Jumat, 13 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Fenomena Outfit Kalcer

Liaa - Friday, 13 February 2026 | 10:00 PM

Background
Fenomena Outfit Kalcer

Fenomena Outfit Kalcer: Antara Eksplorasi Jati Diri atau Sekadar Seragam Baru Anak Kota

Kalau lagi main ke kawasan Blok M, Melawai, atau sekadar gowes santai di sepanjang Sudirman tiap Minggu pagi, ada satu pemandangan yang nggak mungkin terlewatkan. Sekumpulan anak muda—atau mereka yang merasa tetap muda—dengan gaya berpakaian yang sekilas terlihat "berantakan" tapi kalau ditotal harganya bisa buat bayar DP motor. Inilah yang kita kenal sebagai fenomena outfit kalcer.

Istilah "kalcer" sendiri sebenarnya adalah pelesetan dari kata culture. Awalnya, istilah ini erat banget sama dunia sepeda, khususnya mereka yang hobi gowes pakai sepeda vintage, sepeda lipat mahal, atau road bike dengan jersey yang estetiknya selangit. Tapi lama-kelamaan, makna kalcer bergeser. Sekarang, kalcer bukan cuma soal gowes, tapi soal bagaimana lo mempresentasikan diri lewat barang-barang yang lo pakai. Ini adalah perpaduan antara hobi, selera musik, hingga cara lo memilih tempat kopi.

Starter Pack: Bagaimana Cara Menjadi Kalcer?

Menjadi anak kalcer itu nggak bisa sembarangan. Ada pakem-pakem tak tertulis yang harus dipatuhi biar nggak dibilang "salah kostum". Pertama, mari bicara soal alas kaki. Kalau dulu orang bangga pakai sneakers basket yang bulky, sekarang trennya bergeser ke arah outdoor atau technical shoes. Sepatu lari merk Salomon atau New Balance seri 990 adalah harga mati. Kenapa? Karena sepatu ini memberikan kesan bahwa lo adalah orang yang aktif, suka jalan kaki (meski kenyataannya lebih sering naik ojek online), dan menghargai fungsi di atas segalanya.

Turun ke bagian celana, lupakan skinny jeans yang bikin napas kaki sesak. Anak kalcer lebih milih loose-fit pants, cargo dari bahan ripstop, atau bahkan celana pendek di atas lutut ala bapak-bapak Amerika tahun 80-an. Atasannya? Biasanya kaus grafis dari band underrated yang lo sendiri mungkin nggak pernah denger lagunya, atau kemeja flanel yang kancingnya dibuka sengaja biar kaus dalamnya kelihatan. Jangan lupa, semuanya harus oversized. Kalau pas di badan, itu namanya mau pergi kondangan, bukan mau nongkrong kalcer.

Terakhir, aksesori adalah kunci. Tote bag kanvas yang sudah agak kusam (makin kusam makin ada ceritanya, katanya), botol minum Hydro Flask yang penuh tempelan stiker, dan jangan lupa wired earphones. Ya, di saat dunia sibuk pakai TWS tanpa kabel, anak kalcer justru kembali ke kabel biar kelihatan lebih "analog" dan "raw".

Paradoks "Kelihatan Biasa Tapi Mahal"

Lucunya dari tren outfit kalcer ini adalah adanya paradoks harga. Secara visual, gaya ini berusaha menjauh dari kesan mewah yang pamer logo (logomania). Nggak ada itu tulisan Gucci atau Louis Vuitton segede gaban di dada. Tapi, kalau lo jeli, barang-barang yang mereka pakai itu harganya seringkali bikin geleng-geleng kepala. Jaket vintage yang mereka beli di pasar loak dengan harga "gorengan" itu mungkin nilainya jutaan karena kelangkaannya. Atau kemeja polos yang kelihatannya kayak baju pasar, ternyata dari brand Jepang yang dijahit pakai tangan.

Ini adalah bentuk flexing yang lebih halus. Orang nggak perlu tahu lo kaya, tapi orang yang "paham" akan tahu kalau lo punya selera tinggi. Ini yang sering disebut sebagai if you know, you know. Ada kepuasan tersendiri ketika lo ketemu sesama pengguna barang yang sama di coffee shop, lalu saling lempar senyum kecil sebagai tanda saling mengakui kalau kalian berada di frekuensi yang sama.

Lebih dari Sekadar Baju: Sebuah Identitas

Lalu, kenapa gaya ini begitu meledak? Menurut pengamatan gue, outfit kalcer adalah bentuk pemberontakan kecil terhadap gaya hidup korporat yang kaku. Di tengah tekanan kerja yang serba cepat, anak muda butuh ruang untuk mengekspresikan sisi kreatif mereka. Pakai baju yang nyaman dan punya "karakter" itu rasanya kayak punya kontrol atas identitas diri sendiri.

Selain itu, media sosial punya peran besar. Platform kayak Instagram dan TikTok membuat visual menjadi mata uang utama. Foto lo lagi pegang kopi susu, pakai sepatu Salomon, dengan latar belakang tembok semen ekspos itu adalah konten yang "mahal". Kalcer bukan cuma soal baju, tapi soal kurasi hidup. Apa yang lo baca, film apa yang lo tonton (biasanya film indie atau rilisan A24), dan di mana lo menghabiskan akhir pekan, semuanya saling berkaitan.

Kritik dan Realita: Apakah Kita Cuma FOMO?

Tentu saja, nggak ada tren yang lepas dari kritik. Banyak yang bilang kalau fenomena kalcer ini cuma sekadar FOMO (Fear of Missing Out) masal. Banyak orang yang memaksakan diri beli barang-barang mahal demi bisa masuk ke sirkel tertentu, padahal dompetnya sudah menjerit minta tolong. Ada semacam tekanan sosial untuk selalu terlihat "beda" tapi akhirnya malah seragam juga karena semua orang mengikuti kiblat yang sama.

Coba deh perhatikan, kalau semua orang pakai sepatu yang sama, celana yang sama, dan nongkrong di tempat yang sama, apakah itu masih bisa disebut "unik"? Kadang kita terjebak dalam upaya menjadi berbeda, sampai lupa kalau yang paling penting adalah kenyamanan dan fungsi bagi diri sendiri, bukan sekadar validasi dari orang asing di media sosial.

Penutup: Jadilah Kalcer yang Otentik

Pada akhirnya, tren outfit kalcer ini sah-sah saja diikuti. Nggak ada yang salah dengan ingin tampil keren dan mengikuti perkembangan zaman. Fashion memang selalu berputar, dan apa yang dianggap keren hari ini mungkin akan dianggap norak lima tahun lagi. Tapi satu yang pasti, jangan sampai lo kehilangan diri sendiri di balik tumpukan baju bermerk tersebut.

Kalcer yang sesungguhnya itu bukan soal apa yang lo pakai, tapi soal bagaimana lo menghargai budaya itu sendiri. Kalau lo suka gowes, ya goweslah dengan tulus, bukan cuma buat foto. Kalau lo suka fotografi analog, nikmatilah proses mencuci filmnya, bukan cuma gaya-gayaan bawa kamera di leher. Karena pada akhirnya, gaya yang paling keren adalah rasa percaya diri, apa pun yang lo pakai. Bahkan kalau cuma pakai kaus partai dan celana kolor sekalipun, kalau lo pede, lo tetap bisa jadi yang paling "kalcer" di sirkel lo.

Tags