Jumat, 20 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Ritual Dengerin Musik Sebelum Tidur: Antara Healing, Overthinking, dan Rahasia Tidur Nyenyak

Liaa - Friday, 20 February 2026 | 10:10 PM

Background
Ritual Dengerin Musik Sebelum Tidur: Antara Healing, Overthinking, dan Rahasia Tidur Nyenyak

Ritual Dengerin Musik Sebelum Tidur: Antara Healing, Overthinking, dan Rahasia Tidur Nyenyak

Bayangkan skenario ini: jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Lampu kamar sudah dimatikan, posisi tubuh sudah dalam keadaan rebahan yang paling maksimal nyamannya, tapi pikiran justru lagi liar-liarnya. Tiba-tiba kamu ingat cicilan yang belum lunas, omongan atasan yang tadi siang agak pedes, sampai memori memalukan pas zaman SMA dulu yang mendadak muncul tanpa diundang. Kalau sudah begini, memejamkan mata rasanya kayak nungguin antrean bansos: lama dan bikin frustrasi.

Di saat-saat kritis seperti inilah, tangan kita secara otomatis bakal meraba-raba nakas, mencari ponsel, dan membuka aplikasi streaming musik. Begitu earphone terpasang dan melodi favorit mulai mengalun, rasanya seperti ada dunia baru yang tercipta di sekitar bantal kita. Dengerin musik sebelum tidur itu bukan cuma sekadar kebiasaan, tapi sudah jadi semacam ritual sakral bagi banyak orang urban yang harinya penuh tekanan.

Kenapa Musik Bisa Jadi Obat Tidur Paling Manjur?

Secara sains—oke, jangan bosan dulu, ini sains yang ringan-ringan saja—musik punya kemampuan ajaib buat memengaruhi sistem saraf kita. Musik yang punya tempo lambat, sekitar 60 sampai 80 detak per menit (BPM), itu searah dengan detak jantung kita saat sedang santai. Saat kita dengerin lagu-lagu kayak gitu, tubuh kita seolah-olah dapet perintah: "Eh, santai bro, saatnya istirahat."

Menurut beberapa pengamat gaya hidup, musik bisa menurunkan kadar hormon kortisol alias hormon stres yang sering bikin kita terjaga. Sebagai gantinya, otak malah memproduksi dopamin yang bikin kita merasa tenang dan nyaman. Jadi, secara tidak langsung, dengerin musik itu kayak ngasih "puk-puk" virtual ke diri sendiri setelah seharian dihajar realita kehidupan yang kadang nggak masuk akal.

Selera Orang Memang Aneh-Aneh (dan Itu Sah Saja)

Nah, di sinilah letak uniknya. Kalau kita tanya orang satu-satu, "lo dengerin apa pas mau tidur?", jawabannya pasti bakal sangat beragam. Ada golongan yang setia sama genre lo-fi hip hop dengan visual estetik cewek lagi belajar di jendela. Ada juga kaum "klasik" yang butuh denting piano Mozart biar tidurnya berasa kayak bangsawan Eropa abad ke-18.



Tapi, jangan salah. Ada juga lho orang-orang yang justru bisa pules kalau dengerin lagu-lagu metal atau rock yang distorsinya pecah. Kedengarannya aneh? Mungkin bagi mereka, kebisingan musik itu justru berfungsi sebagai white noise yang bisa meredam kebisingan di dalam kepala mereka sendiri. Jadi, selera musik sebelum tidur itu nggak ada aturannya. Kalau kamu merasa tenang dengerin lagu galau padahal lagi nggak sedih, ya hajar saja. Musik galau itu seringkali punya frekuensi yang "deep" dan bikin kita ngerasa nggak sendirian di tengah malam yang sepi.

Jangan lupakan juga tren ASMR atau bunyi-bunyian alam. Suara hujan yang jatuh di atap seng, gemericik air sungai, sampai suara orang bisik-bisik sambil makan kerupuk, semuanya punya pasarnya masing-masing. Intinya, apa pun yang bisa bikin otak kamu "shut down" dari urusan duniawi, itulah playlist tidur terbaikmu.

Bahayanya "Earphone Tercekit" dan Masalah Teknis Lainnya

Meskipun kedengarannya indah, ritual dengerin musik sebelum tidur ini juga punya drama-dramanya sendiri. Salah satu masalah klasik bagi pengguna earphone kabel adalah risiko kabelnya melilit leher atau kabelnya putus sebelah gara-gara ketindihan badan pas kita lagi asyik mimpi indah. Bangun-bangun bukannya seger, malah emosi karena earphone mahal jadi rusak.

Bagi yang pakai TWS (True Wireless Stereo), dramanya beda lagi. Pernah nggak sih, pas bangun tidur, earphone sebelah kiri entah hilang ke mana? Cari-cari di kolong kasur sampai bongkar-bongkar sprei, eh taunya nyempil di dalam sarung bantal. Belum lagi urusan kesehatan telinga. Para ahli kesehatan sering mengingatkan kalau dengerin musik dengan volume kencang sepanjang malam itu nggak bagus buat pendengaran. Idealnya, pakai fitur sleep timer biar musiknya mati otomatis setelah 30 atau 60 menit. Jadi, pas kita sudah benar-benar terlelap, telinga kita juga bisa ikut istirahat total.

Antara Hiburan dan Pelarian

Dengerin musik sebelum tidur juga seringkali jadi momen refleksi diri yang jujur. Di saat itulah kita bener-bener punya waktu buat diri sendiri tanpa distraksi notifikasi WhatsApp kerjaan. Ada semacam hubungan emosional yang terbangun antara kita dan lagu yang kita putar. Kadang, satu baris lirik bisa terasa sangat personal, seolah pencipta lagunya tau banget apa yang lagi kita rasain.



Namun, kita juga harus hati-hati supaya nggak terjebak dalam lingkaran "sad boy" atau "sad girl" yang berlebihan. Niatnya mau tidur nyenyak, eh malah keterusan dengerin lagu sedih sampai subuh sambil menatap langit-langit kamar. Itu mah namanya bukan istirahat, tapi sesi curhat batin yang bikin mata sembap besok paginya. Keseimbangan itu kunci, kawan.

Kesimpulan: Temukan Iramamu

Pada akhirnya, kebiasaan dengerin musik sebelum tidur adalah cara paling murah dan mudah buat merawat kesehatan mental kita. Di dunia yang makin berisik dan serba cepat ini, memiliki waktu 30 menit saja untuk "hanyut" dalam melodi adalah sebuah kemewahan yang harus dijaga. Musik adalah jembatan antara hiruk-pikuk siang hari dan ketenangan malam.

Jadi, nanti malam sebelum tidur, coba deh luangkan waktu buat pilih satu album atau playlist yang benar-benar kamu suka. Matikan lampu, atur volume secukupnya, dan biarkan nada-nada itu membimbingmu ke gerbang mimpi. Entah itu lewat petikan gitar akustik yang lembut atau dentuman bass yang pelan, biarkan musik melakukan tugasnya untuk memeluk jiwamu yang lelah. Selamat tidur, jangan lupa pasang timer musiknya, ya!

Tags