Minggu, 15 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Ketika "Masuk Angin" Berubah Jadi Ancaman Nyawa

Liaa - Sunday, 15 February 2026 | 10:30 AM

Background
Ketika "Masuk Angin" Berubah Jadi Ancaman Nyawa

Jangan Anggap Remeh Angin Duduk: Ketika "Masuk Angin" Berubah Jadi Ancaman Nyawa

Pernah nggak sih kalian lagi asyik nongkrong di warkop sampai dini hari, atau lagi lembur ngejar deadline yang nggak ada habisnya, tiba-tiba dada terasa sesak? Biasanya, respons spontan kita atau teman sebelah adalah, "Ah, itu mah paling masuk angin doang, balurin minyak kayu putih juga beres." Atau yang lebih ekstrem lagi, langsung nyari koin buat kerokan sampai punggung merah merona mirip motif batik. Padahal, ada satu istilah yang sering sliweran di telinga kita tapi sering dianggap sepele: angin duduk.

Istilah "angin duduk" ini memang kedengarannya puitis sekaligus mistis di saat yang bersamaan. Seolah-olah ada angin yang lagi bertamu terus mutusin buat duduk santai di dalam dada kita. Tapi jujurly, di dunia medis, fenomena ini sama sekali nggak ada romantis-romantisnya. Angin duduk sebenarnya adalah istilah populer untuk Angina Pectoris. Dan kalau lo masih mikir ini bisa sembuh cuma dengan minum teh anget atau sendawa keras-keras, kayaknya kita perlu ngobrol lebih serius deh.

Bukan Sekadar Masuk Angin Biasa

Mari kita luruskan dulu biar nggak gagal paham. Angin duduk itu bukan disebabkan karena lo kebanyakan main Twitter sampai pagi di teras rumah tanpa jaket. Secara medis, angina terjadi karena otot jantung kita nggak mendapatkan pasokan darah yang kaya oksigen sesuai kebutuhan. Bayangin jantung lo itu kayak mesin mobil yang lagi dipaksa ngebut tapi bensinnya mampet. Mesinnya bakal panas, tersendat, dan akhirnya bisa mati total. Nah, rasa nyeri atau tekanan di dada itu adalah cara jantung lo teriak minta tolong.

Masalahnya, banyak orang Indonesia yang punya level "denial" cukup tinggi. Kita seringkali ngerasa sakti. Dada sesak dikit, bilangnya "ah paling asam lambung naik." Dada nyeri dikit, bilangnya "efek telat makan kali ya." Padahal, ciri khas angin duduk itu cukup spesifik. Rasanya kayak dada lo lagi diremas-remas, atau ada beban berat—kayak gajah lagi duduk—di atas dada lo. Nyerinya nggak cuma di satu titik, tapi bisa menjalar sampai ke leher, rahang, bahu, bahkan ke lengan kiri. Kalau udah begini, please banget, jangan cuma nyari balsem.

Kenapa Bisa Jadi Sangat Berbahaya?

Bahaya utama dari angin duduk adalah dia seringkali menjadi "trailer" atau peringatan sebelum film utamanya tayang, yaitu serangan jantung koroner. Kalau angin duduk yang muncul saat kita lagi aktivitas berat (angina stabil) mungkin masih bisa reda kalau kita istirahat. Tapi kalau nyerinya dateng tiba-tiba pas lo lagi rebahan atau lagi santai nonton Netflix (angina nggak stabil), itu tandanya alarm bahaya udah bunyi kencang banget. Ini adalah kondisi darurat medis yang kalau telat ditangani, risikonya ya cuma satu: lewat.

Ironisnya, banyak kasus kematian mendadak yang sering kita dengar dengan label "serangan jantung" sebenarnya berawal dari gejala angin duduk yang diabaikan. Kita sering terjebak dalam mitos kalau kerokan bisa ngeluarin anginnya. Padahal, gesekan koin ke kulit cuma memperlebar pembuluh darah di permukaan kulit yang emang bikin kita ngerasa nyaman sesaat, tapi nggak menyelesaikan masalah penyumbatan di pembuluh darah jantung. Yang ada, waktu emas (golden period) buat nyelamatin nyawa malah kebuang sia-sia cuma buat nyari koin seribuan.

Gaya Hidup Millennial dan Gen Z yang Menantang Maut

Dulu, penyakit jantung identik sama orang tua atau kakek-nenek kita. Tapi sekarang? Jangan salah. Dengan pola makan yang isinya gorengan tiap hari, kopi susu kekinian yang gulanya minta ampun, plus hobi begadang demi push rank atau maraton drakor, angin duduk nggak lagi mandang umur. Kaum rebahan yang jarang olahraga tapi hobi makan junk food adalah sasaran empuk. Stress di kantor atau tekanan hidup yang bikin kepala mau pecah juga ikut andil mempersempit pembuluh darah kita.

Gue sering ngelihat temen-temen seumuran yang kalau ditanya kapan terakhir olahraga, jawabannya adalah "tadi pas jalan dari parkiran ke lift." Sedih sih, tapi itulah realitanya. Kita sering ngerasa masih muda dan sehat-sehat aja, padahal di dalem tubuh kita, kolesterol udah numpuk kayak antrean bansos. Plak-plak kolesterol inilah yang bikin aliran darah ke jantung jadi terhambat, yang ujung-ujungnya memicu si angin duduk tadi.

Apa yang Harus Dilakukan Kalau "Si Angin" Datang Berkunjung?

Kalau lo atau orang di sekitar lo ngerasain gejala yang mengarah ke angin duduk, hal pertama yang harus dilakuin adalah: JANGAN PANIK. Tapi juga jangan terlalu santai. Kalau nyerinya muncul pas lagi aktivitas, segera berhenti dan duduk tenang. Jangan dipaksain buat lanjut jalan apalagi lari. Longgarkan pakaian, cari udara segar. Kalau nyerinya nggak ilang dalam waktu lima menit, atau malah makin parah sampai keringet dingin segede biji jagung keluar, nggak usah nunggu besok pagi. Langsung gas ke IGD rumah sakit terdekat.

Satu tips lagi yang sering dimention dokter: kalau emang lo punya riwayat atau risiko tinggi, biasanya dokter bakal kasih obat darurat yang ditaruh di bawah lidah. Tapi buat kita yang merasa sehat, pencegahan adalah kunci. Mulailah lebih peduli sama apa yang masuk ke mulut. Kurangin gorengan, perbanyak gerak (jalan kaki 30 menit sehari nggak bakal bikin lo pingsan kok), dan yang paling susah tapi penting: kelola stres. Hidup cuma sekali, jangan sampai berakhir cuma gara-gara kita terlalu cuek sama alarm yang udah dikasih sama tubuh sendiri.

Kesimpulannya, angin duduk itu bukan cuma masalah angin yang salah alamat. Ini adalah kode keras dari jantung lo kalau ada yang nggak beres di sana. Jangan biarkan istilah yang terdengar sepele ini bikin lo lengah. Lebih baik dianggap parno dan pergi ke dokter daripada nyesel belakangan. Karena di dunia medis, nggak ada istilah "angin yang numpang lewat" kalau urusannya udah sama jantung. Stay healthy, guys!

Tags