Sabtu, 14 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Daun Kelor: Benarkah Superfood atau Sekedar Tren?

Liaa - Friday, 13 February 2026 | 08:51 AM

Background
Daun Kelor: Benarkah Superfood atau Sekedar Tren?

Daun kelor (Moringa oleifera) bukan tanaman baru di Indonesia. Sejak lama, masyarakat mengonsumsinya sebagai sayur bening atau campuran jamu. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kelor mendunia dan dipasarkan dalam bentuk kapsul, teh, hingga bubuk smoothie.

Organisasi pangan dunia Food and Agriculture Organization (FAO) menyebut kelor sebagai tanaman dengan potensi nutrisi tinggi, terutama di negara berkembang untuk membantu mengatasi masalah kekurangan gizi.

Lalu, apa sebenarnya kandungan daun kelor?

°Kandungan Gizi Daun Kelor

Secara ilmiah, daun kelor mengandung:

Vitamin A (beta-karoten)

Vitamin C

Vitamin E

Kalsium

Zat besi

Protein nabati

Antioksidan seperti quercetin dan chlorogenic acid

Menurut data dari World Health Organization (WHO) dalam kajian tanaman bergizi untuk pencegahan malnutrisi, kelor memiliki kepadatan nutrisi yang tinggi dibanding banyak sayuran hijau lainnya.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa kandungan zat besinya berpotensi membantu mencegah anemia ringan, terutama pada ibu hamil dan anak-anak di daerah dengan akses pangan terbatas.

•Apa Kata Penelitian?

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Food Science and Technology menemukan bahwa suplementasi bubuk daun kelor pada anak dengan anemia ringan menunjukkan peningkatan kadar hemoglobin setelah beberapa minggu konsumsi.

Penelitian lain dalam Phytotherapy Research menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi yang dapat membantu mengurangi stres oksidatif dalam tubuh.

Namun para peneliti juga menekankan bahwa sebagian besar studi masih berskala kecil dan memerlukan uji klinis yang lebih luas untuk memastikan efektivitas dan dosis optimal.

•Apakah Aman Dikonsumsi Setiap Hari?

Secara umum, konsumsi daun kelor dalam bentuk makanan (misalnya sayur bening) dianggap aman bagi kebanyakan orang.

Namun ada beberapa catatan penting:

Konsumsi berlebihan dalam bentuk suplemen bisa menyebabkan gangguan pencernaan.

Ibu hamil sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mengonsumsi ekstrak pekat.

Akar dan kulit batang kelor tidak dianjurkan karena mengandung senyawa tertentu yang berpotensi toksik.

Ahli gizi klinis menekankan bahwa kelor bukan "obat ajaib", melainkan bagian dari pola makan seimbang.

•Superfood atau Tidak?

Istilah "superfood" sebenarnya bukan istilah ilmiah resmi, melainkan istilah pemasaran untuk makanan yang kaya nutrisi.

Daun kelor memang memiliki profil gizi yang mengesankan. Namun manfaat maksimalnya tetap bergantung pada:

Pola makan keseluruhan

Cara pengolahan

Kondisi kesehatan individu

Mengandalkan satu bahan saja tanpa gaya hidup sehat tidak akan memberikan hasil signifikan.

Untuk keluarga Indonesia, kelor bisa menjadi pilihan sayuran bergizi yang murah dan mudah ditanam sendiri di rumah.

Sebagai sayur bening hangat di meja makan, ia bukan hanya menyehatkan, tetapi juga bagian dari tradisi yang sudah lama ada — sebelum istilah "superfood" menjadi tren.

Kesimpulan

Daun kelor bukan sekadar tren. Secara ilmiah, kandungan nutrisinya memang tinggi dan berpotensi membantu pencegahan kekurangan gizi ringan.

Namun, ia bukan solusi tunggal untuk semua masalah kesehatan. Kunci tetap pada pola makan seimbang dan gaya hidup sehat.