Kamis, 19 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Si Buah Oranye yang Humble

Liaa - Thursday, 19 February 2026 | 08:10 AM

Background
Si Buah Oranye yang Humble

Bukan Cuma Buat Temen Jenguk Orang Sakit: Sisi Lain Jeruk yang Jarang Orang Tahu

Pernah nggak sih lo lagi bengong di depan tukang jus, terus tiba-tiba mikir, "Ini buah kok bisa-bisanya ada di mana-mana ya?" Mulai dari nasi kotak berkat, meja ruang tamu pas Lebaran, hampers Imlek, sampai jadi buah wajib kalau lagi jenguk orang sakit di RS. Jeruk itu kayak 'template' buah sejuta umat. Kalau lo bingung mau bawa buah apa, jeruk adalah jawaban paling aman yang nggak bakal diprotes siapa pun.

Tapi, di balik popularitasnya yang udah setingkat artis papan atas, jeruk punya banyak cerita yang lebih seru daripada sekadar kandungan vitamin C. Ada konspirasi sejarah, fakta botani yang bikin dahi berkerut, sampai urusan hoki yang dipercaya sebagian orang. Yuk, kita kupas tuntas buah orange ini—eh, tapi tahu nggak, mana yang duluan, warna oranye atau buah jeruk?

Mana Duluan: Warna Oranye atau Buah Jeruk?

Ini pertanyaan yang sering muncul pas lagi nongkrong nggak jelas. Fakta uniknya, nama warna "orange" dalam bahasa Inggris itu sebenarnya diambil dari nama buahnya, bukan sebaliknya. Sebelum jeruk diperkenalkan ke dunia Barat, orang-orang Eropa nggak punya kata khusus buat warna oranye. Mereka biasanya cuma nyebut warna itu sebagai "merah-kuning" atau geoluread dalam bahasa Inggris kuno.

Baru setelah buah jeruk (yang dibawa dari Asia) mulai populer di sana sekitar abad ke-16, mereka sadar kalau warna ini butuh identitas sendiri. Jadi, kalau ada yang nanya mana yang duluan, jawabannya jelas: buahnya dulu yang eksis, baru warnanya dapet nama. Bayangin kalau dulu namanya bukan jeruk, mungkin sekarang kita nyebut warna oranye itu warna "mangga" atau warna "wortel". Agak aneh, kan?

Jeruk Itu Ternyata Hasil "Kawin Silang" yang Rumit

Lo mungkin mikir kalau jeruk itu buah asli yang emang udah ada dari sononya sejak zaman purba. Ternyata, secara teknis, jeruk yang sering kita makan sekarang—kayak jeruk manis atau jeruk sunkist—itu adalah produk hibrida alias hasil persilangan. Para ahli botani nemu kalau hampir semua jenis jeruk komersial itu asalnya dari tiga "nenek moyang" utama: Pomelo (jeruk bali yang gede itu), Mandarin (yang kecil dan gampang dikupas), dan Citron (jeruk purut kuno).

Jeruk manis yang kita kenal sekarang adalah hasil "perselingkuhan" antara Pomelo dan Mandarin. Jadi, jeruk itu ibaratnya adalah anak blasteran yang sukses besar di pasaran. Silsilah keluarga mereka ini lebih ribet daripada plot sinetron di TV. Makanya, nggak heran kalau jenis jeruk itu banyak banget, ada yang kulitnya tebal, ada yang nggak punya biji, sampai ada yang dagingnya merah darah alias blood orange.

Mitos Vitamin C: Apakah Jeruk Emang Juaranya?

Nah, ini nih yang sering jadi alat marketing penjual suplemen. Tiap kali denger kata "jeruk", otak kita otomatis nge-link ke "Vitamin C". Memang bener sih, jeruk mengandung vitamin C yang cukup buat bikin imun kita nggak gampang ambruk. Tapi kalau dibilang paling tinggi? Hmm, nanti dulu.

Secara objektif, ada banyak buah lain yang kandungan vitamin C-nya jauh di atas jeruk. Jambu biji, misalnya, itu juara kelas yang sering diremehkan. Paprika merah dan kiwi juga punya vitamin C yang lebih nendang. Tapi ya itu tadi, branding jeruk sebagai ikon vitamin C udah kadung kuat banget. Jeruk itu kayak influencer yang udah punya nama besar; meskipun ada pendatang baru yang lebih hebat, orang tetep bakal nyari si jeruk buat urusan sariawan atau flu.

Simbol Keberuntungan dan "Hoki" yang Nggak Main-main

Kalau lo main ke rumah temen yang merayakan Imlek, lo pasti bakal nemu gunung jeruk di mana-mana. Ini bukan karena mereka lagi pengen jualan jus, tapi ada makna filosofisnya. Dalam bahasa Mandarin, kata untuk jeruk (chéng) bunyinya mirip dengan kata "sukses" atau "keberuntungan". Selain itu, warna oranye yang cerah dianggap mirip emas.

Jadi, menyajikan jeruk itu ibarat mendoakan tamu supaya dapet rezeki yang melimpah alias hoki terus. Memberi jeruk ke orang lain itu adalah gestur yang sangat sopan dan penuh doa baik. Makanya, kalau lagi Imlek, jeruk itu komoditas paling laku keras melampaui saham teknologi mana pun. Nggak cuma enak dimakan, tapi juga bikin hati (dan dompet) ngerasa lebih tenang lewat simbolismenya.

Mandi Pakai Jeruk? Beneran Ada Manfaatnya!

Bukan, ini bukan ritual mistis. Di Jepang, ada tradisi namanya Yuzu-yu, yaitu mandi air hangat yang dicampur buah jeruk Yuzu utuh saat titik balik matahari musim dingin. Katanya, aroma esensial dari kulit jeruk ini bisa bikin stres hilang, melancarkan peredaran darah, dan bikin kulit jadi halus.

Sebenernya secara logika masuk akal juga sih. Kulit jeruk itu mengandung minyak limonen yang punya efek aromaterapi. Jadi, kalau lo lagi capek habis lembur atau pusing ngerjain skripsi, coba deh beli jeruk, terus kulitnya lo remas-remas di deket hidung atau masukin ke air mandi. Wanginya yang seger bisa bikin mood naik lagi tanpa harus beli parfum mahal yang harganya jutaan itu.

Sisi Gelap: Kenapa Nggak Ada "Jus Jeruk" yang Rasanya Sama Persis sama Buahnya?

Pernah ngerasa nggak kalau jus jeruk kemasan di supermarket itu rasanya agak "sus" alias mencurigakan? Kok beda ya sama kalau kita meras jeruk sendiri di rumah? Ternyata, rahasianya ada di proses produksi massal. Jus jeruk yang dikemas itu biasanya diproses dengan cara ngilangin oksigen supaya bisa tahan lama berbulan-bulan. Masalahnya, pas oksigennya ilang, rasanya juga ikut ilang.

Biar tetep laku, pabrik biasanya nambahin yang namanya "flavor packs" atau perisa tambahan yang dibuat oleh perusahaan parfum. Jadi, rasa jeruk yang lo minum dari botol itu sebenarnya adalah "rekayasa rasa" supaya mirip sama jeruk asli. Itulah kenapa rasanya selalu konsisten, beda sama jeruk yang kita beli di pasar yang kadang manis banget, kadang asemnya minta ampun sampai bikin mata merem-melek.

Kesimpulan: Si Buah Oranye yang Humble

Pada akhirnya, jeruk itu lebih dari sekadar pelengkap di piring buah. Dia adalah sejarah yang bermigrasi dari Asia ke seluruh penjuru dunia, dia adalah simbol kemakmuran, dan dia adalah sahabat terbaik pas kita lagi merasa nggak enak badan. Meskipun dia bukan pemegang rekor vitamin C tertinggi, tapi jeruk punya tempat spesial di hati (dan lidah) hampir semua orang.

Jadi, lain kali kalau lo ngupas jeruk, coba perhatiin aromanya, nikmatin tekstur bulir-bulirnya, dan inget kalau lo lagi makan buah yang udah melewati ribuan tahun evolusi dan persilangan hanya untuk sampai ke tangan lo. Jangan lupa juga kulitnya jangan langsung dibuang kalau lo pengen dapet sensasi spa murah meriah di kamar mandi. Stay fresh, sobat jeruk!

Tags