Sabtu, 14 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Dibalik Kedipan Cantiknya, Ternyata Kunang-Kunang Itu "Dark" Juga Ya?

Liaa - Saturday, 14 February 2026 | 09:30 PM

Background
Dibalik Kedipan Cantiknya, Ternyata Kunang-Kunang Itu "Dark" Juga Ya?

Dibalik Kedipan Cantiknya, Ternyata Kunang-Kunang Itu "Dark" Juga Ya?

Pernah nggak sih kamu lagi nongkrong di teras rumah nenek di desa, terus tiba-tiba ada cahaya kecil kelap-kelip terbang di antara semak-semak? Rasanya kayak lagi di dunia dongeng, kan? Magical banget. Kunang-kunang memang selalu punya tempat spesial di memori masa kecil kita. Kehadiran mereka seolah jadi penanda kalau alam masih sehat dan udara masih bersih.

Tapi, jujur deh, seberapa banyak sih yang kita tahu soal makhluk kecil ini selain hobi mereka yang suka "nyalain lampu" pas malam hari? Ternyata, di balik tampilannya yang estetik dan romantis itu, kunang-kunang punya sisi kehidupan yang cukup plot twist, lho. Dari urusan cinta yang mematikan sampai efisiensi energi yang bikin ilmuwan NASA sekalipun iri. Yuk, kita bedah satu-satu fakta menarik dari serangga yang makin hari makin susah ditemui ini.

1. Plot Twist: Mereka Bukan Lalat, Tapi Kumbang!

Mari kita luruskan dulu identitas mereka. Dalam bahasa Inggris, mereka disebut "fireflies" atau "lightning bugs". Nah, dua-duanya salah kaprah. Kunang-kunang itu sebenarnya bukan lalat (Diptera) dan bukan juga kutu (Hemiptera). Secara taksonomi, mereka masuk dalam keluarga Lampyridae, yang merupakan kelompok kumbang.

Sama kayak kumbang pada umumnya, mereka punya sayap luar yang keras yang disebut elitra. Jadi, kalau kamu lihat kunang-kunang lagi parkir di daun, perhatikan deh punggungnya. Ada cangkang keras yang melindungi sayap terbang mereka. Jadi, mulai sekarang, jangan panggil mereka lalat bercahaya ya, sebut saja mereka kumbang yang lagi cosplay jadi lampu taman.

2. Lampu Paling Efisien Sejagad Raya

Kalau kamu pegang bohlam lampu yang lagi nyala di rumah, pasti rasanya panas banget. Kenapa? Karena bohlam itu boros energi; sebagian besar energinya berubah jadi panas, bukan cahaya. Nah, kunang-kunang ini beda level. Cahaya yang mereka hasilkan disebut "cahaya dingin" atau bioluminescence.

Proses kimia antara oksigen, kalsium, adenosin trifosfat (ATP), dan zat bernama lusiferin di dalam perut mereka menghasilkan efisiensi hampir 100%. Artinya, hampir nggak ada energi yang terbuang jadi panas. Bayangin kalau manusia bisa bikin teknologi lampu seefisien pantat kunang-kunang, tagihan listrik PLN kita mungkin bakal terjun bebas!

3. Kode Rahasia "Tinder" Versi Serangga

Pernah nggak kamu mikir, itu kunang-kunang kelap-kelip buat apa sih? Gabut? Ternyata itu adalah cara mereka buat cari jodoh. Setiap spesies kunang-kunang punya "bahasa sandi" yang beda-beda. Ada yang kedipnya lambat, ada yang cepet banget kayak lampu strobo bus malam, ada juga yang polanya panjang-pendek mirip kode Morse.

Biasanya, yang jantan bakal terbang keliling sambil pamer lampu, terus yang betina nunggu di semak-semak sambil memantau. Kalau si betina ngerasa "Wah, ini nih spek idaman," dia bakal bales kedipannya dengan ritme yang sama. Setelah itu, barulah mereka janjian buat ketemuan. Simpel tapi romantis, ya? Nggak perlu pake aplikasi kencan, cukup mainin saklar di perut doang.

4. Sisi Gelap: Si "Femme Fatale" yang Kanibal

Eits, jangan baper dulu. Ternyata ada sisi gelap di balik drama romansa ini. Ada satu genus kunang-kunang namanya Photuris. Kunang-kunang betina dari jenis ini punya bakat akting yang luar biasa jahat. Dia bisa meniru pola kedipan cahaya dari spesies kunang-kunang lain.

Jadi, ketika ada jantan dari spesies lain yang nyari pacar dan ngelihat kode cahaya si Photuris ini, dia bakal nyamperin dengan penuh harapan cinta. Tapi apa yang terjadi? Bukannya dapet pelukan, si jantan malah langsung diterkam dan dimakan habis! Seram banget, kan? Definisi "cintaku berakhir di perutmu" yang sebenarnya.

5. Bayi Kunang-Kunang itu... Predator yang Ganas

Jangan bayangin bayi kunang-kunang itu lucu dan glowing sejak lahir. Larva kunang-kunang, yang sering disebut "glow worms," sebenarnya punya tampilan yang agak mirip alien dan hidup di tanah atau tempat lembap. Dan mereka itu karnivora yang rakus.

Makanan favorit mereka adalah siput dan cacing tanah. Cara mereka berburu juga ngeri: mereka bakal menyuntikkan cairan pelumpuh ke mangsanya, terus si mangsa bakal pelan-pelan berubah jadi cairan mirip sup, baru deh disedot sama si larva ini. Jadi, sebelum mereka jadi serangga cantik yang kita kagumi, mereka adalah pembunuh berdarah dingin di dunia mikro.

6. Kenapa Mereka Makin Langka?

Sadar nggak sih, sekarang makin susah nemu kunang-kunang, apalagi kalau kamu tinggal di kota besar kayak Jakarta atau Surabaya? Fenomena ini bukan tanpa alasan. Masalah utamanya adalah polusi cahaya. Karena kunang-kunang berkomunikasi pakai cahaya buat kawin, lampu-lampu jalan dan gedung yang terang benderang bikin mereka "silau" dan bingung. Si jantan nggak bisa nemuin si betina karena cahayanya kalah saing sama lampu LED.

Selain itu, penggunaan pestisida di kebun dan hilangnya lahan basah bikin habitat mereka hancur. Sedih banget, kan? Makhluk yang sudah ada sejak zaman dinosaurus ini terancam punah cuma gara-gara manusia pengen semuanya serba terang dan bersih dari serangga.

Kesimpulannya, kunang-kunang itu bukan sekadar serangga penghias malam. Mereka adalah keajaiban evolusi yang menggabungkan efisiensi kimia, drama cinta yang kompleks, hingga peran penting dalam ekosistem. Melihat kunang-kunang itu kayak dapet pengingat kalau alam punya caranya sendiri buat bikin pertunjukan yang jauh lebih keren daripada kembang api buatan manusia. Jadi, kalau suatu saat kamu beruntung bisa ketemu mereka lagi, tolong jangan ditangkep terus dimasukin toples ya. Biarin mereka terbang bebas, cari pacar, dan terus nerangi kegelapan malam dengan cara mereka yang paling jujur.

Tags