Waspada, Stress Yang Tersembunyi
RAU - Saturday, 21 February 2026 | 10:00 AM


Banyak orang mengira stres hanya soal pikiran. Padahal, stres adalah respons biologis yang kompleks. Saat seseorang mengalami tekanan — baik emosional maupun fisik — tubuh melepaskan hormon seperti kortisol dan adrenalin melalui sistem hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA axis).
Menurut American Psychological Association, stres kronis yang berlangsung lama dapat mengganggu hampir seluruh sistem tubuh, mulai dari sistem kekebalan, pencernaan, hingga kardiovaskular.
1. Rambut Rontok Lebih Banyak dari Biasanya
Stres berat dapat memicu kondisi yang disebut telogen effluvium, yaitu fase ketika lebih banyak rambut masuk ke tahap istirahat dan akhirnya rontok.
Dermatolog Adam Friedman menjelaskan bahwa lonjakan hormon stres dapat mengganggu siklus pertumbuhan rambut normal, menyebabkan kerontokan beberapa bulan setelah periode stres terjadi.
2.Jerawat Dewasa yang Tak Kunjung Hilang
Kortisol yang tinggi meningkatkan produksi minyak (sebum) di kulit. Ini menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri penyebab jerawat.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology, terdapat hubungan signifikan antara tingkat stres dan keparahan jerawat pada orang dewasa.
3. Nyeri Leher, Bahu, dan Kepala
Stres membuat otot berkontraksi tanpa sadar. Jika berlangsung lama, muncullah ketegangan di area leher dan bahu, bahkan sakit kepala tipe tegang (tension headache).
Neurolog dari Cleveland Clinic menyebutkan bahwa stres emosional adalah salah satu pemicu utama sakit kepala tipe tegang yang paling umum terjadi pada orang dewasa.
4. Siklus Haid Berubah
Pada perempuan, stres kronis dapat memengaruhi keseimbangan hormon reproduksi. Kortisol yang tinggi bisa mengganggu produksi estrogen dan progesteron.
Penelitian dalam Harvard Medical School menyatakan bahwa tekanan psikologis berlebihan dapat menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur, bahkan berhenti sementara.
5. Mudah Lelah Meski Tidur Cukup
Tubuh yang terus-menerus berada dalam mode "siaga" karena stres akan menguras energi. Sistem saraf simpatik aktif terlalu lama, sehingga kualitas istirahat menurun walaupun durasi tidur terlihat cukup.
Ahli endokrinologi Robert Sapolsky menjelaskan bahwa stres kronis membuat tubuh terus memproduksi kortisol, dan dalam jangka panjang hal ini dapat mengganggu metabolisme serta daya tahan tubuh.
Mengapa Banyak Orang Tidak Menyadarinya?
Karena gejalanya terlihat "biasa". Rambut rontok dianggap karena sampo. Jerawat disalahkan pada makanan. Nyeri bahu dianggap kelelahan kerja. Padahal, bisa jadi tubuh sedang memberi sinyal bahwa ia terlalu lama menahan beban.
Stres bukan hanya soal perasaan sedih atau marah. Ia bisa diam, tetapi perlahan menggerogoti keseimbangan tubuh.
Apa yang Bisa Dilakukan?
•Tidur dengan jadwal konsisten
•Aktivitas fisik ringan seperti jalan kaki 30 menit
•Mengurangi paparan layar sebelum tidur
•Latihan pernapasan atau mindfulness
•Berkonsultasi ke tenaga kesehatan bila gejala menetap
Tubuh kita tidak pernah benar-benar berbohong. Ia hanya berbicara dengan bahasa yang berbeda.
Next News

Pilihan Mukena Yang Tepat Untuk Negara Tropis
13 hours ago

Melindungi kulit dari Matahari yang Kian Agresif
13 hours ago

Harimau Sumatra di Ambang Sunyi
13 hours ago

Benarkah 24 Jam Tak Lagi Sama?
13 hours ago

Cashless Society: Indonesia Menuju Masyarakat Tanpa Uang Tunai?
13 hours ago

Smart Home: Gaya Hidup Modern atau Kebutuhan Keluarga?
13 hours ago

Anak dan Gadget: Batas Wajar Berapa Jam Sehari?
13 hours ago

Menyesap Nostalgia Lewat Gulali Rambut Nenek
10 hours ago

Makin Keriput, Makin Manis
10 hours ago

Seni Memadukan Warna Outfit
10 hours ago





