Sabtu, 21 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Labu Kuning, Si Oranye yang Sering Dianaktirikan padahal Punya Spek Dewa

Liaa - Friday, 20 February 2026 | 09:55 PM

Background
Labu Kuning, Si Oranye yang Sering Dianaktirikan padahal Punya Spek Dewa

Labu Kuning: Si Oranye yang Sering Dianaktirikan padahal Punya Spek Dewa

Kalau kita ngomongin labu, apa sih yang pertama kali lewat di kepala kalian? Pasti nggak jauh-jauh dari kereta kencana Cinderella, dekorasi Halloween yang agak serem tapi lucu, atau mentok-mentok jadi isian kolak pas bulan Ramadan. Jujurly, labu itu sering banget kita anggap sebagai sayuran "figuran" doang. Dia ada di pasar, harganya murah, tapi jarang banget jadi bintang utama di meja makan kita sehari-hari, kalah pamor sama kangkung atau ayam geprek.

Padahal kalau kita mau bedah lebih dalam, labu—terutama labu kuning—adalah salah satu ciptaan Tuhan yang paling serba guna dan punya manfaat yang nggak main-main. Ibarat kata, labu ini kayak temen kita yang pendiam di kelas, nggak banyak tingkah, tapi pas ujian nilainya paling tinggi dan ternyata jago main musik. Nah, biar kalian makin kenal dan makin sayang sama si bulat oranye ini, yuk kita bahas fakta-fakta menariknya dengan gaya yang lebih santai.

Buah yang Menyamar Jadi Sayur

Secara teknis, kalau kita tanya sama ahli botani, mereka bakal bilang kalau labu itu sebenarnya adalah buah, bukan sayuran. Kenapa? Karena dia berkembang dari bunga dan punya biji di dalamnya. Tapi ya namanya juga hidup di tengah masyarakat, labu terlanjur dicap sebagai sayur karena seringnya dimasak buat lauk atau sayur bening. Ini mirip banget sama nasib tomat atau timun yang krisis identitas di dapur. Tapi ya sudahlah ya, mau dipanggil buah atau sayur, yang penting rasanya enak dan nggak bikin kantong jebol.

Skin Care Alami dari Dalam

Siapa yang di sini rela ngabisin jutaan rupiah buat beli serum vitamin A atau retinol demi wajah glowing? Well, coba deh mulai lirik labu kuning. Warna oranye yang mencolok itu bukan cuma buat estetika doang, tapi itu tanda kalau labu kaya banget akan beta-karoten. Di dalam tubuh kita, beta-karoten ini bakal dikonversi jadi vitamin A.

Manfaatnya? Nggak cuma bikin mata kalian tajam kayak elang pas lagi ngepoin mantan, tapi juga bagus banget buat kesehatan kulit. Makan labu secara rutin itu ibarat pakai proteksi sinar UV dari dalam. Dia membantu melindungi sel kulit dari kerusakan akibat radikal bebas. Jadi, daripada cuma ngandelin filter Instagram biar kelihatan mulus, mending mulai rajin makan labu.



Sahabat Diet yang Paling Pengertian

Dilema terbesar umat manusia zaman sekarang adalah pengen kurus tapi nggak mau ngerasain lapar yang menyiksa. Di sinilah labu jadi pahlawan tanpa tanda jasa. Labu itu rendah kalori tapi tinggi serat. Bayangin aja, sekitar 90 persen kandungan labu itu sebenarnya cuma air. Jadi, kalian bisa makan dalam porsi yang cukup banyak tanpa perlu merasa berdosa soal angka di timbangan.

Serat yang tinggi di dalamnya juga bikin perut terasa kenyang lebih lama. Nggak ada lagi tuh drama "ngemil cantik" tiap jam tiga sore karena perut keroncongan. Ditambah lagi, labu punya indeks glikemik yang relatif rendah, jadi aman banget buat kalian yang lagi jaga kadar gula darah.

Biji Labu: Camilan Sultan yang Sering Terbuang

Ini nih kesalahan fatal yang sering kita lakuin kalau lagi masak labu: buang bijinya. Padahal, biji labu atau yang sering kita kenal sebagai kuaci labu itu adalah superfood yang harganya kalau di supermarket kelas atas bisa bikin dahi mengernyit. Biji labu penuh dengan magnesium, zinc, dan lemak sehat.

Banyak penelitian bilang kalau biji labu bisa membantu memperbaiki kualitas tidur karena mengandung triptofan. Jadi kalau kalian lagi ngerasa insom alias susah tidur karena kepikiran cicilan atau tugas kuliah yang numpuk, coba deh nyemil biji labu panggang. Rasanya gurih, teksturnya renyah, dan efeknya bikin rileks. Jangan dibuang lagi ya, eman-eman!

Bukan Cuma Buat Kolak

Di Indonesia, kita kayak punya aturan nggak tertulis kalau labu kuning itu jodohnya santan dan gula merah. Padahal, fleksibilitas labu itu gila banget. Di luar negeri, labu sering dijadiin sup krim yang kental dan gurih. Atau kalau mau yang lebih kekinian, kalian pasti tahu dong tren Pumpkin Spice Latte yang selalu muncul tiap musim gugur? Labu bisa masuk ke dalam kopi, jadi muffin, dibikin pancake, atau bahkan cuma dipanggang pakai sedikit olive oil dan garam aja udah enak banget.



Rasanya yang manis alami tapi nggak dominan bikin dia gampang masuk ke resep masakan apa pun. Bahkan buat kalian yang lagi nyoba gaya hidup vegan, labu kuning yang dihaluskan sering dijadiin pengganti mentega atau telur dalam beberapa resep kue. Benar-benar bahan makanan yang nggak rewel.

Simbol Budaya dan Mitologi

Kita nggak bisa ngomongin labu tanpa nyinggung soal Halloween. Tradisi mengukir labu jadi Jack-o'-lantern itu sebenarnya punya sejarah panjang dari Irlandia, walaupun dulunya mereka pakai lobak, bukan labu. Pas imigran Irlandia pindah ke Amerika, mereka nemu kalau labu jauh lebih gampang diukir karena ukurannya gede dan tengahnya empuk. Akhirnya, labu jadi ikon horor yang menggemaskan sampai sekarang.

Di sisi lain, labu juga sering dianggap sebagai simbol kemakmuran dan kesuburan di banyak budaya karena satu pohon labu bisa menghasilkan banyak banget buah yang ukurannya raksasa. Ada labu yang beratnya bisa nyampe ratusan kilogram, lho! Udah kayak ukuran mobil kecil. Jadi, labu itu bukan cuma soal makanan, tapi juga soal sejarah dan keajaiban alam.

Kesimpulan: Waktunya Ngasih Panggung Buat Si Labu

Setelah tahu fakta-fakta di atas, rasanya agak keterlaluan kalau kita masih menganggap labu sebagai sayuran kelas dua. Dia sehat, murah, enak, dan bisa diolah jadi apa aja. Dari urusan kesehatan mata sampai urusan diet, labu punya solusinya.

Jadi, besok kalau kalian ke pasar atau tukang sayur keliling lewat depan rumah, jangan cuma nanya "Bang, ada kangkung nggak?". Coba deh sesekali tanya, "Bang, ada labu kuning nggak?". Kasih dia tempat di piring makan kalian, dan rasain sendiri gimana "ajaibnya" si buah oranye ini buat tubuh kalian. Lagian, siapa sih yang nggak mau sehat dengan modal yang ramah di kantong?



Tags