Minggu, 15 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Marpangir: Ritual Menjelang Ramadan di Sumatra Utara

Liaa - Sunday, 15 February 2026 | 10:45 AM

Background
Marpangir: Ritual  Menjelang Ramadan di Sumatra Utara

Marpangir: Ritual Wangi Menjelang Ramadan yang Bikin Badan Segar dan Hati Tenang

Pernah nggak sih kalian ngerasa kalau bulan Ramadan itu punya aroma khas? Di beberapa daerah di Sumatera Utara, khususnya Medan dan sekitarnya, bau Ramadan itu bukan cuma bau kolak atau gorengan yang lagi digoreng pas sore-sore. Ada satu aroma yang lebih dulu menyapa hidung sebelum hilal terlihat: aroma jeruk purut, daun pandan, dan serai yang direbus jadi satu. Inilah aromanya tradisi Marpangir.

Buat anak-anak muda zaman sekarang yang mungkin lebih akrab dengan istilah "healing" atau "self-care" ke spa mahal, Marpangir ini sebenarnya adalah versi kearifan lokal dari ritual mandi kembang yang jauh lebih bermakna. Tradisi ini dilakukan masyarakat Sumatera Utara, terutama suku Melayu, Batak, dan Minang yang sudah menetap lama di sana, tepat satu hari sebelum puasa dimulai. Tujuannya simpel tapi dalem: membersihkan diri secara lahir dan batin supaya siap menyambut bulan suci dengan kondisi segar bugar.

Bukan Sekadar Mandi Biasa

Kalau kalian mikir Marpangir itu cuma sekadar guyur air ke badan, wah, kalian salah besar. Marpangir itu seni. Nama "Pangir" sendiri merujuk pada ramuan tradisional yang isinya macam-macam tanaman aromatik. Ada jeruk purut yang dibelah-belah, daun pandan yang diiris tipis, serai yang digeprek, akar wangi, sampai bunga-bungaan kayak mawar atau melati. Kadang ada juga yang nambahin daun nilam atau gaharu buat bikin aromanya makin "nendang".

Proses pembuatannya juga estetik banget kalau mau difoto buat konten TikTok. Semua bahan itu direbus sampai airnya berubah warna dan mengeluarkan aroma yang bikin rileks. Bayangin aja, seisi rumah bakal bau kayak tempat spa tradisional yang mahal. Setelah airnya hangat-hangat kuku, barulah air itu dipakai buat mandi. Rasanya? Wah, jangan ditanya. Capek-capek setelah seharian kerja atau beraktivitas langsung luntur. Badan jadi harum alami, nggak perlu pakai parfum yang alkoholnya kuat-kuat banget.

Ada sensasi dingin yang beda saat air perasan jeruk purut itu kena kulit. Rasanya kayak semua beban pikiran ikut luruh bareng air yang mengalir. Secara filosofis, Marpangir ini dianggap sebagai simbol membuang hal-hal buruk yang nempel di badan selama setahun ke belakang. Jadi, pas besoknya mulai sahur dan puasa, kita ngerasa benar-benar "baru" lagi.

Macatnya Nggak Ngotak, Tapi Tetap Dijalani

Salah satu fenomena unik dari Marpangir adalah lokasi mandinya. Walaupun sekarang banyak orang yang milih Marpangir di kamar mandi rumah masing-masing karena alasan praktis, tapi "vibes" yang paling mantap itu tetaplah Marpangir di sungai atau pemandian alam. Di Sumatera Utara, tempat-tempat kayak Sembahe atau aliran sungai di Langkat bakal penuh sesak pas H-1 Ramadan.

Jujur aja, kalau kalian ke sana pas hari Marpangir, siap-siap aja ngadepin kemacetan yang kadang bikin istigfar berkali-kali. Kendaraan bisa merayap pelan banget karena ribuan orang punya ide yang sama: nyebur ke sungai bareng keluarga. Tapi anehnya, nggak ada yang kapok. Ada semacam rasa kebersamaan yang hangat pas kita melihat satu keluarga besar duduk di pinggir sungai, bawa bekal rantangan, sambil gantian nyiram air pangir ke badan masing-masing.

Di situ kita bisa lihat kalau tradisi ini bukan cuma soal agama atau ritual pribadi, tapi juga soal mempererat silaturahmi. Sebelum besoknya sibuk dengan ibadah masing-masing, hari terakhir sebelum puasa dipakai buat kumpul dan seru-seruan bareng. Ini yang bikin Marpangir tetap bertahan meskipun zaman sudah serba digital.

Antara Tradisi dan Lifestyle Anak Skena

Menariknya, Marpangir sekarang nggak cuma dianggap sebagai "acaranya orang tua". Anak-anak muda sekarang mulai ngelihat tradisi ini sebagai sesuatu yang estetik dan perlu dilestarikan. Di pasar-pasar tradisional di Medan, pas mau Ramadan, penjual "paket pangir" itu laku keras. Satu ikat ramuan pangir biasanya dijual murah meriah, mulai dari lima ribu sampai sepuluh ribu rupiah aja. Murah banget kan buat dapet sensasi spa bintang lima?

Bahkan, ada beberapa brand lokal yang mulai melirik aroma pangir ini buat dijadiin produk sabun atau essential oil. Ini membuktikan kalau aroma tradisional itu punya daya tarik yang timeless. Buat anak muda yang tinggal di perantauan dan nggak bisa pulang buat Marpangir bareng keluarga, biasanya mereka bakal usaha nyari bahan-bahannya sendiri di pasar terdekat cuma buat dapetin "bau rumah" yang ikonik itu.

Secara nggak langsung, Marpangir ngajarin kita soal pentingnya persiapan mental. Puasa itu kan bukan cuma soal nahan lapar dan haus, tapi juga soal mengontrol emosi. Dengan mandi pangir, kita seolah-olah ngasih sinyal ke otak kita: "Eh, besok sudah masuk bulan suci nih, yuk tenangin diri dulu."

Tetap Relevan di Tengah Modernitas

Mungkin ada yang nanya, "Emang perlu ya mandi pakai tanaman-tanaman gitu? Kan sabun antiseptik sudah canggih?" Well, kalau kita cuma mikir soal kebersihan kuman, mungkin sabun biasa cukup. Tapi Marpangir itu soal rasa dan memori. Ada sesuatu yang nggak bisa digantikan oleh sabun cair manapun ketika aroma jeruk purut itu nempel di rambut dan kulit kita sampai besok paginya pas sahur pertama.

Tradisi ini adalah bukti kalau masyarakat kita punya cara yang sangat cantik buat menghargai alam dan waktu. Kita nggak cuma sekadar "masuk" ke bulan Ramadan, tapi kita "menyambutnya" dengan persiapan yang harum. Jadi, buat kalian yang belum pernah nyobain, coba deh sekali-kali cari ramuan pangir di pasar menjelang Ramadan nanti. Rasakan sensasi segarnya dan biarkan aromanya menenangkan saraf-saraf kalian yang tegang karena deadline kerjaan.

Marpangir adalah warisan yang lebih dari sekadar wangi-wangian. Ia adalah identitas, memori masa kecil tentang sungai yang dingin, dan pengingat bahwa untuk memulai sesuatu yang baik, kita harus memulainya dengan keadaan yang bersih dan hati yang lapang. Selamat menyambut Ramadan, dan jangan lupa Marpangir biar puasanya makin afdal dan badan makin segar!