Benarkah 24 Jam Tak Lagi Sama?
RAU - Saturday, 21 February 2026 | 09:56 AM


Selama ini kita memahami satu hari sebagai 24 jam atau 86.400 detik.
Namun secara ilmiah, rotasi Bumi tidak sepenuhnya stabil. Ia berfluktuasi akibat berbagai faktor geofisika dan atmosfer.
Data dari International Earth Rotation and Reference Systems Service (IERS) menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Bumi mengalami beberapa hari yang lebih pendek dari 24 jam hingga sekitar 1 milidetik.
Sebagai contoh, pada 2022 tercatat salah satu hari terpendek sejak pengukuran presisi dilakukan menggunakan jam atom.
Apa Kata Ilmuwan?
Menurut Judah Levine, fisikawan waktu dari NIST (National Institute of Standards and Technology), perubahan ini memang kecil tetapi nyata dalam sistem pengukuran modern.
Ia menjelaskan bahwa:
"Perbedaan sepersekian detik mungkin tidak terasa bagi manusia, tetapi dalam sistem navigasi dan komunikasi global, presisi waktu sangat krusial."
Sementara itu, geofisikawan Richard Holme dari University of Liverpool menyebut bahwa percepatan rotasi bisa dipengaruhi oleh dinamika inti Bumi.
Menurutnya:
"Pergerakan cairan logam di inti luar Bumi dapat mengubah distribusi massa dan berdampak pada kecepatan rotasi planet."
Mengapa Rotasi Bisa Berubah?
Beberapa faktor yang memengaruhi rotasi Bumi antara lain:
•Pergerakan inti Bumi
•Perubahan distribusi massa akibat mencairnya es di kutub
•Variasi tekanan atmosfer dan arus laut
•Gempa bumi besar
•Interaksi gravitasi dengan Bulan
Secara jangka panjang, interaksi dengan Bulan justru memperlambat rotasi Bumi.
Namun dalam jangka pendek (tahun ke tahun), fluktuasi bisa membuat hari sedikit lebih cepat atau lebih lambat.
Apa Dampaknya?
Bagi kehidupan sehari-hari? Hampir tidak terasa.
Namun sistem seperti:
-Satelit GPS
-Transaksi perbankan global
-Sistem navigasi pesawat
-Jaringan internet,
bergantung pada sinkronisasi waktu berbasis jam atom.
Jika selisih antara rotasi Bumi dan waktu atom terlalu besar, ilmuwan biasanya menambahkan "leap second" (detik kabisat).
Menariknya, jika percepatan ini terus terjadi, dunia mungkin untuk pertama kalinya perlu mengurangi satu detik dari sistem waktu global — disebut negative leap second.
Ini menunjukkan bahwa bahkan konsep "24 jam sehari" ternyata bukan angka yang benar-benar mutlak.
Bumi terus bergerak, dan waktu yang kita anggap tetap pun sebenarnya dinamis.
Next News

Pilihan Mukena Yang Tepat Untuk Negara Tropis
13 hours ago

Melindungi kulit dari Matahari yang Kian Agresif
13 hours ago

Waspada, Stress Yang Tersembunyi
13 hours ago

Harimau Sumatra di Ambang Sunyi
13 hours ago

Cashless Society: Indonesia Menuju Masyarakat Tanpa Uang Tunai?
13 hours ago

Smart Home: Gaya Hidup Modern atau Kebutuhan Keluarga?
13 hours ago

Anak dan Gadget: Batas Wajar Berapa Jam Sehari?
13 hours ago

Menyesap Nostalgia Lewat Gulali Rambut Nenek
10 hours ago

Makin Keriput, Makin Manis
10 hours ago

Seni Memadukan Warna Outfit
10 hours ago





