Selasa, 17 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Kenapa Jalan-Jalan Sore Lebih Ampuh Menjaga Waras Daripada Liburan Mahal?

Liaa - Tuesday, 17 February 2026 | 06:15 PM

Background
Kenapa Jalan-Jalan Sore Lebih Ampuh Menjaga Waras Daripada Liburan Mahal?

Healing Sederhana: Kenapa Jalan-Jalan Sore Lebih Ampuh Menjaga Waras Daripada Liburan Mahal

Zaman sekarang, kata "healing" rasanya sudah jadi kebutuhan pokok, sejajar sama nasi uduk atau kuota internet. Sedikit-sedikit merasa burnout, sedikit-sedikit pengen kabur ke Bali, atau minimal staycation di hotel bintang lima yang estetik biar feeds Instagram nggak kelihatan suram. Tapi ya jujur saja, kita ini seringnya terjebak dalam romantisasi penyembuhan diri yang menguras dompet. Padahal, kalau mau jujur-jujuran sama isi rekening, hiling yang paling masuk akal dan tetap bikin waras itu sebenarnya sederhana banget: jalan-jalan sore.

Fenomena jalan-jalan sore ini sebenarnya bukan barang baru. Dari zaman kakek-nenek kita dulu, ritual keluar rumah pas matahari mulai malu-malu itu sudah ada. Bedanya, dulu tujuannya cuma cari angin, sekarang kita beri label keren sebagai "self-therapy." Tapi mau apa pun namanya, esensinya tetap sama: melepaskan diri sejenak dari layar kotak yang isinya tuntutan kerjaan, drama media sosial, atau sekadar kabar buruk yang nggak ada habisnya.

Bayangkan saja, setelah seharian duduk meringkuk di depan laptop atau terjebak dalam hiruk pikuk kantor yang AC-nya kadang lebih dingin dari sikap gebetan, keluar rumah saat jam lima sore itu rasanya kayak nemu oase di tengah gurun. Ada semacam magis yang terjadi saat langit mulai berubah warna jadi jingga keunguan—apa yang anak senja sebut sebagai golden hour. Di saat itulah, dunia rasanya melambat. Kita nggak perlu buru-buru ngejar deadline, nggak perlu mikirin KPI, cukup gerakkan kaki tanpa tujuan yang benar-benar saklek.

Keajaiban jalan-jalan sore itu terletak pada detail-detail kecil yang biasanya kita lewatkan. Saat kita jalan kaki atau naik motor pelan-pelan di area perumahan atau taman kota, kita mulai sadar kalau hidup itu terus berjalan di luar gelembung masalah kita. Ada tukang gorengan yang lagi sibuk ngebungkus pesanan dengan kecepatan cahaya, ada anak-anak kecil yang lari-larian ngejar layangan putus tanpa beban, sampai kucing-kucing oren yang lagi asyik rebahan di atas pagar rumah orang. Pemandangan-pemandangan "receh" kayak gini sebenarnya yang bikin kita merasa menapak bumi lagi.

Secara psikologis, aktivitas ini tuh efektif banget buat ngurangin kadar stres. Istilah kerennya "grounding." Kita menghubungkan kembali indra kita dengan realita fisik. Bau aspal yang kena air sisa siraman tanaman warga, suara bising knalpot yang sesekali lewat, sampai hembusan angin yang bikin rambut berantakan. Semuanya itu adalah pengingat kalau kita masih hidup, kita masih di sini, dan dunia nggak akan kiamat cuma karena kita telat bales email satu jam.

Anehnya, banyak orang yang merasa kalau hiling itu harus spektakuler. Harus ada tiket pesawat, harus ada koper, dan harus ada foto di depan landmark terkenal. Padahal, hiling yang dipaksakan—apalagi kalau budget-nya hasil pinjol—malah bakal bikin tambah stres pas pulang. "Post-holiday blues" itu nyata, kawan. Sementara jalan-jalan sore? Modalnya cuma niat sama kaki yang mau diajak kompromi. Syukur-syukur ada sisa kembalian buat beli es teh plastik atau cilok di pinggir jalan. Kenikmatannya? Boleh diadu sama sarapan mewah di hotel berbintang yang rasanya kadang hambar karena kita sibuk nyari angle foto yang pas.

Selain itu, jalan-jalan sore itu cara paling ampuh buat memutus rantai adiksi kita sama gadget. Coba deh, pas keluar rumah, simpan hp-nya di kantong. Jangan ada niat buat bikin konten atau nge-story. Rasain sensasi jadi "orang asing" di lingkungan sendiri. Kita bakal sadar kalau banyak hal menarik yang terlewat karena mata kita terlalu sering menunduk ke layar. Misalnya, ternyata tetangga sebelah punya tanaman bunga yang cakep banget, atau ternyata ada kafe kecil di gang sempit yang aromanya sangat menggoda.

Ada juga kepuasan tersendiri saat kita jalan sore dan melihat orang-orang pulang kerja. Di satu sisi, kita mungkin merasa kasihan melihat wajah-wajah lelah di dalam busway atau motor yang macet-macetan. Tapi di sisi lain, itu adalah refleksi kolektif. Kita semua pejuang, kita semua capek, tapi kita semua juga punya hak buat menikmati sisa hari sebelum besok harus berperang lagi. Melihat perjuangan orang lain secara langsung kadang bikin kita lebih bersyukur sama apa yang kita punya sekarang.

Intinya, jangan nunggu burnout parah dulu baru mau gerak. Jangan nunggu tabungan jutaan dulu baru ngerasa berhak buat bahagia. Hiling sederhana lewat jalan-jalan sore itu adalah bentuk investasi kesehatan mental paling murah dan mudah. Ini bukan soal seberapa jauh kamu melangkah, tapi seberapa sadar kamu saat melangkah. Jadi, mumpung matahari belum benar-benar tenggelam, yuk tutup laptopnya, pakai sandal ternyaman, dan keluar rumah. Dunia di luar sana jauh lebih luas dan lebih indah daripada yang bisa ditampilkan oleh layar smartphone-mu.

Percayalah, setelah jalan kaki tiga puluh menit dan melihat langit berubah gelap, beban di pundak yang tadinya terasa seberat satu ton biasanya bakal berkurang barang beberapa gram. Dan terkadang, pengurangan beban yang sedikit itu sudah lebih dari cukup buat bikin kita siap menghadapi hari esok dengan senyum yang sedikit lebih tulus. Selamat jalan-jalan sore, selamat menemukan kedamaian dalam kesederhanaan.