Senin, 16 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Di Balik Lorengnya, Kisah Pilu Harimau Sumatra yang Sedang Tidak Baik-Baik Saja

RAU - Monday, 16 February 2026 | 08:50 AM

Background
Di Balik Lorengnya, Kisah Pilu Harimau Sumatra yang Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Di Balik Lorengnya, Kisah Pilu Harimau Sumatra yang Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Siapa sih yang nggak kagum pas lihat Harimau Sumatra? Kucing besar dengan nama ilmiah Panthera tigris sumatrae ini adalah definisi nyata dari kata "karismatik". Tatapannya tajam, jalannya tenang tapi berwibawa, dan corak lorengnya itu lho, estetik banget kalau difoto. Nggak heran kalau dia jadi simbol keberanian di banyak logo instansi sampai tim sepak bola. Tapi ya itu, seringkali kita cuma jatuh cinta sama tampilannya, tanpa benar-benar peduli sama nasibnya di balik rimbunnya hutan tropis.

Jujur saja, kalau kita bicara soal Harimau Sumatra sekarang, topiknya bakal jauh dari kata menyenangkan. Ini bukan lagi soal betapa gaharnya mereka sebagai predator puncak, tapi soal bagaimana mereka sedang berjuang mati-matian biar nggak cuma jadi sejarah atau sekadar gambar di buku pelajaran anak cucu kita nanti. Kondisinya sudah masuk level "darurat" alias kritis banget.

Rumah yang Makin Sempit dan Tetangga yang Gak Santai

Bayangkan kamu punya rumah besar warisan kakek moyang, terus tiba-tiba setiap tahun ada saja orang yang datang memotong ruang tamumu, mengambil dapurmu, sampai akhirnya kamu cuma punya sisa kamar mandi buat tidur. Itulah yang dialami Harimau Sumatra. Hutan-hutan di Sumatra yang dulunya rimbun sekarang berubah jadi kebun sawit, pemukiman, sampai jalan tol. Istilah kerennya sih deforestasi, tapi kalau kata anak sekarang: rumah mereka lagi kena gusur masif.

Pas rumah mereka hilang, otomatis stok "makanan" di kulkas hutan juga berkurang. Rusa, babi hutan, dan kancil makin susah dicari. Akhirnya apa? Si loreng ini terpaksa keluar hutan buat nyari makan. Sialnya, yang mereka temukan adalah pemukiman warga. Di sinilah drama dimulai. Muncul konflik antara manusia dan harimau. Ternak warga dimakan, warga ketakutan, dan ujung-ujungnya si harimau yang dianggap "monster" jahat yang harus dibasmi. Padahal kalau dipikir-pikir pakai logika sederhana, siapa sih yang sebenarnya bertamu tanpa izin ke rumah siapa?

Target Empuk Para Pemburu Harta Karun Berdarah

Selain masalah properti, Harimau Sumatra juga harus menghadapi ancaman yang lebih gelap: perburuan liar. Ini asli bikin geleng-geleng kepala. Di pasar gelap, hampir seluruh bagian tubuh harimau itu ada harganya. Kulitnya buat pajangan orang kaya yang seleranya agak aneh, taring dan kuku buat jimat (hari gini masih percaya jimat?), sampai tulang-tulangnya yang konon katanya punya khasiat medis—yang kalau ditanya ke dokter beneran, pasti cuma dibilang mitos.

Para pemburu ini nggak pakai cara yang "gentleman". Mereka memasang jerat kabel baja di tengah hutan. Bayangkan seekor kucing besar seberat seratus kilo lebih, kakinya terjepit kabel baja berhari-hari sampai infeksi dan membusuk. Tragis? Banget. Dan yang bikin makin miris, seringkali kasus-kasus begini cuma lewat gitu saja di berita, kalah saing sama gosip artis yang selingkuh atau drama politik yang nggak habis-habis.

Bukan Sekadar Kucing Besar Biasa

Mungkin ada yang nanya, "Ya terus kenapa kalau mereka punah? Kan masih ada singa di Afrika atau harimau di India?" Wah, pemikiran begini nih yang harus diluruskan. Harimau Sumatra itu spesial karena mereka adalah satu-satunya subspesies harimau yang masih tersisa di Indonesia setelah saudara-saudara mereka, Harimau Jawa dan Harimau Bali, dinyatakan punah puluhan tahun lalu. Kalau mereka habis, ya tamat sudah riwayat harimau asli Nusantara.

Secara ekosistem, mereka itu penjaga keseimbangan. Kalau predator puncaknya hilang, populasi hewan pengerat atau babi hutan bakal meledak dan malah merusak pertanian manusia. Jadi, menyelamatkan harimau itu bukan cuma soal kasihan sama binatang, tapi soal menjaga kestabilan alam yang ujung-ujungnya berpengaruh ke kehidupan kita juga. Alam itu satu paket, nggak bisa dipisah-pisahin sesuka hati.

Harapan di Tengah Kepungan Kepunahan

Tapi tenang, ceritanya nggak melulu soal kesedihan kok. Masih banyak orang-orang baik di luar sana yang rela bertaruh nyawa jadi ranger hutan buat patroli setiap hari. Ada aktivis yang nggak capek-capek edukasi warga desa biar nggak langsung main hakim sendiri kalau ada harimau lewat. Pemerintah juga sudah mulai memperketat aturan, meski ya kita tahu sendiri, penegakan hukum di negeri ini kadang masih suka "ngantuk".

Terus kita sebagai kaum rebahan bisa apa? Banyak. Minimal dengan menyebarkan kesadaran. Jangan beli produk yang berasal dari bagian tubuh satwa liar. Jangan dukung wisata-wisata yang mengeksploitasi hewan demi konten media sosial. Kalau punya rezeki lebih, donasi ke lembaga konservasi yang beneran kerja di lapangan juga bisa jadi opsi yang keren banget daripada sekadar beli skin game mahal-mahal tapi nggak ada manfaat nyatanya.

Intinya, Harimau Sumatra itu bagian dari identitas kita. Jangan sampai nanti kita cuma bisa cerita ke anak-anak kita sambil nunjukkin foto di Google, "Dulu, Indonesia punya kucing besar yang keren banget, tapi mereka hilang karena kita terlalu sibuk bangun gedung dan kebun sawit." Malu kan? Yuk, selagi masih ada waktu, kita kasih ruang buat si loreng untuk tetap mengaum di rumahnya sendiri. Karena Sumatra tanpa harimau itu kayak sayur tanpa garam; hambar dan kehilangan jiwanya.