Aroma Hijau Penuh Kenangan: Mengungkap Keistimewaan Daun Pandan dalam Kuliner Nusantara
Tata - Thursday, 19 February 2026 | 02:45 PM


Aroma Wangi yang Bikin Kangen Rumah: Menakar Kesaktian Daun Pandan dalam Kuliner Kita
Pernahkah kalian berjalan melewati dapur saat ibu sedang memasak nasi, lalu tiba-tiba tercium aroma wangi yang sangat menenangkan? Bau itu bukan dari parfum mahal atau pengharum ruangan otomatis yang harganya selangit. Bau itu berasal dari selembar daun berwarna hijau tua yang diikat simpul dan dilemparkan begitu saja ke dalam rice cooker. Ya, dialah daun pandan, sang pahlawan tanpa tanda jasa dalam jagat kuliner Nusantara.
Kalau vanila punya reputasi mentereng di dunia Barat sebagai primadona aroma, maka di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, pandan adalah rajanya. Bahkan, para chef internasional mulai menyebutnya sebagai The Vanilla of the East. Tapi buat kita yang hidup di sini, pandan itu lebih dari sekadar "vanila versi timur". Pandan adalah identitas, memori masa kecil, dan rahasia di balik nikmatnya jajanan pasar yang sering kita lahap sambil ngeteh di sore hari.
Lebih dari Sekadar Pewarna Hijau
Banyak orang salah kaprah mengira fungsi utama pandan cuma buat bikin makanan jadi berwarna hijau. Padahal, kalau cuma mau warna hijau, kita bisa pakai pasta sintetis yang warnanya kadang lebih "ngejreng" sampai bikin mata silau. Tapi, apakah pasta itu bisa memberikan kedalaman rasa? Jawabannya tentu saja tidak. Pandan punya profil aroma yang kompleks: ada sentuhan nutty, sedikit manis, dan aroma rumput segar yang kalau kena panas, wanginya bisa menyebar sampai ke rumah tetangga sebelah.
Bayangkan makan bubur kacang hijau atau kolak tanpa aroma pandan. Rasanya pasti bakal hambar, datar, dan kehilangan "nyawa". Ada semacam perasaan kurang lengkap, seperti nonton film aksi tapi tanpa efek suara ledakan. Itulah magisnya pandan. Dia nggak perlu tampil dominan secara visual (karena kadang cuma dibuang setelah masak), tapi keberadaannya menentukan skor akhir sebuah hidangan.
Evolusi Pandan: Dari Dapur Nenek ke Kafe Estetik
Dulu, pandan identik dengan masakan rumahan atau jajanan tradisional kayak klepon, dadar gulung, dan putu ayu. Pokoknya vibes-nya sangat tradisional dan "tua". Tapi sekarang? Coba deh main ke kafe-kafe kekinian di Jakarta atau Jogja. Kalian bakal menemukan Pandan Latte, Pandan Cold Brew, atau bahkan Croissant dengan isian vla pandan yang lumer di mulut.
Pandan telah mengalami migrasi kelas. Dia nggak lagi cuma "nongkrong" di pasar kaget, tapi sudah naik pangkat masuk ke menu-menu premium dengan harga yang kadang bikin dompet menangis tipis. Fenomena ini menarik banget, karena menunjukkan bahwa potensi kuliner kita itu sebenarnya nggak ada habisnya. Kita punya bahan baku yang melimpah di halaman belakang rumah, yang kalau dipoles sedikit dengan teknik modern, bisa jadi barang mewah yang dicari orang asing.
Jujur saja, saya pribadi lebih suka pandan yang diolah secara jujur. Maksudnya, pandan yang benar-benar diperas airnya, bukan sekadar tetesan esens kimia dari botol plastik. Ada tekstur dan "rasa tanah" yang nggak bisa digantikan oleh mesin pabrik. Itulah yang bikin kuliner kita punya karakter kuat.
Kenapa Pandan Selalu Berhasil Menggoda Selera?
Secara sains (biar artikel ini kelihatan agak pintar sedikit), pandan mengandung senyawa aroma yang disebut 2-acetyl-1-pyr擴roline. Senyawa yang sama ini juga ditemukan pada nasi basmati dan melati. Jadi nggak heran kalau mencium bau pandan itu otomatis bikin perut kita keroncongan dan otak langsung mengirim sinyal "waktunya makan!".
Selain itu, penggunaan pandan dalam masakan kita itu sangat fleksibel. Dia bisa masuk ke hidangan manis (dessert) maupun gurih. Di Thailand, ada ayam goreng yang dibungkus daun pandan (Gai Hor Bai Toey). Di Indonesia, nasi kuning atau nasi uduk tanpa pandan itu rasanya kayak ada yang salah dengan hidup ini. Pandan punya kemampuan untuk menetralkan bau amis daging sekaligus mengangkat rasa santan jadi lebih elegan.
Obsesi Dunia pada Si Hijau Wangi
Beberapa tahun lalu, Nigella Lawson, seorang tokoh kuliner ternama dari Inggris, meramalkan bahwa pandan bakal jadi tren besar dunia menggantikan matcha. Ramalan itu nggak sepenuhnya salah. Sekarang, di London atau New York, kalian bisa menemukan cake pandan yang dijual dengan harga fantastis. Lucu ya, kita yang dari kecil sudah biasa makan bolu pandan seharga lima ribu per potong, tiba-tiba melihat dunia begitu terobsesi dengan apa yang ada di kebun kita.
Hal ini seharusnya bikin kita sadar kalau potensi kuliner lokal itu luar biasa. Kita seringkali terlalu sibuk memuja bahan-bahan impor kayak truffle atau saffron, sampai lupa kalau selembar daun yang harganya cuma seribu per ikat di pasar tradisional itu punya kekuatan untuk menduniakan rasa Indonesia.
Menjaga Tradisi di Tengah Gempuran Esens
Namun, ada sedikit keresahan yang muncul. Karena kepraktisan, banyak pedagang atau bahkan ibu rumah tangga sekarang lebih memilih pakai pasta pandan botolan. Padahal, aroma pandan asli itu jauh lebih lembut dan nggak meninggalkan rasa pahit di lidah (aftertaste). Mengolah pandan asli memang butuh usaha lebih: harus dicuci, dipotong-potong, diblender, lalu diperas pakai kain. Ribet? Mungkin. Tapi sepadan? Banget!
Menggunakan pandan asli adalah bentuk penghargaan kita terhadap proses memasak. Memasak itu kan bukan cuma soal bikin perut kenyang, tapi juga soal seni dan dedikasi. Menghirup aroma daun pandan segar yang baru dipetik itu adalah sebuah kemewahan yang seharusnya tidak kita gantikan dengan cairan hijau neon dalam botol.
Penutup: Mari Kembali ke Akar
Jadi, buat kalian yang mungkin selama ini cuma melihat daun pandan sebagai hiasan atau penghuni pojokan kulkas yang layu, yuk mulai berikan apresiasi lebih. Masaklah nasi dengan selembar pandan besok pagi. Atau coba bikin sirup pandan sendiri di rumah. Rasakan bedanya, rasakan kedalamannya.
Pandan bukan sekadar bumbu; dia adalah memori kolektif bangsa kita. Dia adalah bukti bahwa kesederhanaan, jika dikelola dengan hati, bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Kuliner Nusantara tanpa pandan mungkin akan tetap ada, tapi ia akan kehilangan kehangatan yang selama ini kita kenal. Jangan sampai kita baru sibuk menghargai pandan setelah ia dipatenkan atau diklaim oleh bangsa lain hanya karena kita terlalu malas untuk menanamnya di pot depan rumah.
Mari nikmati setiap helai aromanya, karena di balik warna hijaunya yang tenang, tersimpan potensi kuliner yang bisa membawa kita keliling dunia lewat satu suapan saja.
Next News

Bangun Pagi Demam Menyerang? Jangan Panik, Lakukan Hal Ini Segera
in 7 hours

Jangan Dibuang! Daun Kencur Ternyata Punya Banyak Manfaat
in 6 hours

Singkong Naik Kelas: Dari Camilan Kampung Jadi Sajian Modern yang Bikin Bangga
in 6 hours

Manfaat Luar Biasa Treadmill yang Sering Dilupakan Orang Urban
in 6 hours

Tak Sekadar Estetika: 5 Tanaman Merambat Multifungsi yang Bikin Rumah Asri dan Produktif
in 5 hours

Tips Masak Nasi Goreng Spesial untuk Pemula di Rumah
in 5 hours

Tidur Berkualitas, Agar Bangun Lebih Segar
7 hours ago

Mengapa Diabetes Kini Mengintai Anak-Anak?
7 hours ago

Martabak Manis, Jajanan Legendaris dengan Topping Melimpah yang Selalu Menggoda
in an hour

Kenapa Kita Sering Mengantuk Saat Berpuasa? Ini Penjelasan Ilmiahnya
in an hour





