Déjà Vu: Kenapa Kita Merasa Pernah Mengalami Sesuatu Sebelumnya?
RAU - Sunday, 15 February 2026 | 06:48 AM


Istilah déjà vu berasal dari bahasa Prancis yang berarti "sudah pernah melihat". Sekitar 60–70% orang dewasa melaporkan pernah mengalaminya setidaknya sekali dalam hidup, terutama pada usia 15–25 tahun.
Fenomena ini telah lama menarik perhatian ilmuwan. Menurut penjelasan dari Cleveland Clinic, déjà vu kemungkinan terjadi ketika ada gangguan kecil dalam sistem memori otak yang membuat pengalaman baru terasa seperti kenangan lama.
Apa yang Terjadi di Otak?
Déjà vu berkaitan erat dengan hippocampus dan lobus temporal area otak yang berperan dalam pembentukan memori.
Ahli saraf dari Johns Hopkins Medicine menjelaskan bahwa otak memiliki dua sistem utama dalam memori:
-Sistem pengenalan (familiarity)
-Sistem pengingatan detail (recollection)
Dalam kondisi normal, keduanya bekerja sinkron. Namun saat déjà vu, sistem "familiarity" aktif tanpa dukungan memori detail yang nyata.
Akibatnya, kita merasa sangat yakin pernah mengalami situasi tersebut, padahal tidak.
Beberapa studi menggunakan EEG menunjukkan bahwa pada penderita epilepsi lobus temporal, déjà vu lebih sering terjadi. Ini memperkuat dugaan bahwa fenomena tersebut berasal dari aktivitas listrik singkat yang tidak biasa di area temporal otak.
Dalam keilmuan,ada teori Ilmiah yang paling diterima, yaitu :
1️⃣ Teori "Memory Glitch"
Otak salah memproses informasi baru sebagai memori lama akibat keterlambatan milidetik dalam transmisi saraf.
2️⃣ Teori Dual Processing
Terjadi ketidaksinkronan antara jalur persepsi dan jalur memori sehingga pengalaman baru terasa familiar.
3️⃣ Teori Kesamaan Pola
Situasi saat ini mungkin memiliki kemiripan tidak sadar dengan pengalaman masa lalu (layout ruangan, pencahayaan, ekspresi seseorang). Otak mengenali pola itu, tapi kita tidak sadar dari mana asalnya.
Siapa yang Lebih Sering Mengalami Déjà Vu?
Penelitian menunjukkan:
-Lebih umum pada usia muda
-Lebih sering terjadi pada orang yang sering bepergian
-Lebih banyak dialami individu dengan tingkat stres tinggi atau kurang tidur.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science menunjukkan bahwa kelelahan dapat meningkatkan kesalahan pemrosesan memori, yang mungkin memicu déjà vu.
Apakah Ini Sebuah Tanda Gangguan?
Dalam sebagian besar kasus, déjà vu adalah fenomena normal dan tidak berbahaya.
Namun menurut penjelasan dari Mayo Clinic, jika déjà vu terjadi sangat sering, disertai kehilangan kesadaran, halusinasi, atau kejang, maka perlu evaluasi medis karena bisa berkaitan dengan epilepsi lobus temporal.
Jadi, déjà vu hal mistis atau ilmiah?
Meski sering dikaitkan dengan kehidupan masa lalu atau fenomena supranatural, hingga kini tidak ada bukti yang mendukung penjelasan tersebut.
Ilmu saraf modern lebih mengarah pada penjelasan bahwa déjà vu adalah "gangguan kecil" dalam sistem pengolahan memori otak.
Dan mungkin yang membuatnya terasa misterius adalah karena fenomena ini menyentuh inti kesadaran manusia: ingatan, waktu, dan identitas diri.
Kesimpulan
Déjà vu bukan pertanda mistis, melainkan fenomena neurologis yang berkaitan dengan sistem memori dan pengenalan pola di otak.
Ia menunjukkan betapa kompleks dan sensitifnya cara otak kita memproses pengalaman — bahkan selisih milidetik saja bisa menciptakan sensasi yang terasa seperti perjalanan waktu.
Next News

Digital Detox: Tren Weekend Tanpa Media Sosial Kian Populer di Indonesia
15 hours ago

Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Pekerjaan Kantoran: Profesi Apa yang Paling Terdampak?
15 hours ago

Benarkah Manusia Menggunakan Kapasitas Otaknya Hanya 10% saja?
18 hours ago

Olahan Daun Ubi yang Menggugah Selera
12 hours ago

Fakta Menarik dari Si Buah Kiwi
13 hours ago

Ati Ampela: Antara Tekstur yang Melawan dan Kenikmatan yang Sering Dicibir
13 hours ago

Seni Menikmati Ceker Ayam
13 hours ago

Ritual Mani-Pedi: Bukan Cuma Soal Kuku Cantik, Tapi Soal Menjaga Kewarasan
13 hours ago

Benarkah Rambut Lebih Banyak Rontok Saat Stres?
13 hours ago

Benarkah Skip Sarapan Bisa Membuat Berat Badan Turun?
13 hours ago





