Mengenal Jenis-Jenis Gula dan Kandungannya: Tak Semua Manis Itu Sama
Nanda - Thursday, 12 February 2026 | 03:17 AM


Rasa manis adalah salah satu rasa yang paling disukai manusia. Namun di balik rasa manis yang sama, ternyata gula memiliki jenis dan kandungan yang berbeda-beda. Tidak semua gula diciptakan setara, baik dari sisi struktur kimia maupun dampaknya terhadap tubuh.
Secara umum, gula adalah bagian dari kelompok karbohidrat sederhana yang mudah dicerna dan cepat meningkatkan kadar glukosa darah. Dalam ilmu gizi, gula dibagi menjadi dua kelompok besar: gula alami dan gula tambahan.
1. Gula Sederhana Berdasarkan Struktur Kimia
Secara ilmiah, gula terdiri dari molekul yang disebut sakarida.
a. Glukosa
Glukosa adalah sumber energi utama tubuh. Semua jenis karbohidrat pada akhirnya dipecah menjadi glukosa. Gula ini langsung masuk ke aliran darah dan digunakan oleh sel sebagai bahan bakar.
b. Fruktosa
Fruktosa secara alami terdapat dalam buah dan madu. Rasanya lebih manis dibanding glukosa. Berbeda dengan glukosa, fruktosa diproses terutama di hati.
c. Sukrosa
Sukrosa adalah kombinasi glukosa dan fruktosa. Inilah yang biasa kita kenal sebagai gula pasir atau gula meja.
d. Laktosa
Laktosa adalah gula alami dalam susu, terdiri dari glukosa dan galaktosa.
e. Maltosa
Maltosa terbentuk dari dua molekul glukosa dan sering ditemukan dalam produk hasil fermentasi seperti malt.
2. Jenis-Jenis Gula yang Umum Dikonsumsi
Di dapur sehari-hari, kita mengenal berbagai bentuk gula dengan karakteristik berbeda.
Gula Pasir (Gula Putih)
Terbuat dari tebu atau bit gula yang dimurnikan. Kandungan utamanya adalah sukrosa hampir 100%. Karena melalui proses pemurnian, gula ini hampir tidak mengandung vitamin atau mineral.
Gula Merah dan Gula Aren
Dibuat dari nira kelapa atau aren. Mengandung sukrosa dominan, tetapi masih menyimpan sedikit mineral seperti kalium, zat besi, dan magnesium karena prosesnya lebih minimal dibanding gula putih. Meski begitu, kandungan kalorinya tetap tinggi.
Gula Batu
Merupakan kristalisasi sukrosa yang dipadatkan. Secara kandungan hampir sama dengan gula pasir.
Madu
Madu terdiri dari fruktosa dan glukosa alami serta mengandung antioksidan, enzim, dan sejumlah kecil vitamin serta mineral. Walau memiliki manfaat tambahan, madu tetap tinggi kalori dan gula.
Gula Kelapa
Mirip gula aren, dengan indeks glikemik yang diklaim lebih rendah dibanding gula putih. Mengandung inulin dalam jumlah kecil, yaitu serat prebiotik.
High Fructose Corn Syrup (HFCS)
Sirup jagung tinggi fruktosa banyak digunakan dalam minuman ringan dan makanan olahan. Mengandung campuran glukosa dan fruktosa dengan kadar fruktosa tinggi. Konsumsi berlebihan dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas dan gangguan metabolik.
Pemanis Rendah Kalori (Stevia, Aspartam, Sukralosa)
Secara teknis bukan gula alami, tetapi digunakan sebagai pengganti gula. Memberikan rasa manis tanpa kalori signifikan. Beberapa aman dalam batas konsumsi harian yang direkomendasikan badan kesehatan internasional.
3. Kandungan Gizi dan Dampaknya pada Tubuh
Secara kalori, hampir semua gula memberikan sekitar 4 kalori per gram. Perbedaannya terletak pada:
- Struktur kimia
- Kecepatan menaikkan gula darah (indeks glikemik)
- Kandungan mikronutrien tambahan
Gula alami dalam buah datang bersama serat, vitamin, dan antioksidan, sehingga penyerapannya lebih lambat. Sebaliknya, gula tambahan dalam minuman manis cepat meningkatkan kadar gula darah.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar konsumsi gula tambahan tidak melebihi 10% dari total asupan energi harian, bahkan idealnya di bawah 5% untuk manfaat kesehatan tambahan.
4. Apakah Gula Merah Lebih Sehat dari Gula Putih?
Banyak orang menganggap gula merah atau gula aren jauh lebih sehat. Secara nutrisi, memang terdapat sedikit mineral tambahan. Namun secara kalori dan efek terhadap gula darah, perbedaannya tidak signifikan jika dikonsumsi dalam jumlah besar.
Artinya, jenis gula boleh berbeda, tetapi konsumsi berlebihan tetap berisiko meningkatkan obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.
5. Bagaimana Memilih Gula yang Lebih Baik?
Alih-alih hanya mengganti jenis gula, yang lebih penting adalah:
- Mengurangi konsumsi gula tambahan
- Membaca label nutrisi pada kemasan
- Mengutamakan gula alami dari buah utuh
- Menghindari minuman manis berlebihan
Kunci kesehatan bukan pada jenis gula semata, melainkan pada jumlah dan pola konsumsi secara keseluruhan.
Tidak semua gula sama, baik dari sisi struktur maupun kandungannya. Ada glukosa, fruktosa, sukrosa, hingga pemanis buatan dengan karakteristik berbeda. Namun satu hal yang pasti: semua gula tetap menyumbang kalori dan perlu dikonsumsi secara bijak.
Memahami jenis-jenis gula membantu kita membuat keputusan yang lebih sehat tanpa harus sepenuhnya menghindari rasa manis dalam hidup.
Next News

Marpangir: Ritual Menjelang Ramadan di Sumatra Utara
in 7 hours

Ketika "Masuk Angin" Berubah Jadi Ancaman Nyawa
in 6 hours

Permen dan Budaya "Gak Enak Kalau Nggak Manis"
in 5 hours

Manggis: Si Ratu Buah yang Nggak Cuma Manis, Tapi Juga Paling 'Jujur' se-Indonesia
6 hours ago

Terbangun dengan Mata Sembab: Antara Drama Korea, Kebanyakan Garam, dan Tragedi Salah Tidur
6 hours ago

Ngobrolin Sirih dan Pinang
6 hours ago

Langsat atau Duku? Jangan Sampai Tertipu Penampilan Si Kembar yang Bikin Keki Ini
6 hours ago

Dibalik Kedipan Cantiknya, Ternyata Kunang-Kunang Itu "Dark" Juga Ya?
7 hours ago

Gula Merah Lebih vs Gula Putih, Mana Yang Lebih Sehat?
19 hours ago

Benarkah Nasi Dingin Lebih Baik Untuk Kesehatan?
19 hours ago





