Senin, 9 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kenapa Ngantuk Setelah Makan Siang? Ini Penjelasan Medisnya.

Tata - Monday, 09 February 2026 | 09:23 AM

Background
Kenapa Ngantuk Setelah Makan Siang? Ini Penjelasan Medisnya.

Hampir semua orang pernah mengalaminya. Setelah makan siang, mata terasa berat, fokus menurun, dan tubuh seolah meminta jeda. Di tengah tuntutan produktivitas, kondisi ini sering memunculkan rasa bersalah—seakan tubuh tidak cukup kuat atau disiplin. Padahal, kantuk setelah makan siang adalah bagian dari mekanisme alami tubuh, bukan tanda kelemahan pribadi.

Secara fisiologis, setelah makan, tubuh secara otomatis mengalihkan sebagian aliran darah ke sistem pencernaan. Lambung dan usus membutuhkan suplai energi besar untuk memecah dan menyerap nutrisi. Konsekuensinya, aliran darah ke otak sedikit berkurang, sehingga tingkat kewaspadaan menurun dan rasa kantuk muncul secara alami.

Jenis makanan yang dikonsumsi turut menentukan seberapa kuat efek ini terasa. Makanan tinggi karbohidrat sederhana—seperti nasi putih dalam porsi besar, roti olahan, atau makanan manis—dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat. Tubuh lalu melepaskan insulin dalam jumlah besar untuk menurunkannya kembali. Fluktuasi inilah yang sering memicu rasa lemas dan mengantuk tak lama setelah makan.

Sebaliknya, kombinasi karbohidrat dengan protein, serat, dan lemak sehat membantu menjaga kestabilan energi. Inilah sebabnya mengapa orang yang makan dengan komposisi seimbang cenderung mengalami kantuk yang lebih ringan dibanding mereka yang makan hingga terlalu kenyang dengan menu dominan karbohidrat.

Selain faktor metabolik, hormon juga berperan penting. Setelah makan, tubuh meningkatkan produksi serotonin, hormon yang menimbulkan rasa nyaman dan rileks. Serotonin ini kemudian menjadi bahan dasar pembentukan melatonin, hormon yang mengatur rasa kantuk.

Proses ini membuat tubuh secara alami "menurunkan tempo" setelah makan.

Fenomena ini diperkuat oleh ritme sirkadian, jam biologis internal manusia.

Secara alami, tubuh memang mengalami penurunan kewaspadaan pada rentang waktu siang hari, umumnya antara pukul 13.00 hingga 15.00. Kondisi ini dikenal sebagai post-lunch dip dan dapat terjadi bahkan tanpa makan siang dalam porsi besar.

Kantuk setelah makan akan terasa lebih berat jika tubuh kurang tidur di malam hari. Kurang tidur membuat otak lebih sensitif terhadap perubahan energi, sehingga makan siang menjadi pemicu tambahan yang mempercepat rasa lelah.

Namun, tubuh sebenarnya memberi ruang untuk beradaptasi.

Bergerak ringan setelah makan—seperti berjalan santai beberapa menit atau sekadar berdiri dan meregangkan tubuh—membantu melancarkan sirkulasi darah tanpa mengganggu pencernaan. Paparan cahaya alami, terutama sinar matahari siang, juga membantu otak mempertahankan fase waspada.

Asupan cairan pun sering diabaikan. Dehidrasi ringan dapat memperparah rasa lelah dan mengaburkan sinyal tubuh, sehingga kantuk terasa lebih intens.

Minum air putih setelah makan membantu menjaga fungsi metabolik dan kognitif tetap stabil.

Pada akhirnya, kantuk setelah makan siang bukanlah musuh yang harus dilawan dengan kafein berlebihan. Ia adalah sinyal tubuh yang meminta keseimbangan: pola makan yang lebih bijak, ritme istirahat yang cukup, dan gaya hidup yang memberi ruang bagi tubuh untuk bekerja sesuai mekanismenya.