Jumat, 20 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Bukan Cuma Asap yang Lewat, Tapi Racun yang Mengendap

Liaa - Friday, 20 February 2026 | 10:25 PM

Background
Bukan Cuma Asap yang Lewat, Tapi Racun yang Mengendap

Warisan Asap: Mengapa Kita Masih Sering "Ngebul" di Depan Anak-anak?

Bayangkan sebuah sore yang tenang di teras rumah atau di sebuah warung kopi pinggir jalan. Ada seorang bapak yang sedang asyik menyeruput kopi hitamnya sambil menjepit sebatang rokok di antara jari telunjuk dan jari tengah. Di pangkuannya, atau mungkin duduk tepat di sampingnya, ada seorang balita yang sedang asyik bermain mobil-mobilan. Si bapak mengembuskan asap putih tebal ke udara, yang kemudian menari-nari tertiup angin, sebelum akhirnya terhirup pelan-pelan oleh si kecil. Pemandangan ini sangat lazim di Indonesia, saking lazimnya sampai-sampai kita sering menganggapnya sebagai hal yang normal-normal saja.

Padahal, kalau kita mau jujur dan sedikit membuka mata, apa yang dilakukan si bapak tersebut bukan sekadar ritual "ngopi ganteng", melainkan sebuah tindakan yang secara perlahan merusak masa depan si bocah. Kita sering mendengar istilah perokok pasif, tapi entah kenapa, kesadaran kita soal betapa jahatnya asap rokok buat paru-paru mungil anak-anak masih sering kalah sama ego untuk tetap "ngebul".

Bukan Cuma Asap yang Lewat, Tapi Racun yang Mengendap

Banyak orang tua yang merasa sudah cukup bijak dengan cara meniupkan asap ke arah yang berlawanan dari posisi anak. "Ah, kan asapnya gue buang ke sana, nggak kena si dedek," begitu dalihnya. Masalahnya, udara itu nggak punya pembatas ruangan yang saklek. Asap rokok itu licin dan bandel. Begitu keluar dari ujung rokok atau dari mulut perokok, ia bakal menyebar ke mana-mana, termasuk ke area pernapasan anak yang sedang asyik bermain di dekat situ.

Anak-anak itu bukan miniatur orang dewasa. Mereka punya sistem pernapasan yang belum sempurna. Frekuensi napas mereka lebih cepat daripada kita. Artinya, dalam satu menit, anak-anak menghirup lebih banyak udara dibandingkan orang dewasa dengan berat badan yang sama. Jadi, kalau udara di sekitarnya sudah tercemar racun, jumlah racun yang masuk ke tubuh mereka pun jauh lebih banyak. Ibaratnya, kalau kita lagi makan di warteg yang penuh debu, si anak ini adalah orang yang makan paling lahap sambil menghirup debu paling banyak. Kasihan, kan?

Belum lagi soal third-hand smoke. Ini nih yang sering dilupakan. Walaupun kita merokok di luar rumah, residu racun dari rokok itu nempel di baju, di rambut, di kulit, bahkan di sofa rumah. Pas kita masuk rumah dan langsung gendong anak, zat-zat beracun itu pindah ke mereka. Jadi, meskipun nggak ada asap yang terlihat, racunnya tetap "setia" menemani interaksi kita dengan anak.



Daftar "Hadiah" Penyakit yang Tidak Diinginkan

Mari kita bicara soal dampak nyata yang sering kali baru terasa saat semuanya sudah terlambat. Anak-anak yang sering terpapar asap rokok punya tiket VIP untuk berbagai masalah kesehatan. Yang paling ringan mungkin cuma batuk-batuk atau sering pilek yang nggak sembuh-sembuh. Tapi kalau sudah bicara jangka panjang, risikonya ngeri-ngeri sedap.

Pertama, asma. Banyak anak yang terlahir sehat tanpa riwayat alergi tiba-tiba harus ketergantungan sama inhaler gara-gara lingkungan rumahnya penuh asap rokok. Asap ini jadi pemicu utama penyempitan saluran napas mereka. Kedua, infeksi telinga. Kedengarannya mungkin nggak nyambung, tapi asap rokok bisa menyebabkan peradangan di saluran menuju telinga tengah, yang bikin cairan menumpuk dan menyebabkan infeksi yang menyakitkan buat anak.

Yang lebih gawat lagi, paparan asap rokok sejak dini berkaitan erat dengan risiko stunting. Iya, stunting yang lagi ramai dibicarakan itu. Penelitian menunjukkan bahwa paparan asap rokok bisa mengganggu penyerapan nutrisi dalam tubuh anak. Jadi, mau dikasih susu mahal atau makanan bergizi sekalipun, kalau tiap hari paru-parunya dipaksa kerja keras menyaring racun, pertumbuhannya bakal terhambat. Kita sebagai orang dewasa sering kali sibuk menyalahkan pemerintah atau keadaan ekonomi, padahal bisa jadi penghambat pertumbuhan anak itu ada di ujung jemari kita sendiri.

Ego Orang Dewasa vs Hak Anak untuk Napas Segar

Ada sebuah paradoks menarik di masyarakat kita. Kita rela bekerja banting tulang, berangkat pagi pulang malam, demi bisa membelikan mainan bagus atau menyekolahkan anak di tempat terbaik. Kita bilang kita sayang anak lebih dari nyawa sendiri. Tapi di sisi lain, kita masih tega membakar batangan tembakau tepat di depan muka mereka. Ini kan ironis sekali.

Kalau boleh jujur, merokok di dekat anak adalah bentuk egoisme yang paling nyata. Kita mendahulukan kenikmatan sesaat dan kecanduan nikotin kita di atas hak dasar anak untuk mendapatkan udara bersih. Sering kali kita merasa tersinggung kalau diingatkan. "Anak gue aja santai, kok lu yang repot?" Kalimat defensif seperti ini sering muncul sebagai bentuk penyangkalan. Padahal, si anak nggak bisa protes. Mereka nggak punya pilihan selain menghirup apa pun yang ada di udara sekitar mereka.



Harusnya kita sadar bahwa anak-anak adalah peniru yang ulung. Saat kita merokok di depan mereka, kita sedang menanamkan sebuah pemikiran bahwa merokok adalah hal yang lumrah, keren, atau bahkan sebuah kebutuhan bagi orang dewasa. Jangan kaget kalau sepuluh atau lima belas tahun lagi, anak kita bakal memegang batang rokok yang sama dengan cara yang sama seperti kita sekarang. Kita sedang mewariskan kebiasaan buruk yang merusak kesehatan secara turun-temurun.

Memutus Rantai Asap

Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Berhenti merokok total memang ideal, tapi kita tahu itu bukan perkara mudah bagi semua orang. Namun, minimal kita bisa belajar untuk lebih tahu diri. Kalau memang belum bisa berhenti, jadilah perokok yang "bertanggung jawab". Jangan pernah merokok di dalam rumah, di dalam mobil, atau di tempat-tempat di mana ada anak-anak.

Ganti baju dan mandi setelah merokok sebelum menyentuh atau menggendong anak. Kedengarannya ribet? Memang. Tapi itu adalah harga kecil yang harus dibayar untuk menebus ego kita. Jangan sampai suatu saat nanti kita harus berdiri di lorong rumah sakit, melihat anak kita berjuang untuk sekadar mengambil napas, dan kita menyadari bahwa kitalah penyebab utamanya.

Investasi terbaik untuk anak bukan cuma soal asuransi pendidikan atau tabungan masa depan. Investasi terbaik adalah memberikan mereka tubuh yang sehat dan paru-paru yang bersih. Mari kita mulai dari hal paling sederhana: matikan rokokmu saat ada anak-anak di sekitarmu. Karena satu embusan asap yang kamu lepaskan, bisa jadi adalah beban napas seumur hidup bagi mereka. Jangan biarkan kasih sayang kita tertutup oleh tebalnya asap rokok.

Tags