Sabtu, 14 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kenangan Kecut Cermai: Seni Mengolah Buah Sangar Jadi Camilan Nagih

Liaa - Friday, 13 February 2026 | 08:45 PM

Background
Kenangan Kecut Cermai: Seni Mengolah Buah Sangar Jadi Camilan Nagih

Kenangan Kecut Cermai: Seni Mengolah Buah Sangar Jadi Camilan Nagih

Pernah nggak sih kamu lagi jalan-jalan di area perumahan lama atau lewat di depan rumah nenek, terus lihat pohon rimbun dengan buah kecil-kecil berwarna kuning pucat yang bergelantungan di dahan? Kalau kamu berani memetiknya satu lalu langsung digigit tanpa persiapan mental, saya jamin wajah kamu bakal langsung berubah drastis. Mata merem-melek, bibir monyong, dan mungkin air liur mendadak banjir di mulut. Ya, itulah cermai. Buah yang level kecutnya nggak main-main, bahkan bisa bikin jeruk nipis minder kalau diajak adu asam.

Cermai, atau yang sering disebut Otaheite gooseberry, memang punya reputasi sebagai buah "sangar". Rasanya yang asam ekstrem membuat buah ini jarang banget dimakan langsung sebagai pencuci mulut setelah makan siang. Tapi anehnya, buah ini punya tempat tersendiri di hati kita sebagai simbol nostalgia masa kecil. Sayangnya, pohon cermai sekarang sudah mulai langka, kalah saing sama tanaman hias kekinian atau ruko-ruko yang makin menjamur. Padahal, kalau tahu cara mengolahnya, buah mungil ini bisa berubah jadi camilan yang bikin lidah nggak mau berhenti bergoyang.

Jangan Langsung Dimasak: Rahasia Menaklukkan Rasa Asam

Kesalahan terbesar orang saat pertama kali memegang cermai adalah langsung merebusnya dengan gula begitu saja. Padahal, cermai itu ibarat gebetan yang lagi marah; nggak bisa langsung diajak ngobrol baik-baik, harus ditenangkan dulu. Rahasia utama mengolah cermai terletak pada proses pra-pengolahan atau "penjinakan" rasa asamnya.

Cara paling klasik yang dilakukan orang-orang zaman dulu adalah dengan mememarkan atau mengeprek buah cermai satu per satu. Jangan sampai hancur ya, cukup sampai kulitnya retak-retak saja. Setelah itu, cermai yang sudah "babak belur" ini diremas-remas dengan garam kasar. Tujuannya apa? Biar cairan asam yang ada di dalam daging buahnya keluar. Setelah diremas, cuci bersih dengan air mengalir. Kalau kamu melewati tahap ini, saya jamin manisan cermai bikinanmu bakal punya rasa asam yang menusuk sampai ke ulu hati.

Satu lagi tips pro: rendam cermai dalam air kapur sirih selama semalam. Air kapur sirih ini adalah koentji kalau kamu pengen manisan yang teksturnya tetap garing dan nggak benyek saat dimasak. Rasanya bakal jauh lebih elegan, ada sensasi *crunchy* saat digigit, tapi bagian dalamnya lembut.

Manisan Cermai: Primadona Nostalgia

Kalau kita bicara soal olahan cermai, manisan adalah rajanya. Ada dua aliran besar di sini: manisan basah dan manisan kering. Untuk kamu yang suka sensasi segar, manisan basah adalah jawabannya. Caranya simpel banget setelah tahap perendaman tadi. Kamu tinggal merebus air dengan gula pasir yang jumlahnya nggak usah pelit-pelit—ingat, kita lagi perang lawan rasa asam yang militan.

Supaya tampilannya makin menggugah selera ala jajan masa sekolah, tambahkan sedikit pewarna makanan merah atau hijau. Masak dengan api kecil sampai airnya menyusut dan meresap ke dalam pori-pori cermai. Biarkan dingin, lalu masukkan ke kulkas. Makan manisan cermai dingin-dingin di siang hari pas lagi panas-panasnya itu rasanya seperti dapet transferan mendadak: bikin melek dan semangat lagi!

Nah, kalau kamu tipe yang suka camilan untuk teman nonton film, manisan kering bisa jadi pilihan. Prosesnya hampir sama, cuma setelah direbus dengan air gula kental, cermai harus dijemur di bawah sinar matahari atau dioven dengan suhu rendah sampai permukaannya berbalut kristal gula. Rasanya? Manis di depan, tapi ada kejutan asam tipis-tipis di akhir yang bikin ketagihan.

Cermai di Dunia Sambal: Pengganti Tomat yang Jenius

Mungkin nggak banyak anak muda zaman sekarang yang tahu kalau cermai itu sebenarnya bumbu dapur yang dahsyat. Di daerah pesisir atau pedesaan, cermai sering banget dijadikan pengganti tomat atau asam jawa dalam sambal. Bayangkan sambal terasi pedas yang biasanya pakai jeruk limau, diganti dengan cermai yang sudah digeprek kasar. Rasanya jadi lebih "deep" dan segar dengan aroma buah yang khas.

Cermai juga sangat cocok disandingkan dengan ikan bakar atau ikan goreng. Asamnya cermai punya kemampuan ajaib untuk menetralkan bau amis ikan sekaligus memberikan dimensi rasa baru yang nggak bakal kamu dapatkan dari cuka botolan. Kalau kamu merasa masakanmu rasanya gitu-gitu aja, coba deh iseng lempar 5-10 butir cermai geprek ke dalam kuah pindang atau sambal ulekmu. *Trust me, it's a game changer.*

Rujak Cermai: Level Pedas yang Berbeda

Kalau manisan terlalu ribet dan sambal terlalu berat, cara paling simpel dan paling "anak muda" untuk menikmati cermai adalah dengan menjadikannya rujak. Tapi tolong, jangan cuma dicocol garam dan cabai biasa. Coba buat bumbu rujak kacang yang kental dengan gula merah yang melimpah.

Tekstur cermai yang agak berair saat digigit akan bercampur dengan legitnya gula merah dan gurihnya kacang tanah. Rasa asam cermai yang "nendang" bakal langsung dibalut oleh rasa manis pedas yang harmonis. Ini adalah definisi camilan yang bikin mata melek seketika kalau lagi ngantuk ngerjain tugas atau kerjaan kantor yang nggak kelar-kelar.

Kesimpulan: Beri Kesempatan pada Buah Lokal

Di tengah gempuran buah-buah impor yang tampilannya *instagrammable* dan manisnya seragam, cermai menawarkan karakter yang jujur dan menantang. Mengolah cermai memang butuh kesabaran ekstra—mulai dari memetiknya yang harus hati-hati agar tidak rontok, sampai proses menghilangkan asamnya yang memakan waktu. Tapi jujur saja, di situlah letak seninya.

Mengolah cermai bukan cuma soal bikin makanan, tapi soal merawat kenangan. Jadi, kalau kebetulan kamu melihat ada tetangga yang pohon cermainya sedang berbuah lebat dan nggak ada yang memetik, jangan sungkan buat minta (atau beli). Bawa pulang, praktekkan tips di atas, dan buktikan sendiri kalau buah paling asam sedunia ini bisa berubah jadi camilan paling dicari di meja tamu. Selamat mencoba, dan siap-siap saja lidahmu berdansa!

Tags