Operasi Bariatrik: Solusi Medis untuk Obesitas, Bagaimana Prosedur dan Risikonya?
RAU - Monday, 16 February 2026 | 09:51 AM


Obesitas bukan sekadar masalah penampilan, tetapi kondisi medis kronis yang dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, hingga sleep apnea. Dalam kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan Bariatric surgery sebagai terapi jangka panjang.
Menurut World Health Organization, obesitas terjadi ketika indeks massa tubuh (IMT) ≥30 kg/m². Namun operasi bariatrik biasanya dipertimbangkan pada pasien dengan IMT ≥40, atau ≥35 dengan komplikasi serius seperti diabetes atau hipertensi.
Apa Itu Operasi Bariatrik?
Operasi bariatrik adalah prosedur yang mengubah sistem pencernaan untuk membatasi asupan makanan dan/atau penyerapan kalori. Tujuannya bukan hanya menurunkan berat badan, tetapi juga memperbaiki gangguan metabolik.
Menurut American Society for Metabolic and Bariatric Surgery, operasi ini terbukti efektif dalam:
-Menurunkan berat badan jangka panjang
-Memperbaiki kontrol gula darah
-Mengurangi risiko penyakit jantung
-Meningkatkan kualitas hidup
Jenis-Jenis Operasi Bariatrik
1.Gastric Sleeve (Sleeve Gastrectomy)
Sebagian besar lambung diangkat sehingga kapasitasnya mengecil.
Pasien cepat merasa kenyang dan hormon lapar (ghrelin) berkurang.
2. Gastric Bypass
Lambung diperkecil dan sebagian usus dilewati.
Mengurangi penyerapan kalori sekaligus membatasi porsi makan.
3. Adjustable Gastric Band
Pemasangan cincin silikon di bagian atas lambung untuk membatasi kapasitas makan.
Kini lebih jarang dilakukan dibanding metode lain.
Siapa yang Bisa Menjalani?
Kandidat operasi biasanya:
IMT ≥40,
IMT ≥35 dengan penyakit penyerta (diabetes tipe 2, hipertensi, sleep apnea),
Gagal menurunkan berat badan dengan terapi konservatif,
Siap menjalani perubahan gaya hidup permanen,
Evaluasi psikologis dan medis menyeluruh sangat diperlukan sebelum tindakan.
Risiko dan Efek Samping
Meski efektif, operasi bariatrik tetap memiliki risiko, seperti:
Infeksi,
Perdarahan,
Kekurangan nutrisi (zat besi, vitamin B12, kalsium),
Gangguan pencernaan, dan
Risiko komplikasi anestesi.
Menurut jurnal The New England Journal of Medicine, keberhasilan jangka panjang sangat bergantung pada kepatuhan pasien terhadap pola makan sehat dan kontrol rutin.
Manfaat Jangka Panjang
Penelitian dari National Institutes of Health menunjukkan bahwa pasien dapat kehilangan 50–70% kelebihan berat badan dalam 1–2 tahun pertama setelah operasi, serta mengalami perbaikan signifikan pada diabetes tipe 2.
Namun, operasi ini bukan "jalan pintas". Tanpa perubahan pola makan dan aktivitas fisik, berat badan bisa kembali naik.
Kesimpulan
Operasi bariatrik adalah pilihan medis serius untuk obesitas berat yang telah menimbulkan komplikasi kesehatan. Prosedur ini efektif bila dilakukan dengan indikasi yang tepat dan diikuti komitmen perubahan gaya hidup seumur hidup.
Next News

Ikan Patin dan Dori, Apakah Sama? Ini Perbedaan yang Perlu Diketahui
13 hours ago

Vitamin F: Benarkah Itu Vitamin? Ini Penjelasan Ilmiahnya
13 hours ago

Latihan Kardio untuk Lansia: Aman, Efektif, dan Menjaga Jantung Tetap Sehat
13 hours ago

Sap Ca Meh/ Cap Go Meh :Malam ke-15 Penutup Imlek yang Sarat Makna dan Tradisi
13 hours ago

Kucing Mata Belang: Odd eyed cat yang cantik dan unik
14 hours ago

Berat Badan Justru Naik Saat Ramadan? Ini sebabnya.
14 hours ago

Sering Minum Teh Pas Puasa? Simak Manfaatnya Bagi Kesehatan Tubuh
3 hours ago

Hidrasi Alami: Manfaat Luar Biasa Air Kelapa Bagi Tubuh
3 hours ago

Kenali Tanda Kurma Mulai Rusak dan Tips Menyimpannya dengan Benar
3 hours ago

Masker Alami untuk Kulit Kusam: Resep Glowing Hemat Tanpa Bikin Kantong Bolong
3 hours ago





