Seni Menikmati Ceker Ayam
Liaa - Sunday, 15 February 2026 | 11:50 AM


Seni Menikmati Ceker Ayam: Antara Perjuangan, Kolagen, dan Kenikmatan yang Hakiki
Mari kita bicara jujur. Makan ceker ayam itu sebenarnya adalah sebuah paradoks. Secara visual, dia tidak punya potongan daging yang tebal dan menggoda layaknya paha atau dada ayam yang sering kita lihat di iklan restoran cepat saji. Ceker hanyalah seonggok tulang yang dibalut kulit tipis, tendon, dan sedikit tulang muda. Tapi, bagi sebagian orang Indonesia, benda mungil ini adalah harta karun kuliner yang sulit digantikan oleh wagyu sekalipun.
Ada sebuah pepatah tidak resmi di kalangan pecinta kuliner kaki lima: "Belum sah makan seblak atau mie ayam kalau nggak pakai ceker." Tapi di sisi lain, ceker juga menjadi salah satu makanan paling kontroversial. Ada orang yang merasa ngeri melihat bentuknya yang mirip tangan kecil, lengkap dengan ruas-ruas jarinya. Padahal, kalau sudah tahu teknik dan cara menikmatinya, makan ceker bukan lagi soal mengisi perut, melainkan soal seni dan ketekunan.
Sebuah Perjuangan di Balik Tulang
Makan ceker ayam itu butuh effort. Kamu nggak bisa makan ceker sambil buru-buru atau sambil memikirkan cicilan motor yang belum lunas. Makan ceker menuntut atensi penuh. Bayangkan, kamu harus memilah-milah kulit tipis di antara sela-sela tulang kecil dengan menggunakan lidah dan gigi. Ada kepuasan tersendiri saat kamu berhasil memisahkan sendi-sendinya, lalu menghisap sumsum atau tulang mudanya yang kenyal. Slurppp!
Inilah yang saya sebut sebagai seni "mengenyot". Bagi orang luar atau mereka yang anti-ceker, aktivitas ini mungkin terlihat aneh atau bahkan jorok. Tapi bagi kaum penganut aliran cekerisme, momen ketika kulit yang lembut itu lumer di mulut adalah kemenangan kecil atas dunia yang melelahkan. Rasanya yang gurih, apalagi kalau dimasak dengan bumbu pedas mercon, bisa bikin keringat bercucuran sekaligus hati merasa tenang. Aneh memang, tapi begitulah kenyataannya.
Dari Seblak hingga Dim Sum: Ceker yang Menembus Kelas Sosial
Satu hal yang menarik dari ceker ayam adalah fleksibilitasnya. Dia bisa tampil sangat merakyat di dalam panci tukang bakso atau penjual mie ayam gerobakan. Harganya murah meriah, biasanya cuma nambah seribu atau dua ribu perak, kamu sudah bisa dapat dua atau tiga potong ceker yang sudah empuk karena direbus berjam-jam.
Tapi jangan salah, ceker juga bisa tampil elegan dan "naik kelas" di restoran dim sum kelas atas. Di sana, dia dikenal dengan nama "Phoenix Claws" atau kaki naga. Biasanya digoreng dulu sampai kulitnya berkerut, lalu di-steam dengan bumbu merah yang manis dan gurih sampai tulangnya nyaris lepas sendiri. Di sini, ceker tidak lagi dipandang sebagai "limbah" ayam, melainkan hidangan eksotis yang penuh teknik memasak tingkat tinggi. Ini membuktikan bahwa ceker adalah makanan yang demokratis; dia bisa dinikmati oleh siapa saja, dari kuli bangunan sampai direktur perusahaan, asal mereka punya keberanian untuk memulainya.
Mitos Kolagen dan Kulit Glowing
Kalau kita bicara soal manfaat, banyak orang tua zaman dulu atau bahkan artikel kesehatan di internet yang bilang kalau ceker itu sumber kolagen yang dahsyat. Katanya, rajin makan ceker bisa bikin kulit kencang dan awet muda. Secara ilmiah, memang benar ceker mengandung protein kolagen yang tinggi. Tapi ya jangan berharap makan ceker seporsi langsung bikin wajah mirip bintang drakor tanpa perlu pake skincare.
Hanya saja, ada sebuah sugesti yang menyenangkan saat kita mengunyah tekstur gelatin dari ceker. Rasanya seperti sedang merawat diri dengan cara yang paling nikmat. Namun, perlu diingat juga buat kamu yang punya masalah kolesterol atau asam urat, jangan terlalu "gas pol". Karena di balik kulitnya yang kenyal itu, ada kandungan lemak yang lumayan ngumpet. Segalanya yang berlebihan itu nggak baik, termasuk mencintai mantan atau makan ceker tiga piring sehari.
Mengapa Sebagian Orang Benci Ceker?
Tentu kita harus menghargai mereka yang menolak keras keberadaan ceker di piring makan mereka. Alasan yang paling sering muncul adalah faktor higienitas. "Itu kan bagian yang dipakai ayam buat jalan di tanah, injak kotoran, dan lain-lain," begitu kata mereka yang kontra. Ya, argumen itu masuk akal sih. Tapi di sinilah peran penting dari proses pembersihan. Ceker yang dijual di pasaran biasanya sudah melewati proses pengupasan kulit luar dan pemotongan kuku.
Lagi pula, kalau kita mau jujur-jujuran soal makanan, banyak hal lain yang lebih "ngeri" kalau dipikirkan prosesnya. Intinya, semua kembali ke selera dan tingkat keberanian masing-masing. Bagi saya pribadi, melihat orang yang tidak suka ceker justru adalah keuntungan. Artinya, porsi ceker di panci soto akan lebih banyak tersisa untuk saya.
Ceker: Comfort Food yang Sederhana
Pada akhirnya, makan ceker ayam adalah soal menikmati kesederhanaan. Di tengah dunia yang semakin menuntut kita untuk tampil sempurna dan estetik, ceker hadir sebagai pengingat bahwa kebahagiaan itu bisa datang dari hal-hal kecil yang tidak berbentuk indah. Makan ceker mengajarkan kita tentang kesabaran—bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang enak, kita harus mau bersusah payah bergelut dengan tulang.
Jadi, buat kalian yang malam ini bingung mau makan apa, coba mampir ke warung mie ayam terdekat. Pesan satu porsi pakai ceker ekstra. Lupakan sejenak gengsi, lupakan sejenak cara makan yang elegan pakai sendok garpu. Gunakan tanganmu, rasakan teksturnya, dan nikmati setiap sensasi di setiap ruas tulangnya. Karena hidup, sama seperti makan ceker, kadang butuh sedikit "perjuangan" untuk menemukan bagian yang paling manis.
Next News

Olahan Daun Ubi yang Menggugah Selera
in 6 hours

Fakta Menarik dari Si Buah Kiwi
in 5 hours

Ati Ampela: Antara Tekstur yang Melawan dan Kenikmatan yang Sering Dicibir
in 5 hours

Ritual Mani-Pedi: Bukan Cuma Soal Kuku Cantik, Tapi Soal Menjaga Kewarasan
in 5 hours

Benarkah Rambut Lebih Banyak Rontok Saat Stres?
in 5 hours

Benarkah Skip Sarapan Bisa Membuat Berat Badan Turun?
in 5 hours

Kenapa Kita Menguap Saat Melihat Orang Lain Menguap?
in 4 hours

Filosofi Daun yang Ogah Basah
in 4 hours

Marpangir: Ritual Menjelang Ramadan di Sumatra Utara
in 4 hours

Ketika "Masuk Angin" Berubah Jadi Ancaman Nyawa
in 4 hours





