Jumat, 13 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kenapa Durian Bisa Bikin Kita "Teler"?

Liaa - Friday, 13 February 2026 | 06:25 PM

Background
Kenapa Durian Bisa Bikin Kita "Teler"?

Mabuk Durian: Antara Nikmat Surgawi dan Begah yang Tak Terperi

Mari kita jujur satu hal: siapa yang bisa menahan godaan aroma durian yang menusuk hidung saat musimnya tiba? Di Indonesia, durian bukan sekadar buah. Dia adalah agama bagi sebagian orang, dan musuh bebuyutan bagi sebagian lainnya. Tapi buat kita yang memuja tekstur creamy dan rasa manis pahitnya yang khas, melihat tumpukan buah berduri di pinggir jalan itu rasanya seperti melihat harta karun yang menunggu untuk digali. Masalahnya, kita sering kali lupa daratan. Satu biji? Mana cukup. Dua biji? Tanggung. Satu buah utuh? Nah, di sinilah petaka dimulai.

Fenomena "mabuk durian" itu nyata, Kawan. Ini bukan sekadar istilah keren-kerenan. Ada satu titik di mana lidah kita masih pengin nambah, tapi perut sudah mulai memberikan sinyal protes. Rasanya seperti ada perang saudara di dalam lambung. Gas mulai naik, dada terasa panas, dan kepala mulai keliyengan. Kalau sudah begini, nikmat surgawi yang tadi kita puja-puji mendadak berubah jadi penyesalan yang mendalam.

Kenapa Durian Bisa Bikin Kita "Teler"?

Secara sains—biar kita nggak cuma modal mitos doang—durian itu mengandung karbohidrat, lemak, dan gula yang sangat tinggi. Bayangkan saja, satu buah durian ukuran sedang bisa mengandung kalori yang setara dengan tiga porsi nasi padang lengkap dengan rendangnya. Jadi, kalau kamu makan satu buah sendirian, kamu sebenarnya baru saja melakukan maraton makan besar dalam waktu singkat. Wajar saja kalau tubuh kaget dan sistem pencernaan kerja rodi buat mengolahnya.

Selain kalori yang gila-gilaan, durian juga punya kandungan sulfur atau belerang. Inilah yang bikin sendawa kita setelah makan durian baunya bisa mengalahkan parfum ruangan paling menyengat sekalipun. Gas yang dihasilkan dari proses pemecahan durian di perut inilah yang bikin rasa "begah" dan kembung. Ditambah lagi, durian punya efek termogenik alias bikin suhu tubuh naik. Itulah kenapa setelah makan durian dalam jumlah banyak, kita merasa kegerahan luar biasa, bahkan meskipun AC sudah diatur ke suhu paling dingin.

Banyak orang bilang kalau durian itu mengandung alkohol. Secara teknis, kalau duriannya sudah terlalu matang, memang ada proses fermentasi alami yang menghasilkan sedikit alkohol. Tapi sebenarnya bukan alkohol itu yang bikin kita pening, melainkan lonjakan gula darah yang drastis. Tubuh kita dipaksa memproses gula sebanyak itu dalam waktu singkat, dan efeknya mirip seperti sugar rush yang berakhir dengan crash alias lemas tak berdaya.

Seni Menikmati Tanpa Harus Tersiksa

Banyak dari kita yang punya ritual unik sehabis pesta durian. Yang paling legendaris tentu saja adalah minum air putih dari cekungan kulit duriannya langsung. Katanya sih, ini buat menangkal panas dan menghilangkan bau mulut. Apakah ini medis? Probabilitasnya kecil. Tapi secara psikologis, ritual ini memberikan rasa tenang. Lagipula, ada kepuasan tersendiri saat kita meminum air dari "mangkuk" alami tersebut, seolah-olah kita sedang menghormati sang buah sampai ke tetes terakhir.

Lalu ada juga kepercayaan soal makan manggis setelah durian. Manggis sering dijuluki "Queen of Fruit" sementara durian adalah "King of Fruit". Katanya, mereka adalah pasangan serasi; durian itu panas, manggis itu dingin. Secara logika, manggis memang mengandung banyak air dan serat yang bisa membantu meredam efek gas durian. Tapi ya jangan mentang-mentang ada manggis, terus kamu hajar durian tiga buah sekaligus. Itu namanya cari perkara sama ginjal sendiri.

Observasi jujur saya, makan durian itu sebenarnya aktivitas sosial. Jarang ada orang yang benar-benar bahagia makan durian sendirian di pojokan kamar sambil gelap-gelapan. Durian itu enak kalau dimakan bareng teman-teman di pinggir jalan, sambil bercanda, dan saling berebut biji yang paling berdaging tebal. Masalahnya, suasana kompetitif inilah yang sering memicu kita makan berlebihan. "Wah, si A udah habis lima biji, masa saya kalah?" Ego inilah yang biasanya berakhir dengan kerokan di malam hari.

Jangan Lupakan Batasan, Wahai Pemuja Aroma Tajam

Bagi kamu yang punya riwayat hipertensi atau diabetes, durian adalah "mantan yang beracun". Dia sangat menggoda, tapi bisa bikin hidupmu berantakan dalam sekejap. Kandungan kaliumnya yang tinggi memang baik buat otot, tapi kalau berlebihan malah bisa bikin tekanan darah melonjak. Begitu juga dengan gulanya. Jangan pernah meremehkan buah ini hanya karena dia tumbuh dari pohon dan terlihat alami. Alami bukan berarti tanpa risiko.

Pernah dengar cerita orang yang pingsan atau bahkan meninggal setelah makan durian dalam jumlah ekstrem? Biasanya itu terjadi karena ada komorbid alias penyakit bawaan yang dipicu oleh lonjakan metabolisme secara mendadak. Jadi, tetaplah jadi penikmat durian yang cerdas. Tahu kapan harus berhenti bukan berarti kamu lemah, itu artinya kamu sayang nyawa supaya musim depan masih bisa makan durian lagi.

Kesimpulan: Moderasi adalah Koentji

Pada akhirnya, durian akan tetap menjadi primadona di tanah air. Musim durian akan selalu disambut dengan gempita, story Instagram akan penuh dengan foto daging buah kuning yang montok, dan aroma di pasar akan tetap membuat kita menelan ludah. Tapi ingat, segala sesuatu yang berlebihan itu jarang berakhir indah. Makan durian itu seperti jatuh cinta; kalau secukupnya bikin bahagia, kalau berlebihan malah bikin nyesek di dada.

Tags