Jumat, 13 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Cendol vs Dawet

Liaa - Friday, 13 February 2026 | 10:15 PM

Background
Cendol vs Dawet

Cendol: Simfoni Kenyal dan Manis yang Gak Ada Matinya

Siang bolong di tengah kota yang aspalnya mulai mengeluarkan uap panas adalah momen paling krusial bagi kewarasan kita. Di saat tenggorokan rasanya sudah seperti padang pasir yang merindukan hujan, tiba-tiba terdengar bunyi dentingan kaca dari kejauhan. "Ting, ting, ting!" Sebuah gerobak dengan toples-toples kaca berisi butiran hijau menggoda muncul di tikungan. Itulah momen di mana logika kita kalah telak oleh keinginan untuk menyesap segelas cendol dingin.

Ngomongin soal cendol itu sebenarnya bukan cuma soal bahas minuman tradisional doang, tapi soal merayakan sebuah mahakarya rasa yang sudah bertahan melintasi generasi. Di tengah gempuran boba yang kenyalnya kadang bikin pegel rahang atau kopi susu gula aren yang kafeinnya bikin jantung berdegup kencang, cendol tetap punya singgasana sendiri di hati masyarakat Indonesia. Ia adalah comfort food—atau lebih tepatnya comfort drink—yang gak pernah gagal bikin mood balik lagi.

Anatomi Rasa yang Hakiki

Coba deh perhatikan anatomi segelas cendol yang paripurna. Di sana ada tiga elemen kunci yang kalau salah satu aja nggak sinkron, rasanya bakal pincang. Pertama, butiran hijaunya itu sendiri. Cendol yang enak itu harus punya tekstur yang pas; nggak boleh terlalu lembek sampai hancur pas disedot, tapi juga nggak boleh terlalu keras kayak karet gelang. Ada sensasi "nyess" saat lidah kita menghancurkan butiran tepung beras yang biasanya sudah diberi aroma pandan atau daun suji yang wangi banget.

Kedua, ada santan. Ini adalah koentji dari rasa gurih yang bikin cendol nggak ngebosenin. Santan yang diperas segar, bukan yang instan dalam kemasan karton, punya lemak nabati yang melapisi lidah dengan lembut. Di sinilah letak keseimbangannya. Gurihnya santan ini bertugas sebagai penyeimbang agar rasa manisnya nggak bikin enek atau "nyegrak" di tenggorokan.

Lalu yang ketiga, tentu saja gula merah atau gula aren cair. Ini adalah jiwa dari segelas cendol. Gula aren yang bagus itu warnanya cokelat pekat, kental, dan punya aroma karamel alami yang kuat. Kalau penjualnya pelit dan pakai pemanis buatan, lidah kita pasti langsung protes. Tapi kalau pakai gula aren asli yang dimasak bareng potongan nangka, wah, itu namanya surga dunia dalam gelas plastik.

Debat Abadi: Cendol vs Dawet

Kalau kita ngomongin cita rasa cendol, kita nggak bisa lepas dari perdebatan klasik yang sering bikin bingung orang awam: apa bedanya cendol sama dawet? Secara visual memang mirip, tapi buat para purist kuliner, perbedaannya nyata banget. Konon, istilah "cendol" lebih populer di tanah Sunda (Jawa Barat), sementara "dawet" adalah istilah khas Jawa Tengah dan Timur.

Ada yang bilang kalau cendol itu bahannya dari tepung hunkwe (tepung kacang hijau), makanya teksturnya lebih kenyal dan tampilannya sedikit transparan. Sedangkan dawet biasanya pakai tepung beras yang bikin teksturnya lebih padat dan "medok". Tapi ya sudahlah, di tengah cuaca panas 35 derajat celcius, siapa juga yang mau debat panjang lebar? Mau namanya cendol Elizabeth dari Bandung atau Dawet Ayu dari Banjarnegara, selama dia dingin dan manis, kita semua sepakat itu enak.

Lebih dari Sekadar Penghapus Dahaga

Kenapa sih cendol tetap eksis padahal sekarang pilihan minuman hits itu banyak banget? Jawabannya mungkin ada pada memori kolektif kita. Cendol itu punya nilai nostalgia yang kuat. Ingat nggak zaman sekolah dulu? Nungguin abang-abang cendol lewat depan gerbang, lalu beli pakai plastik yang ditiup biar gelembungnya banyak. Rasa manisnya itu seolah-olah menjadi hadiah setelah seharian pusing mikirin rumus matematika.

Selain itu, cendol adalah minuman yang sangat adaptif. Sekarang kita bisa nemu variasi cendol yang makin liar. Ada yang dicampur durian, alpukat, nangka, sampai ada yang dikasih topping keju atau es krim. Meskipun bagi sebagian orang ini dianggap "penistaan" terhadap pakem tradisional, tapi ini membuktikan kalau cita rasa cendol itu sangat fleksibel. Dia bisa masuk ke lidah siapa aja, dari kakek-nenek sampai anak skena yang nongkrong di kafe-kafe estetik.

Berikut adalah beberapa alasan kenapa cita rasa cendol selalu unggul di mata masyarakat:

  • Keseimbangan Rasa: Perpaduan gurih (santan), manis (gula aren), dan tawar-segar (cendolnya sendiri) menciptakan harmoni yang sulit ditandingi.
  • Aroma Alami: Penggunaan daun pandan dan nangka memberikan dimensi aroma yang bikin rileks, beda dengan minuman kekinian yang aromanya seringkali artifisial.
  • Tekstur yang Unik: Sensasi mengunyah butiran cendol memberikan pengalaman makan sekaligus minum yang seru.
  • Harga yang Merakyat: Dari harga lima ribu perak di pinggir jalan sampai puluhan ribu di mal, esensi rasanya tetap memberikan kepuasan yang sama.

Menghargai Sang Legenda Hijau

Di akhir hari, menikmati segelas es cendol adalah cara sederhana untuk mencintai diri sendiri. Ini adalah pengingat bahwa kebahagiaan itu nggak selalu mahal dan nggak harus ribet. Cukup dengan duduk di bawah pohon rindang, memegang gelas plastik yang sudah berembun karena es batu, lalu mengaduk perlahan sampai warna santan dan gula merahnya menyatu sempurna menjadi cokelat muda yang cantik.

Mungkin kita sering terobsesi dengan tren kuliner luar negeri yang datang dan pergi silih berganti. Tapi percayalah, sekeren-kerennya kita minum latte atau macchiato, lidah kita akan selalu rindu pada rasa lokal yang jujur seperti cendol. Cita rasanya adalah identitas kita—sebuah kombinasi antara kekayaan alam tropis dan kearifan lokal dalam meracik bahan-bahan sederhana menjadi sesuatu yang luar biasa.

Jadi, kalau besok siang kalian melihat abang cendol lewat, jangan ragu buat memanggilnya. Berhentilah sejenak dari kesibukan duniawi, sisihkan sedikit uang receh, dan nikmatilah kesegaran hakiki yang sudah teruji oleh waktu. Karena sejujurnya, hidup ini terkadang terlalu pahit untuk dijalani tanpa seteguk es cendol yang manisnya pas di hati.

Tags