Harimau Sumatra di Ambang Sunyi
RAU - Saturday, 21 February 2026 | 09:58 AM


Di hutan hujan Sumatra yang lebat dan lembap, masih tersisa jejak langkah pemangsa puncak yang semakin jarang terlihat: Harimau Sumatra.
Subspesies ini memiliki ukuran tubuh lebih kecil dibandingkan harimau Bengal atau Siberia, dengan loreng lebih rapat dan warna lebih gelap. Adaptasi ini membantu mereka menyelinap di antara vegetasi hutan tropis yang rapat.
Populasi yang Mengkhawatirkan
Menurut data dari World Wide Fund for Nature (WWF), populasi Harimau Sumatra di alam liar diperkirakan kurang dari 400 ekor.
Status konservasinya ditetapkan sebagai Critically Endangered oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Artinya, spesies ini berada pada risiko sangat tinggi untuk punah di alam liar.
Apa Penyebabnya?
Beberapa faktor utama penurunan populasi:
•Deforestasi untuk perkebunan dan pembukaan lahan
•Fragmentasi habitat
•Perburuan ilegal untuk perdagangan bagian tubuh
•Konflik manusia dan satwa
•Kerusakan habitat akibat bencana alam
Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah Sumatra mengalami berbagai bencana seperti banjir besar, kebakaran hutan, dan gempa bumi yang berdampak pada ekosistem hutan.
Bencana ini tidak secara langsung "menghilangkan" harimau dalam jumlah besar, tetapi merusak habitat, mengurangi ketersediaan mangsa, serta memaksa satwa liar keluar dari zona alaminya.
Menurut laporan konservasi World Wide Fund for Nature Indonesia, tekanan lingkungan yang bersifat kumulatif — termasuk perubahan iklim dan bencana — memperparah kondisi habitat yang sudah terfragmentasi.
Ketika hutan menyusut atau rusak, wilayah jelajah harimau ikut menyempit. Mereka terpaksa mendekati permukiman, memicu konflik yang sering kali berakhir tragis.
Peran Penting dalam Ekosistem
Sebagai predator puncak, Harimau Sumatra menjaga keseimbangan populasi herbivora seperti rusa dan babi hutan. Tanpa predator ini, ekosistem bisa mengalami ketidakseimbangan yang berdampak luas.
Keberadaan harimau sering disebut sebagai indikator kesehatan hutan tropis.
Jika harimau masih ada, berarti rantai makanan di hutan masih berjalan.
Upaya Konservasi
Pemerintah Indonesia bersama organisasi konservasi melakukan berbagai langkah:
•Patroli anti-perburuan
•Restorasi habitat pasca kebakaran hutan
•Edukasi masyarakat sekitar hutan
•Pemasangan kamera jebak untuk pemantauan populasi
Namun upaya ini membutuhkan dukungan berkelanjutan dan kesadaran publik.
Harimau Sumatra bukan sekadar satwa liar.
Ia adalah penjaga sunyi hutan tropis terakhir Indonesia.
Jika ia hilang, bukan hanya satu spesies yang punah—
tetapi satu bagian keseimbangan alam ikut runtuh.
Next News

Pilihan Mukena Yang Tepat Untuk Negara Tropis
13 hours ago

Melindungi kulit dari Matahari yang Kian Agresif
13 hours ago

Waspada, Stress Yang Tersembunyi
13 hours ago

Benarkah 24 Jam Tak Lagi Sama?
13 hours ago

Cashless Society: Indonesia Menuju Masyarakat Tanpa Uang Tunai?
13 hours ago

Smart Home: Gaya Hidup Modern atau Kebutuhan Keluarga?
13 hours ago

Anak dan Gadget: Batas Wajar Berapa Jam Sehari?
13 hours ago

Menyesap Nostalgia Lewat Gulali Rambut Nenek
10 hours ago

Makin Keriput, Makin Manis
10 hours ago

Seni Memadukan Warna Outfit
10 hours ago





