Sabtu, 14 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Langsat atau Duku? Jangan Sampai Tertipu Penampilan Si Kembar yang Bikin Keki Ini

Liaa - Saturday, 14 February 2026 | 09:50 PM

Background
Langsat atau Duku? Jangan Sampai Tertipu Penampilan Si Kembar yang Bikin Keki Ini

Langsat atau Duku? Jangan Sampai Tertipu Penampilan Si Kembar yang Bikin Keki Ini

Pernah nggak sih kamu lagi jalan-jalan di pasar atau mampir ke pinggir jalan karena melihat tumpukan buah bulat-bulat kecil berwarna krem kecokelatan yang menggoda? Dalam hati kamu membatin, "Wah, duku nih! Manis pasti." Dengan semangat membara, kamu beli sekilo, bawa pulang, lalu pas digigit di rumah, bukannya rasa manis yang didapat, malah rasa asam yang bikin mata merem melek plus tangan yang mendadak lengket karena getah. Di situlah kamu sadar, kamu baru saja "tertipu" oleh saudara kembar duku yang bernama langsat.

Masalah "salah beli" antara duku dan langsat ini sebenarnya adalah drama klasik yang terus berulang setiap musim buah tiba. Kalau di dunia manusia ada anak kembar yang mukanya mirip banget tapi sifatnya langit dan bumi, di dunia perbuahan, langsat dan duku adalah pelakon utamanya. Keduanya memang berasal dari spesies yang sama, yaitu Lansium domesticum, tapi kalau kita jeli, mereka punya kepribadian yang beda total. Biar kamu nggak lagi-lagi kena zonk saat belanja, mari kita bedah satu per satu perbedaan si kembar tapi beda ini.

Kulit Luar: Tebal vs Tipis yang Menentukan Nasib

Cara paling gampang buat membedakan mereka tanpa harus mencicipi (karena kadang abang penjualnya galak kalau kita minta tester terus) adalah dengan melihat kulitnya. Duku itu ibarat orang yang punya pertahanan diri kuat; kulitnya cenderung tebal dan kuat. Teksturnya agak kasar dan biasanya bersih dari bercak-bercak hitam. Kalau kamu memencet duku, rasanya lebih padat dan kokoh.

Nah, kalau langsat itu kebalikannya. Langsat punya kulit yang tipis banget. Selain tipis, biasanya kulit langsat punya bercak-bercak hitam atau noda kecokelatan yang lebih banyak. Jujurly, secara visual, duku memang kelihatan lebih "glowing" dan premium dibanding langsat yang sering kelihatan agak kusam. Tapi jangan salah, di balik kulit tipis langsat itu ada sensasi rasa yang beda bagi pecintanya.

Urusan Getah yang Bikin Emosi

Ini dia poin paling krusial yang sering bikin orang kapok makan langsat kalau belum tahu triknya: getah. Kalau kamu makan duku, kamu bisa dengan santai mengupasnya pakai tangan tanpa takut tangan jadi lengket kayak habis kena lem sisa stiker. Duku itu sangat minim getah, bahkan hampir nggak ada kalau buahnya sudah benar-benar matang. Makanya, makan duku itu praktis dan "bersih".

Langsat? Wah, ini dia tantangannya. Langsat adalah raja getah. Di kulitnya ada getah putih yang lumayan banyak. Kalau kamu asal kupas, jempol dan telunjuk kamu bakal langsung lengket. Belum lagi kalau getahnya kena bibir, rasanya pahit-pahit gimana gitu. Tapi buat sebagian orang, justru di sinilah seninya. Perjuangan melawan getah demi mendapatkan daging buah yang segar itu ada kepuasan tersendiri, ya meskipun buat kaum antiribet, langsat mungkin bakal masuk daftar hitam.

Rasa: Si Manis Kalem vs Si Asem Seger

Masuk ke bagian yang paling sensitif, yaitu rasa. Secara umum, duku adalah pemenangnya kalau urusan manis. Duku punya rasa manis yang legit dan konsisten. Daging buahnya bening, tebal, dan biasanya bijinya kecil atau bahkan nggak ada sama sekali (ini surga banget sih). Makan duku itu seperti makan permen alami yang nggak bikin tenggorokan sakit.

Lantas, gimana dengan langsat? Langsat punya profil rasa yang lebih kompleks. Dia nggak cuma manis, tapi ada perpaduan rasa asam yang cukup kuat. Seger banget kalau dimakan pas siang bolong. Daging buahnya lebih banyak air dibandingkan duku. Masalahnya, langsat seringkali punya biji yang besar dan kalau tergigit, pahitnya bisa merusak suasana hati seharian. Jadi, kalau kamu tipe orang yang suka sensasi "kejutan" asam-manis di lidah, langsat adalah pilihan yang oke. Tapi kalau kamu cuma mau cari aman dengan rasa manis, mendingan cari duku Palembang yang sudah terjamin kualitasnya.

Daya Tahan dan Harga

Karena kulitnya yang tipis dan kandungan airnya yang tinggi, langsat itu gampang banget busuk. Biasanya dalam 2-3 hari setelah dipetik, kulit langsat bakal mulai menghitam dan buahnya jadi lembek. Makanya, langsat jarang dikirim jauh-jauh atau diekspor secara masif. Dia lebih banyak ditemukan di pasar lokal dekat daerah asalnya.

Duku jauh lebih tangguh. Berkat kulit tebalnya, duku bisa bertahan lebih lama dalam suhu ruang. Itulah kenapa duku bisa dikirim dari Sumatra ke Jakarta atau daerah lain tanpa kehilangan kesegarannya. Dari segi harga, tentu saja duku biasanya dibanderol lebih mahal. Ada harga ada rupa, ada kenyamanan saat makan (tanpa getah), tentu ada biaya tambahan yang harus kita bayar.

Mana yang Lebih Baik?

Sebenarnya, mau pilih duku atau langsat itu kembali ke selera masing-masing. Nggak ada yang benar-benar lebih unggul. Kalau kamu tipe orang yang suka buah dengan karakter rasa yang kuat dan segar, langsat bisa jadi teman setia. Tapi kalau kamu mau buah yang manisnya pasti-pasti saja dan malas berurusan dengan lengketnya getah, duku adalah jalan ninja terbaik.

Intinya, mulai sekarang jangan sampai ketuker lagi ya. Ingat rumusnya: kulit tebal dan bersih itu duku, kulit tipis dan bercak hitam itu langsat. Jangan sampai niat hati pengen manis-manis cantik ala duku, malah berakhir dengan jempol lengket dan muka kecut gara-gara salah pilih langsat. Selamat berburu buah di musim ini!

Tags