Healing Tipis-tipis Tanpa Bikin Kantong Nangis
Liaa - Friday, 20 February 2026 | 10:00 PM


Menemukan Waras di Balik Pagar Taman Kota: Kenapa Kita Perlu Sesekali Menjadi Pengangguran Estetik
Pernah nggak sih, kamu merasa kepalamu kayak tab browser yang dibuka kebanyakan? Ada kerjaan yang belum kelar, cicilan yang melambai-lambai, sampai drama grup WhatsApp keluarga yang isinya cuma broadcast hoaks kesehatan. Rasanya pengen teriak, tapi sadar kalau teriak di tengah kantor cuma bakal bikin kamu dipanggil HRD. Akhirnya, pelarian paling masuk akal adalah scrolling media sosial sampai jempol kapalan, berharap dapet dopamin instan dari video kucing atau orang pamer liburan ke Labuan Bajo.
Padahal, ada satu cara penyembuhan atau yang anak zaman sekarang sebut sebagai "healing" yang murah meriah, nggak pakai ribet, dan nggak perlu reservasi lewat aplikasi. Jawabannya adalah taman kota. Ya, tempat yang isinya cuma pohon, rumput, dan kadang-kadang ada bapak-bapak lagi latihan pernapasan itu ternyata adalah oase paling jujur di tengah gempuran beton yang bikin sesak.
Healing Tipis-tipis Tanpa Bikin Kantong Nangis
Mari jujur-jujuran saja. Istilah "healing" belakangan ini sudah mengalami pergeseran makna yang cukup mengkhawatirkan. Healing sering kali diasosiasikan dengan menginap di villa mewah atau nongkrong di kafe estetik yang harga kopinya setara dengan jatah makan siang tiga hari. Padahal, esensi dari penyembuhan diri adalah melepaskan beban, bukan malah nambah beban keuangan baru yang bikin pusing tujuh keliling pas akhir bulan.
Pergi ke taman adalah bentuk perlawanan paling elegan terhadap budaya konsumerisme tersebut. Di taman, kamu nggak perlu pesan menu minimal lima puluh ribu buat dapat tempat duduk. Kamu cukup bawa badan, atau mungkin bawa alas duduk sendiri kalau nggak mau celana kotor kena tanah. Di sana, status sosial seolah menguap. Siapa pun kamu—mau CEO yang lagi burnout atau mahasiswa yang lagi stres ngerjain skripsi—semuanya sama-sama punya hak buat duduk di bawah pohon yang sama. Menghirup oksigen gratis yang belum kena pajak.
Seni Melamun dan Observasi Orang Lewat
Salah satu aktivitas paling underrated di taman adalah melamun. Di dunia yang menuntut kita buat produktif 24/7, melamun sering dianggap sebagai dosa besar. Tapi di taman, melamun adalah sebuah pencapaian. Ada kepuasan tersendiri saat kita cuma duduk diam, nggak pegang HP, dan cuma merhatiin semut yang lagi gotong-royong bawa remahan biskuit. Itu namanya kita lagi melatih fokus ke hal-hal kecil yang selama ini terabaikan gara-gara terlalu sibuk mikirin "big picture" kehidupan.
Selain melamun, taman adalah tempat terbaik untuk melakukan people watching. Coba deh perhatikan sekeliling. Di pojok sana, ada pasangan muda yang lagi asyik foto-foto buat konten TikTok, berulang kali retake demi transisi yang pas. Di sisi lain, ada ibu-ibu yang lagi ngejar anaknya yang lari-larian tanpa rasa capek, seolah-olah baterai anak kecil itu pakai tenaga nuklir. Ada juga kakek-nenek yang jalan santai sambil gandengan tangan, sebuah pemandangan yang bikin kita mikir, "Bisa nggak ya gue kayak gitu nanti?"
Melihat interaksi manusia secara langsung, tanpa perantara layar, itu rasanya beda. Kita jadi sadar kalau hidup ini luas banget. Masalah kita yang tadi rasanya segede gunung, tiba-tiba terasa agak mengecil pas kita liat ada orang lain yang tetap bisa ketawa bahagia cuma karena berhasil nerbangin layangan atau dapet es potong rasa cokelat.
Kenapa Hijau Itu Penting? (Bukan Cuma Soal Estetika)
Secara psikologis, manusia memang punya koneksi alami dengan alam yang disebut biophilia. Mata kita ini sebenernya sudah capek liat cahaya biru (blue light) dari HP dan laptop terus-menerus. Makanya, liat warna hijau pohon itu kayak kasih tetes mata alami buat jiwa. Ada perasaan tenang yang muncul secara instan saat kaki kita menyentuh rumput atau saat angin sepoi-sepoi ngelewatin sela-sela rambut. Ini bukan sekadar sugesti, tapi reaksi kimia di otak yang menurunkan kadar kortisol alias hormon stres.
Nggak heran kalau di negara-negara maju, resep dokter kadang bukan cuma obat kimia, tapi instruksi buat jalan-jalan di hutan atau taman. Di Indonesia, kita mungkin belum sampai tahap itu, tapi kita bisa mulai sendiri. Nggak usah nunggu stres sampai meledak dulu baru ke taman. Jadikan ini ritual mingguan. Anggap aja ini "maintenance" buat kewarasan kita sendiri.
Keluar Sejenak dari Algoritma
Yang paling berharga dari rehat ke taman adalah kesempatan buat lepas dari cengkeraman algoritma. Di rumah atau di kantor, kita selalu dikitai oleh notifikasi. Di taman, notifikasi kamu adalah suara burung atau teriakan abang tukang bakso yang lewat. Kamu bisa benar-benar "hadir" di detik itu juga. Mindfulness kalau kata orang-orang pintar.
Kadang lucu juga kalau dipikir-pikir. Kita rela bayar mahal buat aplikasi meditasi yang isinya rekaman suara alam, padahal suara alam yang asli ada di taman depan komplek atau pusat kota. Kita seringkali mencari ketenangan di tempat yang jauh, padahal ketenangan itu seringkali cuma sejauh jarak kita melangkah ke luar pintu.
Jadi, mumpung hari ini atau besok ada waktu luang, cobalah buat "mager" yang berkualitas. Tinggalkan laptopmu, taruh HP-mu di kantong, dan pergi ke taman terdekat. Pakai baju yang paling nyaman, nggak perlu dandan heboh seolah mau ke kondangan. Duduklah di bawah pohon, ambil napas panjang, dan biarkan dirimu nggak melakukan apa-apa selama satu jam saja. Percayalah, dunia nggak bakal kiamat cuma karena kamu berhenti sebentar buat sekadar napas.
Taman itu sudah menunggu. Pohon-pohonnya nggak bakal tanya kapan kamu nikah, atau kenapa kerjaanmu belum beres. Mereka cuma diam, memberikan keteduhan, dan mengingatkan kita kalau menjadi manusia itu nggak harus selalu soal lari cepat, tapi juga soal tahu kapan harus berhenti dan beristirahat. Selamat merayakan rehat, kawan-kawan yang butuh waras.
Next News

Bukan Cuma Asap yang Lewat, Tapi Racun yang Mengendap
28 minutes ago

Mitos atau Fakta: Dilema Mandi Tengah Malam bagi Kaum Budak Korporat
33 minutes ago

Dari Jerman Hingga Jadi Minuman 'Paling Jujur' di Lidah Kita
38 minutes ago

Ritual Dengerin Musik Sebelum Tidur: Antara Healing, Overthinking, dan Rahasia Tidur Nyenyak
43 minutes ago

Dilema Kulit Tepi Kuku yang Mengelupas: Dari Gemas Jadi Perih, Kok Bisa Sih?
an hour ago

Labu Kuning, Si Oranye yang Sering Dianaktirikan padahal Punya Spek Dewa
an hour ago

Kuku Berubah Warna dan Bergaris, Tanda Apa?
13 hours ago

Sejarah Uang Rupiah: Dari ORI hingga Era Digital
13 hours ago

Anemia vs Darah Rendah: Jangan Sampai Tertukar
13 hours ago

Otak Terasa Lemot? Ini Penyebabnya!
13 hours ago





