahur di jam-jam "balas dendam". Jadi, wajar kalau di kantor atau di kampus, banyak orang yang wajahnya terlihat seperti zombie yang kurang asupan kafein.
Namun, masalah muncul ketika kita menjadikan "lemas" sebagai alasan untuk tidur berlebihan. Ada sebuah fenomena yang namanya sleep inertia. Ini adalah perasaan pusing, bingung, dan badan terasa pegal semua saat kita bangun dari tidur yang terlalu lama. Kamu pasti pernah merasakannya: niatnya cuma mau merem 30 menit, eh kebablasan tiga jam. Pas bangun, bukannya segar, malah kerasa kayak habis dipukuli massa. Kepala nyut-nyutan, mata merah, dan mood jadi berantakan. Bukannya makin produktif, waktu yang tersisa menuju berbuka malah habis buat mengumpulkan nyawa yang tercecer.
Sisi Gelap Tidur Berlebihan: Produktivitas yang Terjun Bebas
Gaya hidup "rebahan garis keras" selama Ramadan ini sebenarnya bisa jadi jebakan batman. Bayangkan, dalam sebulan kita punya banyak waktu luang karena tidak perlu makan siang atau ngopi-ngopi cantik. Seharusnya, waktu ekstra ini bisa dipakai buat menyelesaikan pekerjaan lebih cepat atau mungkin membaca buku yang sudah berdebu di rak. Tapi kenyataannya? Kebanyakan dari kita malah memilih untuk "pingsan" secara sukarela di atas kasur.
Terlalu banyak tidur juga bikin metabolisme kita jadi makin lambat. Tubuh yang jarang bergerak akan merasa lebih cepat lelah meskipun tidak melakukan aktivitas fisik yang berat. Belum lagi efek psikologisnya. Kalau seharian cuma dihabiskan dengan tidur, otak kita jadi kurang terstimulasi. Akhirnya, daya fokus menurun, dan kreativitas jadi macet. Kita jadi gampang emosi atau "sumbu pendek" hanya karena masalah sepele, padahal katanya puasa itu melatih kesabaran. Ya gimana mau sabar, kalau bangun-bangun nyawa belum kumpul tapi sudah harus menghadapi kemacetan pulang kerja demi mengejar azan Maghrib?
Tips Biar Nggak Jadi 'Putri Tidur' Selama Ramadan
Terus, gimana caranya supaya tetap segar tanpa harus tidur kayak orang pingsan? Rahasianya ada pada kualitas, bukan kuantitas. Kalau memang butuh tidur di siang hari, cobalah teknik power nap. Cukup 15 sampai 20 menit saja. Durasi singkat ini sudah cukup buat me-recharge otak tanpa bikin kita masuk ke fase tidur dalam yang memicu sleep inertia tadi. Setel alarm, dan pastikan kamu benar-benar bangun saat alarm bunyi, jangan malah dipencet snooze berkali-kali.
Selain itu, perhatikan juga apa yang kamu makan saat sahur. Karbohidrat kompleks kayak nasi merah atau gandum, ditambah serat dari sayur dan buah, bakal melepas energi secara perlahan. Ini beda banget sama kalau kamu sahur cuma pakai mi instan dan nasi (duo maut karbo), yang bikin gula darah melonjak cepat tapi turunnya juga terjun payung. Penurunan gula darah yang drastis itulah yang bikin rasa kantuk datang menyerang dengan brutal di jam sepuluh pagi.
Jangan lupa juga buat tetap bergerak. Nggak perlu lari maraton, cukup jalan santai atau sekadar peregangan ringan di sela-sela jam kerja. Oksigen yang masuk ke otak lewat aktivitas fisik ringan bakal bikin kamu tetap melek. Percayalah, pemandangan di luar rumah atau interaksi sosial yang sehat jauh lebih baik daripada menatap langit-langit kamar sambil nunggu jam berbuka yang rasanya jalan di tempat.
Kesimpulan: Ibadah Itu Bergerak, Bukan Sekadar Merem
Ramadan itu momen spesial yang cuma datang setahun sekali. Sayang banget kalau dilewatkan begitu saja dengan menutup mata. Memang benar istirahat itu perlu, apalagi saat fisik sedang diuji dengan haus dan lapar. Tapi, jangan sampai dalil "tidur adalah ibadah" dijadikan pembenaran untuk menjadi malas dan tidak produktif. Ingat, esensi puasa adalah mengendalikan diri, termasuk mengendalikan keinginan untuk rebahan seharian.
Cobalah untuk lebih seimbang. Nikmati momen ngantukmu sebagai bagian dari perjuangan, tapi jangan biarkan kantuk itu menjajah seluruh harimu. Bangunlah, cari kegiatan yang bermanfaat, atau sekadar mengobrol dengan teman. Karena pada akhirnya, kenikmatan berbuka puasa akan terasa jauh lebih bermakna kalau kita tahu bahwa sepanjang hari tadi, kita sudah melakukan sesuatu yang berguna, bukan cuma sukses pindah alam lewat tidur yang berlebihan. Yuk, semangat puasanya, jangan sampai kalah sama bantal!
Next News

Bukan Sekadar Camilan, Tapi Sebuah Warisan Peradaban Ngemil
in 7 hours

Mengupas Sisi Psikologis dan Fakta Menarik Si Pecinta Warna Hitam
in 7 hours

Pemandian Air Panas Alami: Fenomena Sains Yang Menjadi Sumber Kesehatan
in 7 hours

Si Buah Nyentrik yang Lebih dari Sekadar 'Rambut' dan Manis
in 6 hours

Biji Salak, Plot Twist Kuliner yang Bikin Gagal Paham tapi Tetap Jadi Primadona
in 6 hours

Antara Bunga Tidur dan Ramalan
in 3 hours

Bukan Cuma Asap yang Lewat, Tapi Racun yang Mengendap
7 hours ago

Mitos atau Fakta: Dilema Mandi Tengah Malam bagi Kaum Budak Korporat
8 hours ago

Dari Jerman Hingga Jadi Minuman 'Paling Jujur' di Lidah Kita
8 hours ago

Ritual Dengerin Musik Sebelum Tidur: Antara Healing, Overthinking, dan Rahasia Tidur Nyenyak
8 hours ago





