Benarkah Kerokan Efektif Mengatasi Masuk Angin? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Tata - Monday, 09 February 2026 | 10:01 AM


Kerokan telah lama menjadi bagian dari budaya kesehatan tradisional di Indonesia. Praktik ini biasanya dilakukan dengan menggosok kulit menggunakan koin atau benda tumpul dan minyak, hingga muncul garis-garis kemerahan di punggung atau leher. Masyarakat meyakini bahwa kerokan dapat mengeluarkan "angin" penyebab pegal, masuk angin, dan badan tidak enak.
Namun, dalam dunia medis modern, istilah masuk angin sendiri tidak dikenal sebagai diagnosis klinis. Menurut Kementerian Kesehatan RI, keluhan yang sering disebut masuk angin sebenarnya merupakan kumpulan gejala seperti kelelahan, nyeri otot, perut kembung, atau infeksi ringan saluran napas.
Apa yang Terjadi di Tubuh Saat Kerokan?
Secara fisiologis, kerokan menimbulkan iritasi ringan pada kulit yang memicu pelebaran pembuluh darah lokal (vasodilatasi). Menurut Dr. Peter Shearwood, dokter dan penulis medis, peningkatan aliran darah di area yang dikerok dapat menimbulkan sensasi hangat dan rileks, sehingga nyeri otot terasa berkurang.
Penelitian yang dimuat dalam Journal of Traditional and Complementary Medicine menjelaskan bahwa kerokan juga dapat menstimulasi saraf perifer, memicu pelepasan endorfin—zat kimia alami tubuh yang berperan dalam mengurangi rasa nyeri dan menciptakan rasa nyaman.
Inilah sebabnya banyak orang merasa lega dan lebih enak setelah kerokan, meskipun penyebab utama keluhan belum tentu hilang sepenuhnya.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kerokan dapat:
1.Mengurangi ketegangan otot sementara
2.Memberikan efek relaksasi
3.Membantu meredakan nyeri ringan,
Studi kecil yang dipublikasikan di Pain Medicine Journal menunjukkan bahwa terapi gosokan kulit seperti kerokan dapat meningkatkan toleransi nyeri dalam jangka pendek melalui mekanisme neurofisiologis.
Namun, para ahli menekankan bahwa manfaat ini bersifat sementara dan tidak menyembuhkan penyakit dasar, seperti infeksi virus atau gangguan pencernaan.
Meski tergolong aman bila dilakukan dengan benar, kerokan tetap memiliki risiko. Para pakar kesehatan pernah menjelaskan bahwa kerokan yang terlalu keras dapat menyebabkan:
Memar berlebihan,iritasi kulit,dan luka terbuka.
Selain itu, kerokan tidak dianjurkan pada anak kecil, lansia dengan kulit rapuh, penderita gangguan pembekuan darah, atau orang dengan penyakit kulit tertentu.
Dari sudut pandang medis, kerokan boleh dilakukan sebagai terapi komplementer, bukan pengganti pengobatan utama. Dokter menyarankan untuk tetap mencari penyebab keluhan, terutama bila gejala disertai demam tinggi, muntah terus-menerus, atau nyeri berat.
Dengan kata lain, kerokan lebih berfungsi sebagai pereda gejala, bukan solusi medis jangka panjang.
Next News

Andaliman, Rempah Khas Batak yang Dijuluki "Lada Sansho dari Indonesia"
13 hours ago

Kenapa Ngantuk Setelah Makan Siang? Ini Penjelasan Medisnya.
14 hours ago

Samosir, Panggung Budaya Nusantara: Penganugerahan Desa Budaya Se-Indonesia Jadi Bukti Warisan Lokal yang Hidup
14 hours ago

Air Lemon,Sajikan dengan Tepat dan Rasakan Manfaatnya.
15 hours ago

Usus yang Tenang, Tubuh pun Seimbang
15 hours ago

Tren Warna Lipstik Favorit di Tahun 2026 yang Banyak Dipilih Sumber: Berbagai laporan tren kecantikan internasional, termasuk Glamour, Allure, dan forecast warna makeup 2026 terbaru
17 hours ago

7 Cara Menghilangkan Bau Amis di Talenan Kayu Secara Alami dengan Bahan Dapur
17 hours ago

Menata Pola Tidur di Tengah Era Digital
17 hours ago

Psoriasis: Ketika Sistem Imun Menyampaikan Pesan Lewat Kulit
17 hours ago

Biometrik Wajah Jadi Syarat Baru Pendaftaran Kartu Seluler Baru di Indonesia
17 hours ago





