Berat Badan Justru Naik Saat Ramadan? Ini sebabnya.
RAU - Monday, 16 February 2026 | 08:43 AM


Secara logika, puasa berarti makan lebih sedikit sehingga berat badan seharusnya turun. Namun dalam praktiknya, banyak orang justru mengalami kenaikan berat badan selama Ramadan.
Fenomena ini bukan mitos. Sejumlah studi menunjukkan berat badan bisa tetap, turun, atau bahkan naik tergantung pola makan dan gaya hidup selama bulan puasa.
1.Kalori Berlebih Saat Berbuka
Setelah menahan lapar seharian, tubuh cenderung "balas dendam" saat berbuka. Menu tinggi gula dan lemak seperti gorengan, kolak, minuman manis, hingga makanan berat dalam porsi besar sering dikonsumsi sekaligus.
Menurut laporan dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, kenaikan berat badan terjadi ketika asupan kalori melebihi kebutuhan harian, meskipun frekuensi makan lebih sedikit.
Artinya, meski hanya makan dua kali (berbuka dan sahur), jika total kalorinya tinggi, berat badan tetap bisa naik.
2.Metabolisme Melambat Karena Kurang Aktivitas
Sebagian orang mengurangi aktivitas fisik saat puasa karena merasa lemas. Padahal, pembakaran kalori juga ikut menurun.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Nutrition and Metabolism menunjukkan bahwa penurunan aktivitas fisik selama Ramadan dapat mengimbangi defisit kalori dari puasa.
Jika tubuh lebih banyak istirahat dan minim gerak, energi yang tidak terpakai akan disimpan sebagai lemak.
3. Pola Tidur Berubah
Ramadan sering membuat jam tidur bergeser karena sahur dan ibadah malam.
Menurut studi dari National Sleep Foundation, kurang tidur dapat memengaruhi hormon ghrelin dan leptin — hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang.
Kurang tidur meningkatkan ghrelin (pemicu lapar) dan menurunkan leptin (pemicu rasa kenyang). Akibatnya, nafsu makan meningkat.
4. Konsumsi Gula yang Meningkat
Takjil manis memang identik dengan Ramadan. Namun lonjakan gula darah yang cepat bisa memicu rasa lapar kembali dalam waktu singkat.
Kadar insulin yang naik drastis membuat tubuh lebih mudah menyimpan lemak, terutama jika tidak diimbangi aktivitas fisik.
Beberapa studi global menunjukkan hasil yang bervariasi:
Sebagian orang turun 1–3 kg selama Ramadan.
Sebagian lain tetap stabil.
Sebagian justru naik berat badan, terutama setelah minggu kedua Ramadan.
Kuncinya bukan pada puasanya, tetapi pada kualitas dan kuantitas asupan makanan.
Kesimpulan
Puasa tidak otomatis membuat berat badan turun.
Jika berbuka berlebihan, kurang tidur, dan minim aktivitas fisik, tubuh justru cenderung menyimpan energi sebagai lemak.
Ramadan bisa menjadi momen menurunkan berat badan — tetapi hanya jika diimbangi dengan pola makan seimbang, cukup air, dan aktivitas ringan seperti berjalan kaki setelah tarawih.
Karena pada akhirnya, bukan durasi tidak makan yang menentukan, tetapi bagaimana kita mengatur pola hidup selama sebulan penuh.
Next News

Menyeruput Sup Saat Sakit, Mengapa Makanan Hangat Bisa Membantu Tubuh Tetap Terjaga?
in 6 hours

Tua Itu Pasti, tetapi Tetap Aktif dan Sehat Bisa Dimulai dari Sekarang
in 6 hours

Semangka Bukan Sekadar Pelepas Dahaga, Ini Manfaatnya untuk Hidrasi dan Pencernaan
in 6 hours

Pusing yang Tak Kunjung Hilang? Kenali Kapan Sakit Kepala Perlu Diperiksakan
in 6 hours

Saat Pikiran Terbebani, Kenali Berbagai Dampak Stres yang Bisa Terasa pada Tubuh
in 6 hours

Waspadai Abu Vulkanik, Bukan Sekadar Debu tetapi Bisa Mengganggu Kesehatan Pernapasan
in 5 hours

7 Makanan yang Bisa Mendukung Kesehatan Paru-Paru, Enak dan Mudah Ditemukan
in 5 hours

Mood Lagi Berantakan? Coba Perhatikan Isi Piring dan Pola Makan Sehari-hari
in 5 hours

Rambut Beruban di Usia Muda, Kenali Faktor yang Bisa Memengaruhi Kemunculannya
in 5 hours

Ginjal Bermasalah? Kenali Perubahan pada Tubuh yang Perlu Diperhatikan
in 5 hours





