Mengapa Burung Merpati Bisa Mengantar Pesan? Ini Penjelasan Ilmiah di Baliknya
Nanda - Thursday, 12 February 2026 | 09:56 AM
Ketika Langit Menjadi Jalur Komunikasi
Ratusan bahkan ribuan tahun lalu, sebelum kabel telegraf dan satelit menghubungkan dunia, manusia mengandalkan alam untuk menyampaikan kabar. Salah satu teknologi komunikasi paling revolusioner pada masanya adalah burung merpati pos.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa bangsa Mesir Kuno, Persia, Yunani, hingga Romawi telah menggunakan merpati untuk menyampaikan informasi penting, termasuk hasil peperangan dan berita politik. Pada abad pertengahan, sistem merpati pos berkembang pesat di Timur Tengah dan Eropa. Bahkan pada Perang Dunia I dan II, merpati masih digunakan untuk mengirim pesan militer rahasia ketika komunikasi radio tidak aman.
Namun pertanyaannya: bagaimana burung ini bisa tahu arah pulang?
Spesies Khusus: Merpati Pos (Homing Pigeon)
Tidak semua merpati dapat mengirim pesan. Yang digunakan adalah jenis Columba livia domestica, dikenal sebagai homing pigeon atau merpati pos.
Kemampuan utamanya adalah naluri "homing instinct" kemampuan luar biasa untuk kembali ke sarangnya dari lokasi yang sangat jauh, bahkan hingga ratusan kilometer.
Yang menarik, merpati tidak "mengantarkan pesan ke alamat tujuan." Sistemnya berbeda. Burung ini dilatih untuk kembali ke satu lokasi tetap (rumah atau kandangnya). Jadi pesan diikatkan di kaki merpati, kemudian burung dilepaskan dari lokasi jauh, dan ia secara naluriah akan kembali ke rumahnya.
Bagaimana Merpati Menemukan Jalan?
Penelitian ilmiah selama puluhan tahun menunjukkan bahwa merpati menggunakan kombinasi beberapa sistem navigasi biologis:
1. Navigasi Medan Magnet Bumi
Sejumlah studi menunjukkan bahwa merpati memiliki kemampuan mendeteksi medan magnet bumi. Pada paruh dan jaringan saraf tertentu ditemukan partikel magnetit, yaitu mineral yang sensitif terhadap medan magnet.
Kemampuan ini membantu merpati menentukan arah global seperti kompas alami, terutama saat berada di wilayah yang belum pernah dikenalnya.
2. Posisi Matahari sebagai Panduan
Merpati juga menggunakan posisi matahari untuk menentukan arah. Mereka memiliki jam biologis internal (circadian rhythm) yang membantu mengoreksi posisi matahari berdasarkan waktu.
Artinya, merpati tidak hanya melihat matahari, tetapi juga memperhitungkan waktu hari untuk menjaga arah tetap konsisten.
3. Pengenalan Bau (Olfactory Map Theory)
Penelitian dari Italia dan Jerman menunjukkan bahwa penciuman memainkan peran penting. Merpati diyakini membangun "peta bau" dari wilayah sekitar rumahnya.
Saat dilepaskan, mereka mengenali perbedaan komposisi udara dan aroma lingkungan untuk menentukan posisi relatif terhadap rumahnya.
4. Landmark Visual
Dalam jarak yang lebih dekat, merpati menggunakan sungai, jalan raya, garis pantai, dan bangunan sebagai panduan visual. Studi dengan pelacak GPS menunjukkan bahwa merpati sering mengikuti jalur yang familiar.
Gabungan sistem magnetik, matahari, bau, dan visual inilah yang membuat navigasi mereka sangat akurat.
Seberapa Akurat dan Cepat?
Merpati pos dapat terbang dengan kecepatan rata-rata 60–100 km per jam. Dalam kondisi tertentu, mereka mampu menempuh jarak lebih dari 1.000 km.
Akurasi mereka sangat tinggi. Dalam perlombaan merpati modern, banyak burung berhasil kembali ke kandang dengan tingkat keberhasilan yang mengesankan, bahkan setelah dilepaskan di wilayah asing.
Bagaimana Sistem Pengiriman Pesan Dilakukan?
Prosesnya relatif sederhana:
- Merpati dilatih sejak kecil untuk mengenali satu kandang sebagai "rumah."
- Burung dibawa ke lokasi tertentu.
- Pesan ditulis di kertas kecil, digulung, dan dimasukkan ke tabung kecil yang diikat di kaki burung.
- Burung dilepaskan dan akan kembali ke kandangnya.
Karena sistem ini hanya bekerja satu arah (menuju rumah), untuk komunikasi dua arah dibutuhkan dua kelompok merpati dari masing-masing lokasi.
Peran Strategis dalam Sejarah
Dalam peperangan, merpati menjadi alat komunikasi yang sangat vital. Salah satu merpati terkenal, "Cher Ami," digunakan oleh militer Amerika Serikat pada Perang Dunia I dan berhasil menyelamatkan hampir 200 tentara dengan mengirim pesan meski dalam kondisi terluka.
Bahkan ketika teknologi radio sudah ada, merpati tetap digunakan karena tidak bisa disadap seperti komunikasi elektronik.
Mengapa Sistem Ini Akhirnya Ditinggalkan?
Perkembangan telegraf pada abad ke-19, kemudian telepon, radio, hingga internet membuat sistem merpati menjadi tidak efisien untuk komunikasi massal.
Meski demikian, hingga kini merpati masih digunakan dalam kompetisi olahraga dan penelitian ilmiah tentang navigasi hewan.
Kemampuan burung merpati mengirim pesan bukanlah mitos atau kebetulan. Ia didukung oleh sistem navigasi biologis kompleks yang melibatkan medan magnet bumi, posisi matahari, penciuman, serta pengenalan visual.
Apa yang dulu terlihat seperti keajaiban, kini dipahami sebagai kombinasi kecerdasan evolusioner dan adaptasi biologis yang luar biasa. Di zamannya, merpati bukan sekadar burung ia adalah "teknologi komunikasi hidup" yang menghubungkan dunia.
Next News

Di Balik Lorengnya, Kisah Pilu Harimau Sumatra yang Sedang Tidak Baik-Baik Saja
in 6 hours

Digital Detox: Tren Weekend Tanpa Media Sosial Kian Populer di Indonesia
17 hours ago

Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Pekerjaan Kantoran: Profesi Apa yang Paling Terdampak?
17 hours ago

Déjà Vu: Kenapa Kita Merasa Pernah Mengalami Sesuatu Sebelumnya?
20 hours ago

Benarkah Manusia Menggunakan Kapasitas Otaknya Hanya 10% saja?
20 hours ago

Olahan Daun Ubi yang Menggugah Selera
14 hours ago

Fakta Menarik dari Si Buah Kiwi
14 hours ago

Ati Ampela: Antara Tekstur yang Melawan dan Kenikmatan yang Sering Dicibir
14 hours ago

Seni Menikmati Ceker Ayam
15 hours ago

Ritual Mani-Pedi: Bukan Cuma Soal Kuku Cantik, Tapi Soal Menjaga Kewarasan
15 hours ago





