Senin, 9 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Andaliman, Rempah Khas Batak yang Dijuluki "Lada Sansho dari Indonesia"

Tata - Monday, 09 February 2026 | 09:58 AM

Background
Andaliman, Rempah Khas Batak yang Dijuluki "Lada Sansho dari Indonesia"

Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium) adalah rempah endemik dataran tinggi Sumatra Utara, terutama wilayah Toba, Samosir, dan sekitarnya. Tanaman ini tumbuh subur di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut, dengan iklim sejuk dan tanah vulkanik yang subur.

Secara botani, andaliman masih satu keluarga dengan lada Sichuan dari Tiongkok dan sansho dari Jepang. Namun, para ahli menyebut andaliman memiliki profil aroma dan rasa yang lebih tajam dan kompleks, sehingga menjadi identitas kuat masakan Batak.

Menurut William Wongso, pakar kuliner Indonesia, andaliman bukan sekadar pedas, melainkan memberikan sensasi tingling atau kebas ringan di lidah. Sensasi ini berasal dari senyawa aktif sanshool, yang juga ditemukan pada lada Sichuan.

Ahli teknologi pangan menjelaskan bahwa senyawa tersebut bekerja dengan menstimulasi reseptor saraf trigeminal di mulut, sehingga menciptakan sensasi unik yang berbeda dari cabai atau lada hitam.

Inilah yang membuat masakan berbumbu andaliman, seperti arsik ikan mas, saksang, dan naniura, memiliki karakter rasa yang tak tergantikan.

Bagi masyarakat Batak, andaliman bukan hanya bumbu dapur, melainkan bagian dari identitas budaya. Dalam tradisi kuliner Batak, penggunaan andaliman sering dikaitkan dengan acara adat, pesta keluarga, dan perayaan penting.

Antropolog kuliner menyebut bahwa aroma kuat andaliman berfungsi sebagai "penanda budaya", karena langsung mengingatkan pada tanah Batak dan masakan rumah. Karena sifatnya yang mudah kehilangan aroma jika disimpan terlalu lama, andaliman segar dianggap paling bernilai.

Kandungan Senyawa Aktif dan Potensi Kesehatan

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Ethnopharmacology menyebutkan bahwa andaliman mengandung senyawa bioaktif seperti:

Alkaloid,flavonoid,terpenoid,minyak atsiri.

Menurut Dr. Irma Herawati, peneliti pangan dari IPB University, senyawa tersebut berpotensi memiliki aktivitas antioksidan dan antimikroba.

Secara tradisional, andaliman digunakan untuk membantu menghangatkan tubuh dan meningkatkan nafsu makan.

Meski demikian, para ahli menekankan bahwa manfaat kesehatan andaliman masih perlu diteliti lebih lanjut melalui uji klinis, dan konsumsinya sebaiknya tetap dalam batas wajar sebagai bumbu.Dalam beberapa tahun terakhir, andaliman mulai menarik perhatian chef profesional dan peneliti gastronomi. Beberapa chef menyebut andaliman sebagai hidden gem spice dari Indonesia, karena karakternya yang kompleks dan sulit ditiru.

Chef internasional yang mengeksplorasi kuliner Nusantara menyamakan peran andaliman dalam masakan Batak dengan wasabi di Jepang atau saffron di Timur Tengah: sedikit, tetapi menentukan keseluruhan rasa.

Meski potensinya besar, andaliman masih tergolong sulit dibudidayakan secara massal. Tanaman ini membutuhkan kondisi lingkungan spesifik dan waktu panen yang tidak singkat.

Ahli pertanian dari Universitas Sumatra Utara menyebut bahwa pengembangan andaliman perlu pendekatan agroforestri agar tidak merusak ekosistem pegunungan tempatnya tumbuh alami.