Kamis, 19 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Tape, Dari Camilan Pinggir Jalan Sampai Jadi Superfood Lokal yang "Mabukable"

Liaa - Thursday, 19 February 2026 | 09:55 PM

Background
Tape, Dari Camilan Pinggir Jalan Sampai Jadi Superfood Lokal yang "Mabukable"

Mengenal Lebih Dekat Tape: Dari Camilan Pinggir Jalan Sampai Jadi Superfood Lokal yang "Mabukable"

Pernah nggak sih lo lagi enak-enak rebahan di sore hari, terus tiba-tiba denger suara teriakan melengking dari kejauhan, "Teeeuuuu-peeee...!" atau suara ketukan kayu yang khas dari abang-abang gerobakan? Kalau iya, selamat, lo baru saja bersinggungan dengan salah satu warisan kuliner paling jenius sekaligus paling underrated di negeri ini: Tape.

Buat sebagian anak senja atau gen Z yang hobi nongkrong di cafe estetik, mungkin tape dianggap sebagai makanan "ndeso" atau kuno. Padahal, kalau kita mau bedah lebih dalam, tape itu adalah hasil dari sebuah proses bioteknologi tingkat tinggi yang sudah dipraktikkan nenek moyang kita jauh sebelum istilah "molecular gastronomy" jadi tren di kalangan chef bintang lima. Tape bukan cuma sekadar singkong atau ketan yang didiamkan sampai lembek, tapi ada sihir sains di balik rasanya yang manis, asam, dan sedikit "nyelekit" itu.

Sains di Balik Ragi: Ketika Jamur Bekerja Lembur

Mari kita mulai dengan fakta paling mendasar. Tape itu nggak bakal ada kalau nggak ada ragi. Ragi ini isinya bukan cuma satu jenis makhluk hidup, tapi sekelompok mikroorganisme yang kompak banget kerjanya, mulai dari Aspergillus, Saccharomyces cerevisiae, sampai Acetobacter. Bayangin mereka ini kayak kru konser yang lagi kerja keras di balik panggung supaya pertunjukan utamanya—si tape—bisa tampil maksimal.

Proses fermentasi ini mengubah pati (karbohidrat kompleks) jadi gula sederhana (glukosa). Itulah kenapa tape rasanya manis banget padahal kita nggak nambahin gula pasir sama sekali. Setelah jadi gula, prosesnya lanjut lagi jadi alkohol. Nah, kalau kelamaan didiamkan, alkoholnya bakal berubah jadi asam asetat. Makanya, kalau lo beli tape yang sudah terlalu "matang", rasanya bakal asam banget sampai bikin muka lo mengkerut kayak abis liat saldo ATM di akhir bulan.

Sensasi "Mabuk" Halal yang Bikin Nagih

Satu hal yang sering jadi perdebatan adalah: apakah makan tape bisa bikin mabuk? Jawabannya: secara teknis, iya, tapi secara praktis, lo butuh makan tape sekarung buat bisa bener-bener teler. Kadar alkohol dalam tape biasanya berkisar antara 3% sampai 5%, mirip-mirip lah sama bir ringan. Sensasi "semriwing" atau hangat yang menjalar di tenggorokan saat kita makan tape singkong yang sudah sangat matang itu berasal dari etanol hasil fermentasi tadi.



Uniknya, meskipun mengandung alkohol, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan kalau tape itu halal dikonsumsi. Kenapa? Karena alkohol yang ada di tape adalah produk sampingan alami dari proses fermentasi, bukan sengaja ditambahkan atau diproses untuk jadi minuman keras (khamr). Jadi, buat lo yang pengen ngerasain sensasi hangat-hangat sedap tanpa harus melanggar aturan agama, tape adalah koentji.

Probiotik Lokal yang Lebih Gahar dari Yogurt Luar Negeri

Sekarang lagi zamannya orang-orang peduli sama kesehatan pencernaan atau "gut health". Banyak yang bela-belain beli yogurt mahal atau minuman probiotik impor demi dapet asupan bakteri baik. Padahal, kita punya tape! Sebagai makanan hasil fermentasi, tape itu kaya banget akan probiotik. Bakteri-bakteri baik dalam tape ini fungsinya buat menjaga keseimbangan ekosistem di perut lo, biar nggak gampang kembung atau kena sembelit.

Nggak cuma itu, proses fermentasi juga meningkatkan kadar vitamin B12 dalam singkong atau ketan. FYI aja nih, vitamin B12 itu biasanya banyak ditemukan di produk hewani. Jadi buat para penganut gaya hidup vegetarian atau vegan, tape bisa jadi alternatif sumber vitamin B12 yang sangat terjangkau. Murah, enak, sehat pula. Kurang apa lagi coba?

Varian Tape: Tim Singkong vs Tim Ketan

Di Indonesia, kita kenal dua kubu besar: Tape Singkong (Tape Peuyeum kalau di Jawa Barat) dan Tape Ketan. Keduanya punya basis penggemar masing-masing yang cukup militan. Tape singkong biasanya teksturnya lebih padat tapi lumer di mulut kalau sudah matang sempurna. Kalau di Bandung, Peuyeum biasanya digantung berderet-deret di pinggir jalan, bikin siapa pun yang lewat jadi tergoda buat mampir.

Sementara itu, tape ketan—baik yang putih, hijau (pakai pandan), atau hitam—punya karakter yang lebih "berair" dan manisnya lebih legit. Tape ketan sering banget muncul di acara hajatan atau Lebaran, biasanya dibungkus kecil-kecil pakai daun pisang atau daun jambu air yang aromanya khas banget. Kalau ditanya mana yang lebih enak? Itu kayak milih antara bubur diaduk atau nggak diaduk. Selera masing-masing, tapi yang jelas keduanya adalah masterpiece kuliner lokal.



Gabin Tape dan Transformasi Kuliner Modern

Hebatnya tape, dia itu fleksibel banget buat dijadikan bahan olahan lain. Salah satu yang paling legendaris dan lagi naik daun lagi belakangan ini adalah Gabin Tape. Perpaduan antara biskuit gabin yang renyah-asin dengan isian adonan tape yang manis-lembut itu bener-bener perpaduan yang jenius. Belum lagi kalau kita ngomongin Es Doger atau Es Campur tanpa tape, rasanya kayak ada yang hilang, kayak konser tanpa vokalis utama.

Di tangan kreatif anak muda zaman sekarang, tape juga mulai masuk ke menu-menu modern. Ada yang bikin brownies tape, cheese cake tape, sampai smoothie tape. Ini bukti kalau tape bukan makanan yang mati ditelan zaman. Dia bisa beradaptasi dan tetap relevan, asalkan kita nggak malu buat mengonsumsinya.

Kesimpulan: Jangan Remehkan Si "Bau Ragi"

Jadi, mulai sekarang jangan lagi mandang tape sebelah mata. Di balik aromanya yang tajam dan tampilannya yang kadang kurang estetik karena lembek-lembek gimana gitu, tersimpan sejuta manfaat dan sejarah panjang kearifan lokal. Tape adalah bukti kalau orang Indonesia dari dulu sudah pinter mainin mikroorganisme buat bikin makanan yang awet sekaligus bergizi.

Makan tape itu bukan cuma soal ngenyangin perut, tapi soal menghargai proses. Proses menunggu ragi bekerja, proses sabar nunggu fermentasi selesai, sampai akhirnya kita bisa menikmati rasa manis-asam yang unik itu. Jadi, sudahkah lo makan tape hari ini? Kalau belum, coba deh cari abang-abang gerobak atau mampir ke pasar tradisional. Dukung UMKM lokal sambil kasih makan bakteri baik di perut lo. Win-win solution, kan?

Tags