Brain Rot: Fenomena Otak Lelah Akibat Terlalu Banyak Scroll Media Sosial
Tata - Saturday, 14 February 2026 | 05:01 AM


Belakangan, istilah brain rot ramai digunakan di media sosial untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa sulit fokus, cepat bosan, dan seperti "kosong" setelah terlalu lama menonton video pendek atau scrolling konten tanpa henti.
Secara medis, brain rot bukan diagnosis resmi. Namun fenomena ini berkaitan dengan apa yang disebut para peneliti sebagai overstimulasi dopamin dan penurunan rentang perhatian (attention span).
Apa yang Terjadi pada Otak Saat Kita Scroll Terus-Menerus?
Setiap kali kita melihat konten baru—terutama yang menghibur, mengejutkan, atau lucu—otak melepaskan dopamin, yaitu neurotransmitter yang berkaitan dengan rasa senang dan sistem reward.
Menurut Harvard Medical School, sistem reward otak bekerja mirip seperti mesin pencari kesenangan. Semakin cepat dan sering kita mendapatkan rangsangan instan, semakin otak terbiasa pada pola tersebut. Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan konsentrasi panjang seperti membaca buku atau bekerja mendalam terasa lebih berat dan membosankan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal yang diterbitkan oleh American Psychological Association menunjukkan bahwa paparan media digital yang berlebihan dapat berkaitan dengan penurunan kemampuan fokus jangka panjang, terutama jika dilakukan tanpa jeda.
Mengapa Konten Pendek Sangat "Adiktif"?
Platform video pendek dirancang dengan sistem infinite scroll dan algoritma personalisasi. Setiap swipe menghadirkan konten baru dalam hitungan detik. Pola ini menciptakan variable reward system—hadiah yang tidak bisa diprediksi—yang secara psikologis sangat kuat dalam membentuk kebiasaan.
Otak menjadi terbiasa pada kecepatan informasi tinggi. Ketika tidak mendapatkan stimulasi secepat itu, muncul rasa gelisah, bosan, atau ingin membuka ponsel lagi.
Dampak Brain Rot yang Sering Tidak Disadari
-Sulit fokus lebih dari 10–15 menit
-Cepat merasa lelah mental
-Mudah terdistraksi
-Gangguan kualitas tidur karena paparan layar malam hari
-Penurunan produktivitas kerja
Menurut World Health Organization (WHO), penggunaan layar berlebihan terutama menjelang tidur dapat mengganggu ritme sirkadian dan produksi melatonin, hormon yang mengatur tidur.
Apakah Brain Rot Permanen?
Kabar baiknya, kondisi ini umumnya tidak permanen. Otak memiliki kemampuan neuroplastisitas—kemampuan untuk beradaptasi dan membentuk jalur baru.
Mengurangi konsumsi konten cepat dan menggantinya dengan aktivitas yang lebih mendalam seperti membaca, olahraga, atau interaksi sosial nyata dapat membantu memulihkan fokus secara bertahap.
Cara Mengatasi Brain Rot
-Terapkan jadwal digital break (misalnya 30 menit tanpa ponsel)
-Nonaktifkan notifikasi tidak penting
-Gunakan teknik kerja fokus seperti metode Pomodoro
Yaitu fokus 25 menit lalu istirahat singkat 5 menit. Siklus ini diulang empat kali, kemudian diikuti istirahat panjang 15-30 menit untuk meningkatkan fokus, produktivitas, dan mencegah kelelahan mental.
-Hindari layar minimal 1 jam sebelum tidur
-Isi waktu dengan aktivitas offline yang menenangkan
Di tengah dunia yang serba cepat, menjaga kesehatan otak sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Scroll boleh, tapi jangan sampai otak ikut "lelah".
Next News

Hipertensi: Silent Killer yang Harus Diwaspadai
7 hours ago

Antara Menu Sahur Anti-Ngantuk dan Berbuka yang Nggak Bikin Food Coma
in 3 hours

Apa Manfaat Jalan Kaki 10.000 Langkah Sehari?
9 hours ago

Kenapa Jalan-Jalan Sore Lebih Ampuh Menjaga Waras Daripada Liburan Mahal?
in 2 hours

Mandi Setelah Olahraga, Segar Instan atau Malah Bahaya Buat Badan?
in 2 hours

Air Putih vs Minuman Isotonik Saat Olahraga: Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?
10 hours ago

Tidur Siang 20 Menit: Benarkah Efektif Menambah Konsentrasi?
11 hours ago

Latihan Rumahan Tanpa Alat: Efektif dan Enerjik untuk Semua Usia
13 hours ago

Benarkah Roti Bisa Memicu Maag?
13 hours ago

Perbedaan Kopi Arabika dan Robusta: Mana yang Lebih Berisiko Membuat Jantung Berdebar dan Sakit Kepala?
13 hours ago





