Filosofi Daun yang Ogah Basah
Liaa - Sunday, 15 February 2026 | 11:15 AM


Talas: Bukan Sekadar Oleh-oleh Bogor, Tapi Sahabat Setia Perut yang Sering Dilupakan
Kalau kita bicara soal talas, pikiran sebagian besar orang Indonesia pasti langsung "terbang" ke Bogor. Bayangan kita nggak jauh-jauh dari tumpukan umbi berwarna kecokelatan yang dijajakan di pinggir jalan raya menuju Puncak, atau mungkin Lapis Bogor yang sempat viral dan jadi primadona oleh-oleh itu. Padahal, kalau mau jujur, hubungan kita dengan tumbuhan bernama latin Colocasia esculenta ini sebenarnya jauh lebih dalam dan emosional daripada sekadar urusan oleh-oleh akhir pekan.
Talas itu ibarat teman lama yang selalu ada tapi jarang kita apresiasi keberadaannya. Dia bukan "superfood" yang harganya selangit dan cuma ada di rak supermarket premium. Talas adalah tanaman rakyat. Dia bisa tumbuh di mana saja, mulai dari pinggiran parit, lahan tidur di belakang rumah, sampai perkebunan yang dikelola serius. Tapi, jangan salah sangka, di balik penampilannya yang bersahaja dan kadang "berlumur lumpur", talas menyimpan sejuta cerita, rasa, dan tentu saja sensasi gatal yang ikonik.
Filosofi Daun yang Ogah Basah
Sebelum kita bahas betapa enaknya talas saat sudah jadi gorengan, kita harus memberikan penghormatan pada daunnya. Siapa sih yang nggak tahu peribahasa "Bagai air di atas daun talas"? Ini adalah salah satu peribahasa paling legendaris yang kita pelajari sejak SD. Secara ilmiah, daun talas punya lapisan lilin (kutikula) yang super hidrofobik. Air nggak bakalan mau nempel, cuma numpang lewat dan membentuk butiran-butiran cantik.
Tapi secara filosofis, daun talas ini sering banget jadi kambing hitam buat orang yang nggak punya pendirian. Padahal kalau dipikir-pikir, jadi daun talas itu keren, lho. Dia punya "boundaries" yang kuat. Dia nggak gampang terpengaruh sama lingkungan luar yang mungkin bakal membasahi atau merusak jati dirinya. Mungkin kita perlu belajar sedikit dari daun talas: tetap tegak meski disiram air berkali-kali.
Drama Gatal dan Rahasia di Balik Dapur
Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang bikin orang agak "ngeri-ngeri sedap" sama talas: rasa gatalnya. Pernah nggak sih kalian makan talas, atau mungkin sayur lompong (batang talas), terus tiba-tiba tenggorokan rasanya kayak ditusuk-tusuk ribuan jarum tak kasat mata? Kalau iya, selamat, kalian baru saja berkenalan dengan kalsium oksalat.
Tumbuhan talas itu sebenarnya defensif. Dia nggak mau dimakan begitu saja sama predator. Kristal kalsium oksalat yang bentuknya mirip jarum ini adalah senjatanya. Tapi manusia memang makhluk yang paling keras kepala sekaligus kreatif. Kita nggak menyerah gitu aja. Para sesepuh kita sudah punya "hack" turun-temurun buat menaklukkan rasa gatal ini. Ada yang bilang talas harus dijemur dulu, ada yang bilang harus direndam air garam, atau yang paling simpel: jangan pernah menyentuh talas sebelum tangannya diolesi minyak atau garam.
Mengolah talas itu butuh kesabaran dan kasih sayang. Kalau kita asal potong dan langsung masak, ya siap-siap saja garuk-garuk tenggorokan sepanjang hari. Ini semacam pengingat bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang manis dan empuk, kita harus melewati proses yang sedikit "berisiko".
Dari Sayur Lompong Hingga Taro Latte yang Estetik
Zaman sekarang, talas sudah mengalami "upgrade" status sosial. Kalau dulu talas cuma dianggap sebagai makanan kampung atau pengganti nasi di kala susah, sekarang talas—atau yang lebih keren disebut "Taro"—sudah naik kelas ke kafe-kafe hits. Warna ungu yang cantik (meskipun sebenarnya nggak semua jenis talas itu ungu banget) jadi komoditas yang laku keras di Instagram.
Ada paradoks yang lucu di sini. Anak muda zaman sekarang mungkin bakal antre panjang demi segelas Taro Latte yang manis dan berwarna ungu neon, tapi mereka mungkin bakal mengernyitkan dahi kalau disuguhi Sayur Lompong buatan neneknya di rumah. Padahal, lompong atau batang talas yang dimasak santan pedas itu adalah salah satu "soul food" terbaik yang pernah diciptakan peradaban manusia. Teksturnya yang lembut dan kemampuannya menyerap kuah santan bikin lompong jadi juara di meja makan, asal masaknya bener dan nggak gatal tadi.
Jangan lupakan juga talas goreng yang dipotong korek api, lalu dibalut tepung dan digoreng garing. Di beberapa daerah, ini disebut "Uyen" atau keladi goreng. Dicocol sambal cuka yang asam manis pedas, rasanya bisa bikin lupa kalau kita lagi diet karbohidrat.
Pahlawan Ketahanan Pangan yang Tersembunyi
Di luar urusan rasa dan tren, talas punya peran yang sangat serius: sebagai penyelamat urusan perut di masa depan. Kita semua tahu kalau ketergantungan kita sama nasi itu sudah di tahap yang agak mengkhawatirkan. Nah, talas ini adalah kandidat kuat sebagai sumber karbohidrat alternatif yang lebih sehat.
Talas punya indeks glikemik yang lebih rendah dibanding nasi putih. Artinya, energi yang dilepaskan ke tubuh itu pelan-pelan, nggak bikin gula darah langsung melonjak drastis. Buat yang pengen diet tapi tetap pengen kenyang, talas adalah solusinya. Selain itu, talas juga kaya serat. Jadi, urusan ke belakang pun bakal lebih lancar jaya.
Hebatnya lagi, talas itu tanaman yang "bandel". Dia nggak butuh perawatan ekstra manja kayak tanaman impor. Di Indonesia, talas tumbuh subur dari ujung Aceh sampai Papua. Di Papua sendiri, talas adalah salah satu makanan pokok yang sangat dihargai. Ini membuktikan bahwa talas adalah bagian dari identitas Nusantara yang sebenarnya sangat kuat kalau kita mau meliriknya sedikit lebih lama.
Menghargai si Umbi Rendah Hati
Jadi, lewat tulisan ini, mari kita berikan apresiasi yang layak buat tumbuhan talas. Dia bukan cuma sekadar bahan keripik atau teman minum kopi di sore hari. Talas adalah simbol ketahanan, kreativitas kuliner, dan juga kesehatan yang tersembunyi di balik kulitnya yang kasar dan berambut.
Mungkin mulai besok, saat kita nongkrong di kafe dan memesan minuman rasa taro, kita bisa sedikit mengenang batang lompong di pinggir kali atau uap hangat dari talas kukus di dapur ibu. Tumbuhan ini mengajarkan kita bahwa sesuatu yang terlihat "berbahaya" (karena gatalnya) bisa menjadi sangat nikmat jika kita tahu cara memperlakukannya dengan benar.
Talas adalah bukti nyata bahwa kekayaan alam kita nggak melulu soal tambang atau sawit, tapi juga soal umbi-umbian sederhana yang sudah ribuan tahun menemani nenek moyang kita bertahan hidup. Jadi, kapan terakhir kali kamu makan talas yang benar-benar talas, bukan cuma perasanya doang?
Next News

Olahan Daun Ubi yang Menggugah Selera
in 6 hours

Fakta Menarik dari Si Buah Kiwi
in 5 hours

Ati Ampela: Antara Tekstur yang Melawan dan Kenikmatan yang Sering Dicibir
in 5 hours

Seni Menikmati Ceker Ayam
in 5 hours

Ritual Mani-Pedi: Bukan Cuma Soal Kuku Cantik, Tapi Soal Menjaga Kewarasan
in 5 hours

Benarkah Rambut Lebih Banyak Rontok Saat Stres?
in 5 hours

Benarkah Skip Sarapan Bisa Membuat Berat Badan Turun?
in 5 hours

Kenapa Kita Menguap Saat Melihat Orang Lain Menguap?
in 5 hours

Marpangir: Ritual Menjelang Ramadan di Sumatra Utara
in 4 hours

Ketika "Masuk Angin" Berubah Jadi Ancaman Nyawa
in 4 hours





