Jumat, 13 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Menilik Alasan Kenapa Padangsidimpuan Disebut Kota Salak, Padahal Kebunnya Bukan di Sana?

Liaa - Friday, 13 February 2026 | 10:10 PM

Background
Menilik Alasan Kenapa Padangsidimpuan Disebut Kota Salak, Padahal Kebunnya Bukan di Sana?

Menilik Alasan Kenapa Padangsidimpuan Disebut Kota Salak, Padahal Kebunnya Bukan di Sana?

Kalau kita bicara soal Sumatera Utara, biasanya pikiran orang langsung tertuju pada kemacetan Medan, indahnya Danau Toba, atau durian Ucok yang legendaris itu. Tapi, geser sedikit ke arah selatan, sekitar 8 sampai 10 jam perjalanan darat dari Medan, kamu bakal ketemu sebuah kota yang punya hawa cukup unik. Namanya Padangsidimpuan. Kota ini punya gelar yang melekat kuat banget di kepala banyak orang: Kota Salak.

Buat kamu yang baru pertama kali mampir, mungkin bakal membayangkan sepanjang jalan protokol bakal berjejer pohon salak yang buahnya tinggal petik. Atau minimal, taman kotanya penuh dengan ornamen buah bersisik itu. Well, ornamennya memang ada sih, tapi kalau kamu nyari kebun salak di tengah kota, siap-siap kecewa karena yang bakal kamu temui ya ruko-ruko, pasar yang ramai, dan angkot-angkot yang sopirnya punya skill setara pembalap F1.

Terus, kenapa dong gelarnya "Kota Salak"? Apakah ini cuma strategi marketing biar kelihatan keren atau ada sejarah panjang di baliknya? Mari kita bedah pelan-pelan sambil ngopi.

Ironi Si Kota Dagang

Fakta unik pertama yang harus kamu tahu adalah: Padangsidimpuan itu sebenarnya nggak punya kebun salak yang luas secara administratif. Lho, kok bisa? Jadi gini, secara geografis, Kota Padangsidimpuan itu dulunya adalah ibu kota dari Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel). Nah, kebun-kebun salak yang melimpah ruah itu sebenarnya berada di wilayah kabupaten, tepatnya di daerah lereng Gunung Lubuk Raya, seperti di Kecamatan Angkola Barat dan sekitarnya (daerah Sibakua dan Parsalakan).

Lalu kenapa julukannya malah nempel di Padangsidimpuan? Jawabannya sederhana: pusat perdagangan. Sejak zaman dulu, petani-petani salak dari lereng gunung turun gunungnya ke Padangsidimpuan buat menjual hasil panen mereka. Kota ini adalah hub, tempat berkumpulnya para tengkulak, pedagang eceran, sampai pelancong yang mau beli oleh-oleh. Ibaratnya, Padangsidimpuan itu etalase raksasanya, sementara Tapanuli Selatan adalah pabriknya.

Ini mirip-mirip lah sama fenomena Jogja yang dijuluki Kota Pelajar padahal mahasiswanya banyak yang dari luar daerah, atau Bandung yang dijuluki Paris van Java. Padangsidimpuan sukses "mengklaim" nama salak karena di sinilah orang-orang bisa dengan gampang nemuin buah salak dalam jumlah yang nggak masuk akal, terutama kalau lagi musim panen raya.

Salak Sibakua: Si Manis-Sepat yang Bikin Kangen

Kalau ngomongin salak, kita biasanya kenal Salak Pondoh dari Sleman yang manisnya minta ampun. Tapi salak dari daerah Padangsidimpuan ini punya karakter yang beda banget. Namanya Salak Sibakua. Ukurannya biasanya lebih besar, daging buahnya tebal, warnanya putih bersih agak kekuningan, dan rasanya? Wah, ini dia kuncinya.

Salak Sidimpuan itu punya kombinasi rasa manis, asam, dan ada sedikit rasa sepat yang tipis banget di ujung lidah. Buat sebagian orang, rasa sepat ini justru yang bikin nagih karena bikin buahnya terasa "segar" dan nggak ngebosenin. Teksturnya juga sangat renyah, kriuk-kriuk gitu pas digigit. Kalau kamu sudah terbiasa makan salak ini, makan salak yang cuma manis doang bakal terasa kurang tantangan.

Saking ikoniknya buah ini, pemerintah setempat sampai bikin Tugu Salak di pusat kota. Meskipun sempat beberapa kali ganti desain, tugu ini jadi simbol validasi kalau kamu memang sudah sampai di jantungnya Tapanuli bagian selatan. Belum sah ke Sidimpuan kalau belum foto di depan tugu atau minimal bawa satu keranjang salak pas pulang.

Vibe Belanja di Pasar Sangkumpal Bonang

Kalau mau merasakan atmosfer "Kota Salak" yang sesungguhnya, kamu wajib melipir ke sekitar Pasar Sangkumpal Bonang atau di sepanjang jalan menuju arah Sibolga. Di sana, kamu bakal melihat pemandangan yang nggak ada habisnya: tumpukan salak di mana-mana. Para pedagang biasanya menyusun salak dalam keranjang rotan besar yang disebut panyambungan.

Interaksi di sini juga seru. Kamu bakal denger suara khas orang Mandailing atau Angkola yang lagi tawar-menawar dengan nada yang sekilas terdengar keras tapi sebenarnya ramah. "Berapa sekilo, Inang?" "Murah aja, Amang, ambil lah dua keranjang!"

Yang menarik, salak di sini nggak cuma dijual buah segar doang. Warga lokal kreatif banget mengolah salak jadi berbagai macam produk. Ada dodol salak, keripik salak, sampai sirup salak. Ini yang bikin ekonomi di Padangsidimpuan terus berputar. Jadi, gelar Kota Salak itu bukan cuma soal nama, tapi sudah jadi urat nadi kehidupan ekonomi masyarakatnya.

Bukan Sekadar Nama, Tapi Identitas

Sebenarnya ada sedikit keresahan dari anak muda lokal atau pengamat kota tentang julukan ini. Beberapa orang bilang, "Ah, masa cuma salak doang? Sidimpuan kan punya potensi lain." Tapi jujur saja, branding Kota Salak itu sudah terlalu kuat. Ia sudah jadi identitas kolektif. Mau ke mana? Ke Sidimpuan, beli salak.

Meskipun sekarang Padangsidimpuan sudah makin modern dengan masuknya kafe-kafe kekinian, mall, dan berbagai franchise nasional, aroma khas salak yang dibawa angin dari pasar tetap jadi pengingat akan rumah bagi para perantau. Julukan ini adalah pengikat emosional. Salak bukan sekadar komoditas, tapi cerita tentang tanah yang subur dan orang-orang yang gigih berdagang.

Jadi, kalau nanti kamu punya kesempatan main ke Sumatera Utara, jangan berhenti di Danau Toba saja. Teruskan perjalanan ke selatan. Nikmati perjalanan berliku yang penuh pemandangan hijau, lalu berhentilah di Padangsidimpuan. Rasakan sensasi makan salak langsung di tempat asalnya—eh maksudnya, di etalase asalnya. Karena di setiap gigitan salak Sidimpuan yang renyah itu, ada sejarah panjang tentang sebuah kota yang menjadi muara bagi kemakmuran petani di sekitarnya.

Kesimpulannya, kenapa disebut Kota Salak? Ya karena Padangsidimpuan adalah tempat terbaik untuk merayakan keberadaan buah itu. Meskipun pohonnya nggak tumbuh di depan balai kota, tapi jiwa kota ini memang sudah terbungkus rapi oleh kulit salak yang bersisik itu. Tertarik buat mencoba?

Tags