Minggu, 15 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Olahan Daun Ubi yang Menggugah Selera

Liaa - Sunday, 15 February 2026 | 12:35 PM

Background
Olahan Daun Ubi yang Menggugah Selera

Menyingkap Rahasia Daun Ubi: Dari Sayur Pinggiran Jadi Primadona Meja Makan

Pernahkah kalian merasa kalau dunia kuliner modern itu kadang terlalu berisik? Setiap hari kita dibombardir sama tren makanan yang namanya susah dieja, mulai dari souffle pancake yang goyang-goyang sampai kopi susu literan yang kafeinnya bikin jantung berdebar kencang. Di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu pahlawan tanpa tanda jasa yang sering luput dari perhatian kita di rak supermarket atau di tukang sayur keliling: daun ubi jalar.

Sejujurnya, kalau disuruh memilih antara kale yang harganya bikin kantong bolong atau daun ubi yang seikat cuma lima ribu perak, banyak anak muda sekarang mungkin bakal pilih kale demi estetika Instagram. Padahal, kalau kita bicara soal rasa dan tekstur, daun ubi itu nggak ada obatnya. Ini bukan sekadar sayuran pelengkap, melainkan sebuah simbol kenyamanan atau yang kerennya disebut comfort food bagi banyak orang di Indonesia.

Kenapa Harus Daun Ubi?

Bagi sebagian orang, daun ubi mungkin dianggap sebagai "makanan rakyat" yang kurang prestisius. Tapi hey, mari kita luruskan satu hal: kemewahan itu nggak selalu soal harga, tapi soal rasa yang bisa bikin kita nambah nasi dua kali. Daun ubi punya tekstur yang unik. Kalau dimasak dengan benar, dia punya keseimbangan antara lembut dan sedikit renyah di bagian batangnya. Berbeda dengan daun singkong yang kadang agak keras kalau nggak direbus lama, daun ubi lebih cepat lunak dan punya rasa manis alami yang subtle.

Selain itu, bicara soal kandungan gizi, daun ubi ini sebenarnya adalah superfood lokal yang tersembunyi. Dia kaya akan vitamin A, C, dan serat. Jadi, buat kalian yang merasa gaya hidupnya sudah terlalu banyak mengonsumsi gorengan dan kopi instan, memasukkan olahan daun ubi ke dalam menu mingguan adalah sebuah keputusan yang sangat dewasa dan bertanggung jawab.

Olahan yang Bikin Nafsu Makan Meroket

Mari kita bedah beberapa cara mengolah daun ubi yang bisa bikin lidah bergoyang. Kamu nggak perlu jadi chef bintang lima buat bikin masakan ini enak.

  • Tumis Daun Ubi Bawang Putih: Ini adalah kasta tertinggi buat mereka yang suka kesederhanaan. Cukup dengan modal bawang putih yang digeprek banyak-banyak, sedikit terasi (kalau suka), dan potongan cabai rawit buat sensasi pedas. Kuncinya adalah jangan memasaknya terlalu lama. Begitu daunnya layu dan berubah warna jadi hijau tua mengkilap, langsung angkat. Rasanya? Gurih, segar, dan aromanya bisa bikin tetangga sebelah mendadak lapar.
  • Gulai Daun Ubi Tumbuk: Kalau kalian pernah main ke daerah Sumatera Utara, khususnya di rumah makan khas Mandailing atau Batak, menu ini adalah wajib hukumnya. Daun ubi ditumbuk bersama rimbang (cepoka) dan bunga kecombrang. Bayangkan perpaduan santan yang gurih dengan aroma kecombrang yang eksotis. Ini bukan cuma makanan, ini adalah pengalaman spiritual di atas piring.
  • Urap atau Gudangan: Buat yang lagi sok sehat tapi nggak mau makan salad ala Barat yang rasanya kayak rumput, urap daun ubi adalah solusinya. Rebus daun ubi sebentar, campurkan dengan parutan kelapa berbumbu kencur dan jeruk purut. Rasanya manis, pedas, dan segar. Cocok banget dimakan bareng ikan asin dan rempeyek.

Sentuhan Modern yang Bisa Dicoba

Zaman sekarang, kreativitas itu nggak ada batasnya. Daun ubi pun sudah mulai naik kelas. Beberapa restoran fusion mulai menggunakan daun ubi sebagai pengganti bayam dalam menu pasta atau bahkan dijadikan keripik yang renyah. Bayangkan sebuah pesto sauce, tapi bukannya pakai daun basil yang mahal, kamu pakai daun ubi yang dihaluskan dengan kacang tanah dan minyak zaitun. Kedengarannya aneh? Mungkin. Tapi rasanya? Luar biasa unik!

Bahkan, untuk para pejuang diet, daun ubi bisa jadi smoothie hijau yang nggak bikin enek. Dicampur dengan nanas atau apel, rasa "tanah" dari daun ubi bakal tertutupi oleh rasa buah yang segar. Ini adalah cara hack buat kalian yang benci sayur tapi ingin tetap sehat secara estetik.

Sebuah Pengamatan Kecil

Ada satu hal yang menarik kalau kita memperhatikan orang belanja di pasar. Biasanya, ibu-ibu yang sudah senior bakal teliti banget memilih daun ubi. Mereka nggak cari yang daunnya paling besar, tapi yang pucuknya masih muda. Kenapa? Karena di situlah letak kelembutannya. Ada filosofi tersendiri di sini: bahwa yang paling berharga seringkali adalah sesuatu yang masih baru, segar, dan tumbuh di bagian paling atas.

Kadang saya merasa kasihan sama orang-orang yang terlalu gengsi buat makan sayuran "ndeso" kayak gini. Mereka melewatkan salah satu kenikmatan dunia yang paling jujur. Makan daun ubi pakai sambal terasi dan nasi panas itu adalah bentuk self-care yang paling murah tapi paling efektif. Nggak perlu ke spa mahal kalau perut sudah kenyang dengan makanan yang bikin hati tenang.

Penutup: Mari Kembali ke Akar

Pada akhirnya, tren makanan akan terus datang dan pergi. Hari ini mungkin croffle, besok mungkin sesuatu yang lebih aneh lagi. Tapi olahan daun ubi akan selalu punya tempat di meja makan kita. Dia adalah pengingat akan masakan rumah, akan tangan ibu yang sibuk di dapur, dan akan kekayaan alam kita yang luar biasa namun sering terlupakan.

Jadi, besok kalau kalian ke pasar atau papasan sama tukang sayur, jangan cuma beli nugget atau sosis instan. Ambil seikat daun ubi, minta tambahan cabai sedikit, dan mulailah berkreasi di dapur. Karena sejujurnya, nggak ada yang lebih memuaskan daripada makan enak hasil olahan sendiri dari bahan-bahan yang sederhana. Selamat masak, dan jangan lupa nambah nasinya!

Tags