Ati Ampela: Antara Tekstur yang Melawan dan Kenikmatan yang Sering Dicibir
Liaa - Sunday, 15 February 2026 | 12:00 PM


Ati Ampela: Antara Tekstur yang Melawan dan Kenikmatan yang Sering Dicibir
Pernahkah kalian duduk manis di sebuah tenda Pecel Lele pinggir jalan, lalu di tengah riuhnya kepulan asap penggorengan, kalian berteriak kepada si abang, "Bang, tambahin ati ampela gorengnya satu, ya! Yang kering!" Kalau iya, selamat, kita berada di satu sirkuit frekuensi yang sama. Di dunia kuliner Indonesia, ati ampela ayam adalah entitas yang unik. Dia tidak se-glamor paha atas atau sedada ayam yang sering dipuja-puja kaum gym goers, tapi eksistensinya di piring nasi uduk atau nasi kuning adalah sebuah keharusan yang hakiki.
Secara teknis, ati ampela adalah bagian jeroan. Dan bicara soal jeroan, opini publik biasanya terbelah jadi dua kubu yang ekstrem. Kubu pertama adalah mereka yang menganggap jeroan sebagai "harta karun" rasa, sementara kubu kedua adalah mereka yang langsung merasa pusing atau mual hanya dengan membayangkan tekstur organ dalam. Namun, ati ampela punya kasta yang sedikit berbeda dari usus atau babat. Dia terasa lebih "ramah" dan punya karakter yang kontradiktif namun saling melengkapi dalam satu tusuk sate.
Dua Kepribadian dalam Satu Piring
Mari kita bedah anatomi rasa ini. Pertama, ada ati (hati). Teksturnya lembut, creamy, tapi punya aftertaste sedikit pahit yang elegan—kalau masaknya benar. Ati ayam adalah bagian yang sering kali "berpasir" kalau terlalu matang, tapi justru di situlah seninya. Ada rasa gurih yang mendalam yang tidak bisa diberikan oleh daging dada ayam yang terkadang terasa hambar dan membosankan. Ati adalah tentang kelembutan yang pasrah saat digigit.
Lalu, ada ampela. Ini adalah lawan kata dari ati. Ampela itu keras, kenyal, dan punya tekstur yang "melawan" saat dikunyah. Kalau kalian suka sensasi crunchy yang bukan berasal dari tepung gorengan, ampela adalah jawabannya. Menghadapi ampela itu butuh usaha ekstra dari rahang kita. Ada kepuasan tersendiri saat berhasil menaklukkan kenyalnya ampela yang sudah dibumbui kuning (ungkep) dan digoreng sampai kecokelatan. Kombinasi keduanya dalam satu suapan adalah sebuah harmoni; lembutnya ati bertemu dengan perlawanan si ampela. Benar-benar sebuah dinamika hubungan yang sehat, bukan?
Bukan Sekadar Teman Nasi, tapi Warisan Tradisi
Coba deh perhatikan setiap kali ada hajatan atau momen Lebaran. Apa menu yang hampir selalu nangkring di samping ketupat? Ya, Sambal Goreng Ati Ampela. Di sini, posisi ati ampela naik kelas. Dia dipotong dadu kecil-kecil, dimasak dengan santan, cabai yang melimpah, dan sering kali ditemani oleh potongan kentang goreng atau petai. Di sini, rasa pahit tipis dari ati justru menjadi penyeimbang rasa pedas dan gurih dari santan.
Tanpa keberadaan potongan ati ampela ini, sambal goreng kentang bakal terasa sepi. Ibarat band tanpa pemain bass, suaranya ada, tapi kurang nendang. Ati ampela memberikan kedalaman rasa (depth of flavor) yang membuat hidangan tersebut terasa lebih "mahal" dan komplit. Tidak heran kalau di meja makan, bagian ini sering kali jadi rebutan duluan sebelum ayam gorengnya disentuh.
Risiko vs Kenikmatan: Debat Klasik Kolesterol
Tentu saja, kita tidak bisa membicarakan ati ampela tanpa membicarakan "peringatan" dari orang tua atau dokter. "Jangan banyak-banyak, nanti kolesterol naik!" adalah kalimat yang sering menghantui saat kita hendak mengambil tusuk ketiga sate ati ampela di angkringan. Memang benar, secara gizi, ati ampela itu tinggi protein dan zat besi. Sangat bagus untuk mereka yang punya masalah anemia atau butuh asupan Vitamin A yang tinggi.
Namun, di sisi lain, kandungan kolesterol dan purinnya memang tidak main-main. Tapi ya, itulah hidup. Sesuatu yang nikmat biasanya memang datang dengan risiko. Tinggal pintar-pintarnya kita saja. Kalau hari ini sudah makan ati ampela goreng dua porsi, ya besoknya jangan lupa makan sayuran hijau dan banyak minum air putih. Hidup itu soal keseimbangan, gaes, bukan soal melarang diri sendiri menikmati sate jeroan yang bumbunya meresap sampai ke sanubari.
Seni Membersihkan: Kunci Utama yang Sering Terlewat
Satu hal yang membuat orang benci ati ampela biasanya adalah bau amis atau rasa yang "tanah" banget. Nah, ini biasanya salah di proses pengolahan. Mengolah ati ampela itu ada seninya. Ampela harus dibersihkan dari lapisan kuningnya yang keras dan sisa-sisa kotoran di dalamnya. Kalau tidak bersih, ya siap-siap saja indra perasa kalian protes.
Tips dari para tetua kuliner biasanya melibatkan jeruk nipis, jahe, dan daun salam yang melimpah saat proses perebusan atau ungkep. Ati juga tidak boleh dimasak terlalu lama dalam suhu tinggi yang ekstrem kalau tidak mau teksturnya jadi seperti karet sandal jepit. Dengan bumbu ungkep kuning yang kaya akan kunyit, lengkuas, dan ketumbar, bau amis itu akan hilang, berganti dengan aroma rempah yang membangkitkan selera.
Kesimpulan: Si Murah yang Berharga
Ati ampela mungkin adalah bagian ayam yang harganya paling terjangkau di pasar. Dengan modal beberapa ribu perak, kita sudah bisa dapat satu set organ yang kaya rasa ini. Dia adalah pahlawan bagi anak kos yang ingin protein enak tapi dompet sedang menangis. Dia adalah primadona di warteg, teman setia di angkringan, dan pelengkap wajib di meja pesta.
Jadi, buat kalian yang selama ini masih ragu atau bahkan memandang sebelah mata pada ati ampela, coba deh sesekali beri dia kesempatan kedua. Cari tempat makan yang terkenal dengan olahan jeroan bersih, pesan yang digoreng garing dengan taburan kremesan atau bumbu lengkuas. Rasakan sensasi "melawan" dari ampela dan "meleleh" dari ati. Siapa tahu, kalian yang tadinya benci malah jadi garda terdepan pembela jeroan ayam ini. Karena pada akhirnya, kenikmatan kuliner itu tidak selalu soal daging premium, tapi soal bagaimana bagian yang "terbuang" bisa diolah menjadi sesuatu yang sangat berkesan di lidah.
Next News

Olahan Daun Ubi yang Menggugah Selera
in 6 hours

Fakta Menarik dari Si Buah Kiwi
in 5 hours

Seni Menikmati Ceker Ayam
in 5 hours

Ritual Mani-Pedi: Bukan Cuma Soal Kuku Cantik, Tapi Soal Menjaga Kewarasan
in 5 hours

Benarkah Rambut Lebih Banyak Rontok Saat Stres?
in 5 hours

Benarkah Skip Sarapan Bisa Membuat Berat Badan Turun?
in 5 hours

Kenapa Kita Menguap Saat Melihat Orang Lain Menguap?
in 5 hours

Filosofi Daun yang Ogah Basah
in 5 hours

Marpangir: Ritual Menjelang Ramadan di Sumatra Utara
in 4 hours

Ketika "Masuk Angin" Berubah Jadi Ancaman Nyawa
in 4 hours





