Permen dan Budaya "Gak Enak Kalau Nggak Manis"
Liaa - Sunday, 15 February 2026 | 09:00 AM


Dosa Manis di Balik Sebungkus Permen: Kenapa Kita Susah Berhenti?
Bayangin deh, kamu lagi duduk di depan laptop, kerjaan numpuk, deadline melambai-lambai dengan genitnya, dan kepala rasanya mau pecah. Secara refleks, tangan kamu ngerogoh laci meja, nemu sebungkus permen mint atau cokelat kecil, terus langsung diemut. Rasanya? Wah, surgawi. Ada sensasi "nyes" atau manis yang bikin otak seolah-olah dapet suntikan tenaga baru. Masalahnya, satu butir nggak pernah cukup. Habis satu, terbitlah dua, lalu tiga, sampai tanpa sadar bungkus permen sudah berserakan di meja kayak sampah confetti habis pesta.
Kebiasaan makan permen ini sebenarnya bukan hal baru. Dari zaman kita masih bocah ingusan yang hobi jajan di warung depan kompleks sampai sekarang sudah jadi budak korporat, permen selalu punya tempat spesial di kantong kita. Tapi, pernah nggak sih kamu mikir, kenapa benda sekecil itu bisa punya daya pikat yang sebegitu dahsyatnya? Dan yang lebih penting lagi, apa sih jadinya kalau "ritual" kecil ini keterusan sampai jadi hobi harian yang nggak terkontrol?
Sugar Rush yang Menipu
Secara ilmiah—tapi jangan dibayangin kayak buku teks sekolah yang ngebosenin ya—permen itu isinya mayoritas gula sederhana. Begitu kamu makan, gula darah langsung melonjak drastis. Inilah yang orang-orang sebut sebagai "sugar rush". Otak kita bakal ngelepasin dopamin, zat kimia yang bikin kita merasa senang, rileks, dan dapet reward. Makanya, nggak heran kalau permen sering jadi pelarian saat kita lagi stres atau suntuk. Gula itu kayak pelukan hangat di tengah badai revisi dari atasan.
Tapi masalahnya, kebahagiaan itu cuma semu. Setelah lonjakan gula yang tinggi, tubuh kita bakal memproduksi insulin secara besar-besaran buat menormalkan keadaan. Hasilnya? Kadar gula darah bakal anjlok drastis alias "sugar crash". Di titik ini, kamu bakal merasa lebih lemes, gampang marah (cranky), dan ujung-ujungnya... malah pengen makan permen lagi buat naikin mood. Siklus ini terus berulang sampai akhirnya kamu terjebak dalam lingkaran setan kecanduan gula. Jadi, jangan heran kalau sore-sore kamu ngerasa kayak zombie yang nggak punya energi padahal tadi udah ngemil manis-manis seharian.
Bukan Cuma Masalah Gigi Bolong
Dari kecil, kita selalu ditakut-takuti kalau makan permen bikin gigi bolong. "Nanti giginya dimakan ulat," kata orang tua kita dulu. Jujur aja, itu benar banget. Bakteri di mulut kita itu paling doyan sama sisa-sisa gula yang nempel di sela gigi. Mereka bakal berpesta pora, ngasilin asam yang perlahan tapi pasti bakal ngerusak lapisan enamel gigi. Ujung-ujungnya? Ya sakit gigi yang bikin nangis guling-guling itu.
Tapi, dampak terlalu sering makan permen nggak cuma berhenti di dokter gigi. Kalau kita ngomongin dampak jangka panjang, ceritanya bakal lebih horor. Gula berlebih yang masuk ke tubuh bakal disimpan jadi cadangan lemak. Jadi, kalau kamu ngerasa perut makin "offside" atau pipi makin tembam padahal makannya sedikit, coba cek berapa banyak permen yang kamu konsumsi setiap hari. Kalori dari permen itu sering disebut sebagai "empty calories"—kalorinya ada dan tinggi, tapi nutrisinya nol besar.
Selain itu, konsumsi gula berlebih dalam jangka waktu lama bisa memicu resistensi insulin yang merupakan pintu masuk menuju diabetes tipe 2. Belum lagi soal kesehatan kulit. Banyak penelitian bilang kalau gula berlebih bisa bikin proses peradangan di tubuh makin parah, yang efeknya bisa kelihatan di wajah dalam bentuk jerawat yang nggak kelar-kelar atau kulit yang kelihatan lebih kusam. Jadi, kalau skincare mahalmu nggak mempan, mungkin masalahnya bukan di krimnya, tapi di kantong permenmu.
Permen dan Budaya "Gak Enak Kalau Nggak Manis"
Di Indonesia sendiri, kita punya semacam "budaya manis". Minum teh harus manis, makan makanan utama harus ada kecapnya, dan camilan pun didominasi rasa manis. Permen seringkali dianggap sebagai hal sepele karena ukurannya yang kecil. Kita sering mikir, "Ah, cuma satu butir ini kok, nggak bakal kenapa-napa." Tapi kalau satu butir itu terjadi tiap jam, ya sama saja bohong.
Coba perhatikan deh di meja-meja resepsionis kantor, di dashboard mobil, atau di tas temanmu. Pasti ada permen. Permen sudah jadi komoditas sosial. Kita sering nawarin permen ke orang lain buat basa-basi atau sekadar biar napas segar habis makan siang. Nggak ada yang salah dengan itu, asalkan kita sadar batasannya. Masalah muncul ketika kita mulai menggunakan permen sebagai alat coping mekanisme utama untuk ngadepin perasaan negatif kayak bosen, cemas, atau sedih.
Gimana Caranya Biar Nggak Kebergantungan?
Terus, apa kita harus berhenti total makan permen dan hidup kayak pertapa yang antipati sama gula? Ya nggak juga. Hidup tanpa rasa manis itu hambar, kawan. Kuncinya ada di moderasi dan kesadaran alias mindfulness.
Pertama, coba deh ganti jenis permennya. Kalau biasanya makan permen yang isinya cuma gula dan pewarna, coba cari permen yang bebas gula (sugar-free) atau yang mengandung xylitol yang justru bagus buat gigi. Atau kalau emang pengen yang manis-manis, ganti camilanmu dengan buah-buahan segar. Serat di buah bakal bikin penyerapan gula lebih lambat, jadi nggak ada tuh ceritanya sugar crash yang bikin lemes.
Kedua, minum air putih yang banyak. Seringkali otak kita salah ngartiin rasa haus sebagai rasa lapar atau pengen ngemil. Begitu kamu merasa pengen banget makan permen, coba minum segelas air putih dulu. Biasanya keinginan itu bakal luruh dengan sendirinya.
Ketiga, jangan stok permen di tempat yang gampang dijangkau. Kalau permennya ada di depan mata, tangan kita bakal bergerak secara otomatis. Tapi kalau kamu harus jalan dulu ke dapur atau beli ke minimarket buat dapet permen, rasa malas biasanya bakal menang dan kamu pun batal makan permen.
Kesimpulan: Nikmati, Jangan Terobsesi
Permen itu ibarat bumbu kehidupan—enak dinikmati sekali-kali, tapi bakal merusak kalau dijadikan menu utama. Nggak ada salahnya kok sesekali ngerasain manisnya permen favorit buat ngerayain kemenangan kecil atau sekadar penghilang kantuk pas rapat sore. Yang jadi masalah adalah ketika kita nggak bisa fungsi secara normal tanpa asupan gula tersebut.
Jadi, mulai sekarang, yuk lebih bijak sama apa yang masuk ke mulut kita. Jangan sampai kesenangan sesaat di lidah malah jadi beban berkepanjangan buat kesehatan di masa depan. Ingat, tubuhmu itu investasi jangka panjang, sementara permen itu cuma tren sesaat di rongga mulut. Tetap manis boleh, tapi jangan sampai kemanisan ya!
Next News

Ati Ampela: Antara Tekstur yang Melawan dan Kenikmatan yang Sering Dicibir
in 7 hours

Seni Menikmati Ceker Ayam
in 7 hours

Ritual Mani-Pedi: Bukan Cuma Soal Kuku Cantik, Tapi Soal Menjaga Kewarasan
in 7 hours

Benarkah Rambut Lebih Banyak Rontok Saat Stres?
in 6 hours

Benarkah Skip Sarapan Bisa Membuat Berat Badan Turun?
in 6 hours

Kenapa Kita Menguap Saat Melihat Orang Lain Menguap?
in 6 hours

Filosofi Daun yang Ogah Basah
in 6 hours

Marpangir: Ritual Menjelang Ramadan di Sumatra Utara
in 6 hours

Ketika "Masuk Angin" Berubah Jadi Ancaman Nyawa
in 5 hours

Manggis: Si Ratu Buah yang Nggak Cuma Manis, Tapi Juga Paling 'Jujur' se-Indonesia
7 hours ago





