Ngabuburit: Awalnya Tradisi Sunda hingga menjadi Tradisi di seluruh Indonesia
RAU - Thursday, 19 February 2026 | 04:39 AM


Setiap Ramadan, istilah "ngabuburit" hampir selalu terdengar. Dari jalanan yang ramai menjelang magrib hingga taman kota yang dipenuhi keluarga, ngabuburit telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya puasa di Indonesia.
Namun, dari mana sebenarnya istilah ini berasal?
Asal Usul Kata Ngabuburit
Kata "ngabuburit" berasal dari bahasa Sunda, dari kata dasar "burit" yang berarti sore atau waktu menjelang magrib. Secara harfiah, ngabuburit berarti melakukan aktivitas sambil menunggu waktu sore atau magrib tiba.
Tradisi ini awalnya berkembang di wilayah Jawa Barat, khususnya dalam masyarakat Sunda. Seiring mobilitas penduduk dan penyebaran budaya melalui media, istilah ini kemudian dikenal secara nasional.
Tradisi Menunggu Magrib di Masa Lalu
Pada masa lampau, sebelum adanya televisi dan internet, masyarakat mengisi waktu menjelang berbuka dengan aktivitas sederhana seperti:
Mengaji di masjid atau surau,
Berjalan santai di kampung,
Berbincang dengan tetangga,
Bermain permainan tradisional.
Di beberapa daerah di Indonesia, kegiatan ini juga diiringi tradisi khas seperti bedug keliling atau pasar takjil sederhana.
Ngabuburit bukan sekadar menunggu waktu, tetapi menjadi momen mempererat hubungan sosial.
Perkembangan di Era Modern
Memasuki era urbanisasi dan digital, makna ngabuburit mengalami perluasan. Kini, aktivitasnya bisa berupa:
Berburu takjil di pasar Ramadan,
Nongkrong di kafe,
Mengikuti kajian atau acara komunitas,
Menonton konten Ramadan di media sosial.
Di kota-kota besar, ngabuburit bahkan menjadi bagian dari gaya hidup musiman. Ruang publik seperti taman kota dan pusat kuliner dipadati warga menjelang waktu berbuka.
Menariknya, istilah ngabuburit hampir tidak ditemukan di negara Muslim lain.
Tradisi menunggu berbuka tentu ada di banyak negara, tetapi istilah "ngabuburit" merupakan kekhasan Indonesia.
Ini menunjukkan bagaimana praktik keagamaan bisa beradaptasi dengan budaya lokal dan membentuk identitas khas.
Nilai Sosial di Balik Ngabuburit
Lebih dari sekadar kegiatan menunggu waktu, ngabuburit memiliki nilai:
Mempererat silaturahmi
Menghidupkan ekonomi kecil (penjual takjil)
Membangun suasana kebersamaan Ramadan
Menjadi ruang interaksi lintas generasi
Dalam konteks modern, ngabuburit juga menjadi sarana rekreasi ringan tanpa harus mengurangi makna ibadah puasa.
Kesimpulan
Ngabuburit bermula dari tradisi masyarakat Sunda di Jawa Barat dan kini menjadi budaya nasional setiap Ramadan. Dari aktivitas sederhana di kampung hingga keramaian kota besar, ngabuburit mencerminkan bagaimana budaya lokal memperkaya praktik keagamaan.
Tradisi ini bukan hanya tentang menunggu magrib, tetapi tentang kebersamaan dan suasana khas yang hanya terasa di bulan Ramadan.
Next News

Apakah Manusia Bisa Hidup di Planet Mars?
8 hours ago

Kota yang Tidak Pernah Gelap di Musim Panas: Fenomena Midnight Sun
8 hours ago

Kenapa Nyamuk Lebih Suka Menggigit Orang Tertentu?
12 hours ago

10 Trik Kecil yang Berdampak Besar Bagi Produktivitas dan Ketenangan Mental
12 hours ago

7 Kebiasaan Sehari-hari yang Tanpa Disadari Bisa Meningkatkan Risiko Kanker
12 hours ago

Shizuoka: Kota Cantik di Jepang yang Sering Terlupakan Wisatawan
8 minutes ago

Cara Bikin Nastar Lembut, Bukan Keras Seperti Kelereng
13 minutes ago

5 Area Rumah yang Wajib Dicek sebelum Ditinggal Mudik agar Perjalanan Lebih Tenang
18 minutes ago

Haruskah Memberi THR ke Keponakan Tiap Tahun? Ini Hal yang Perlu Dipertimbangkan
23 minutes ago

Cara Jaga Lambung Tetap Sehat Selama Bulan Ramadhan
33 minutes ago





