Mengapa Anak Sekarang Lebih Cepat Pubertas?
Liaa - Friday, 13 February 2026 | 08:55 AM


Banyak orang tua terkejut ketika mendapati anaknya menunjukkan tanda-tanda pubertas lebih cepat dari yang mereka alami dulu. Payudara mulai berkembang, muncul bau badan, atau perubahan emosi terjadi lebih dini.
Fenomena ini bukan sekadar perasaan. Secara global, tren pubertas dini memang meningkat.
Menurut World Health Organization (WHO), pubertas normal pada anak perempuan biasanya dimulai antara usia 8–13 tahun, dan pada anak laki-laki antara 9–14 tahun. Jika muncul sebelum rentang tersebut, kondisi ini disebut pubertas prekoks (pubertas dini).
••Apa yang Mengatur Pubertas?
Pubertas dikendalikan oleh sumbu hormon yang disebut HPG axis (Hypothalamus–Pituitary–Gonadal axis).
Prosesnya dimulai ketika hipotalamus di otak melepaskan hormon GnRH, yang kemudian memicu kelenjar pituitari dan ovarium/testis untuk menghasilkan hormon seks seperti estrogen dan testosteron.
Gangguan atau percepatan pada sistem ini dapat membuat pubertas datang lebih cepat.
•• Faktor 1: Obesitas dan Nutrisi Berlebih
Salah satu faktor utama adalah peningkatan angka obesitas pada anak.
Lemak tubuh bukan sekadar cadangan energi. Jaringan lemak menghasilkan hormon leptin yang berperan dalam memicu pubertas.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics menunjukkan adanya hubungan signifikan antara indeks massa tubuh (IMT) tinggi pada anak perempuan dengan onset pubertas yang lebih dini.
Artinya, semakin tinggi kadar lemak tubuh, semakin besar kemungkinan pubertas terjadi lebih cepat.
•• Faktor 2: Paparan Zat Kimia Lingkungan
Beberapa bahan kimia disebut sebagai endocrine-disrupting chemicals (EDCs) — zat yang dapat mengganggu sistem hormon.
Contohnya:
BPA (Bisphenol A) pada plastik
Ftalat pada kemasan dan kosmetik
Pestisida tertentu
••Faktor 3: Stres Psikososial
Menariknya, faktor psikologis juga berperan.
Penelitian dalam bidang psikoneuroendokrinologi menunjukkan bahwa stres kronis, konflik keluarga, atau lingkungan tidak stabil dapat memengaruhi regulasi hormon.
Tubuh manusia secara evolusioner dirancang untuk "beradaptasi" terhadap lingkungan. Dalam kondisi stres tertentu, sistem reproduksi bisa aktif lebih cepat.
Apakah Ini Berbahaya?
Pubertas dini dapat berdampak pada:
Risiko gangguan emosional (cemas, depresi)
Body image issue
Risiko perundungan
Tinggi badan akhir yang lebih pendek (karena lempeng pertumbuhan menutup lebih cepat)
Selain itu, beberapa studi longitudinal menunjukkan bahwa pubertas dini pada anak perempuan berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit metabolik di usia dewasa.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
Beberapa langkah preventif yang bisa diterapkan:
-Menjaga berat badan ideal anak melalui pola makan seimbang.
-Mengurangi konsumsi makanan ultra-proses.
-Menghindari penggunaan plastik untuk makanan panas.
-Membatasi paparan kosmetik atau produk dengan bahan kimia tidak jelas.
-Membangun komunikasi terbuka tentang perubahan tubuh.
Jika tanda pubertas muncul sebelum usia 8 tahun (perempuan) atau 9 tahun (laki-laki), sebaiknya konsultasi ke dokter anak atau endokrinolog.
Kesimpulan
Pubertas yang datang lebih cepat bukan sekadar perubahan zaman, tetapi hasil interaksi kompleks antara nutrisi, lingkungan, hormon, dan kondisi psikososial.
Sebagai orang tua, kita mungkin tidak bisa mengontrol semua faktor eksternal. Namun, kita bisa mengontrol lingkungan rumah — pola makan, rasa aman, dan komunikasi yang hangat.
Karena ketika tubuh anak berubah lebih cepat, dukungan emosional orang tua justru harus datang lebih dulu.
Next News

Mengupas Kepribadian Rahasia Para Pencinta Warna Biru
2 hours ago

Cendol vs Dawet
2 hours ago

Menilik Alasan Kenapa Padangsidimpuan Disebut Kota Salak, Padahal Kebunnya Bukan di Sana?
2 hours ago

Fenomena Outfit Kalcer
3 hours ago

Tren Jilbab 2026: Clean Girl Hijab, Pashmina Simpel, hingga Warna Mocha yang Lagi Viral
15 hours ago

Begadang, Investasi Penyakit yang Kita Cicil Diam-Diam Tiap Malam
3 hours ago

Suntik Putih Lagi Viral di Kalangan Anak Muda, Amankah?
16 hours ago

Daun Kelor: Benarkah Superfood atau Sekedar Tren?
16 hours ago

Kenangan Kecut Cermai: Seni Mengolah Buah Sangar Jadi Camilan Nagih
4 hours ago

Kenapa Durian Bisa Bikin Kita "Teler"?
6 hours ago





