Perut Kembung dan Sering Kentut? Kenali Sinyal Bahaya Bagi Tubuh
Tata - Tuesday, 17 February 2026 | 09:20 AM


Awas, Jangan Cuma Dianggap Masuk Angin: Kapan Kentut dan Kembung Kamu Perlu Dibawa ke Dokter?
Pernah nggak sih kamu lagi asyik nongkrong di kafe yang estetik, eh tiba-tiba perut terasa kayak ada konser musik cadas? Bunyinya mungkin nggak kedengaran, tapi sensasi 'bergelombang' di dalam perut itu lho yang bikin keringat dingin. Mau dilepas takut baunya bikin bubar satu meja, mau ditahan malah bikin muka pucat pasi. Fenomena kentut dan perut kembung ini emang sering dianggap remeh, mentok-mentok cuma dibilang "Ah, paling masuk angin." Padahal, kalau frekuensinya sudah nggak masuk akal dan disertai drama-drama lain, bisa jadi tubuhmu lagi ngasih sinyal darurat.
Sebenarnya, buang angin atau kentut itu adalah hal yang sangat manusiawi, bahkan sehat. Secara biologis, rata-rata manusia itu mengeluarkan gas antara 13 sampai 21 kali dalam sehari. Ya, kamu nggak salah baca. Jadi kalau kamu merasa sering kentut, mungkin sebenarnya kamu masih dalam taraf normal. Masalahnya, kita sering merasa risih karena stigma sosial yang menganggap kentut itu jorok atau memalukan. Padahal kalau gas itu nggak dikeluarkan, malah bisa bikin perut melilit dan nggak nyaman. Namun, kita harus mulai waspada kalau gas yang keluar ini datang bareng "rombongan" gejala lain yang nggak biasa.
Kenali Sinyal Bahaya: Bukan Sekadar Gas Biasa
Menurut beberapa literatur kesehatan dan artikel yang sempat ramai dibahas di CNBC Indonesia, ada beberapa tanda merah alias red flags yang mewajibkan kamu segera booking jadwal ketemu dokter. Jangan cuma mengandalkan kerokan atau minum teh hangat kalau kamu sudah merasakan hal-hal berikut ini.
Pertama, penurunan berat badan yang drastis tanpa diet. Bayangkan, kamu makan kayak biasa, hobi kulineran malam tetap jalan, tapi kok badan makin kurus dan perut sering kembung? Ini adalah tanda tanya besar. Penurunan berat badan yang nggak disengaja sering kali jadi indikator adanya masalah penyerapan nutrisi atau kondisi yang lebih serius di sistem pencernaan, seperti peradangan kronis atau bahkan tumor.
Kedua, adanya perubahan pola buang air besar (BAB). Kalau biasanya kamu rutin ke belakang setiap pagi, tapi tiba-tiba jadi sembelit parah atau malah diare berkepanjangan yang disertai gas berlebih, itu tandanya ada yang nggak beres di ususmu. Apalagi kalau di kotoran kamu ada bercak darah. Kalau sudah sampai tahap ini, tolong banget, jangan cuma searching di Google karena ujung-ujungnya algoritma internet pasti bakal menakut-nakuti kamu dengan diagnosis yang mengerikan. Langsung saja ke dokter spesialis penyakit dalam.
Jangan Remehkan Perut yang "Berisik"
Selain soal berat badan dan BAB, rasa nyeri yang hebat juga nggak boleh dianggap angin lalu. Kalau kembungmu dibarengi dengan rasa sakit yang bikin kamu sampai guling-guling atau nggak bisa berdiri tegak, itu jelas bukan sekadar masuk angin biasa. Nyeri perut yang intens bisa mengarah ke berbagai masalah, mulai dari penyumbatan usus, batu empedu, hingga radang usus buntu.
Kadang, gaya hidup kita yang "serba cepat" alias sat-set ini juga jadi pemicu utama. Kita sering makan sambil balas chat kerjaan, makan sambil lari mengejar kereta, atau hobi minum minuman bersoda setiap kali haus. Kebiasaan makan terlalu cepat ini bikin banyak udara ikut tertelan ke dalam perut, yang dalam istilah medis disebut aerophagia. Hasilnya? Ya perut kembung dan kentut terus-menerus. Belum lagi kalau kita punya intoleransi makanan tertentu, misalnya lactose intolerance. Minum kopi susu sedikit langsung deh perut bergejolak kayak lagi ada demo masak.
- Demam: Kalau kembung dan kentut disertai demam, bisa jadi ada infeksi di saluran pencernaanmu.
- Mual dan Muntah: Jika kamu nggak bisa menjaga makanan tetap masuk karena terus-terusan mual, ini adalah tanda bahaya.
- Nyeri Dada: Kadang gas yang terjebak bisa terasa sampai ke dada, tapi jangan salah kira, bisa jadi itu berhubungan dengan masalah jantung atau GERD yang sudah parah.
Dokter Google vs Realita
Kita hidup di zaman di mana semua jawaban ada di ujung jari. Tapi kalau urusan kesehatan perut, kita harus bijak. Banyak orang yang merasa kembung sedikit langsung self-diagnose kena kanker usus gara-gara baca artikel yang nggak jelas sumbernya. Sebaliknya, ada juga yang sudah sakit parah tapi tetap merasa "cuma butuh istirahat."
Sebagai saran dari pengamat gaya hidup santai, dengerin deh apa kata tubuhmu. Tubuh kita itu punya mekanisme komunikasi yang canggih. Kalau perut terasa kembung setiap kali makan produk olahan susu, mungkin kamu memang harus mulai beralih ke susu oat atau kedelai. Kalau perut kembung karena stres, ya mungkin sudah waktunya ambil cuti atau sekadar healing tipis-tipis. Tapi kalau sudah ada tanda-tanda "alarm" seperti yang disebut di atas, nggak usah kebanyakan mikir, segera periksa.
Intinya, kentut itu normal, kembung itu manusiawi. Tapi menjadi abai terhadap kesehatan itu yang bahaya. Jangan sampai karena gengsi atau takut ke dokter, kondisi yang sebenarnya bisa ditangani dengan cepat malah jadi parah. Sehat itu mahal, tapi sakit karena telat penanganan itu jauh lebih mahal dan melelahkan. Jadi, yuk lebih peduli sama urusan perut, jangan cuma peduli sama urusan feeds Instagram aja!
Next News

Cara Mengatasi Duri Ikan Bandeng Agar Tetap Nikmat Disantap
in 5 hours

Trik Jitu Mengolah Ikan Asin: Tetap Gurih dan Kriuk Tanpa Bikin Rasa Terlalu Asin
in 5 hours

Rahasia di Balik Lezatnya Gorengan dan Martabak Manis
in 5 hours

Bukan Sekadar Saus Putih, Ini Bahan Utama Pembuat Mayones
in 5 hours

Dilema Lezat di Balik Kulit Tepung: Apakah Dumpling Benar-Benar Sehat atau Sekadar Jebakan Kalori?
in 4 hours

Tips Dapur: Goreng Ikan Renyah Tanpa Drama Cipratan Minyak
in 4 hours

Saus Salad Buah: 3 Resep Enak, Creamy, dan Anti Enek untuk Camilan Segar di Rumah
in 4 hours

7 Tips Ampuh Agar Kecoak Tidak Berani Masuk ke Dapur Anda
in 4 hours

Ikan Patin dan Dori, Apakah Sama? Ini Perbedaan yang Perlu Diketahui
19 hours ago

Vitamin F: Benarkah Itu Vitamin? Ini Penjelasan Ilmiahnya
19 hours ago





