Senin, 16 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Benarkah Kucing Punya 9 Nyawa? Ini Asal Usul Mitos dan Penjelasan Ilmiahnya

Nanda - Thursday, 12 February 2026 | 09:20 AM

Background
Benarkah Kucing Punya 9 Nyawa? Ini Asal Usul Mitos dan Penjelasan Ilmiahnya

Pernahkah Anda mendengar ungkapan bahwa kucing memiliki sembilan nyawa? Istilah ini sudah sangat populer di berbagai budaya, termasuk di Indonesia. Banyak orang percaya kucing bisa selamat dari jatuh tinggi, kecelakaan kecil, atau situasi berbahaya lainnya seolah-olah ia memang punya "nyawa cadangan".

Namun secara ilmiah, tentu saja kucing hanya memiliki satu nyawa seperti makhluk hidup lainnya. Lalu, dari mana asal mitos sembilan nyawa itu?

Asal Usul Mitos 9 Nyawa

Kepercayaan bahwa kucing memiliki banyak nyawa sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Dalam mitologi Mesir Kuno, kucing dianggap hewan suci dan dikaitkan dengan dewi Bastet, simbol perlindungan dan kehidupan. Karena kedekatannya dengan simbol ketuhanan, kucing dipercaya memiliki kekuatan istimewa.

Di Eropa abad pertengahan, angka sembilan dianggap angka magis dan penuh kekuatan. Dalam budaya Inggris muncul pepatah lama:

"A cat has nine lives. For three he plays, for three he strays, and for the last three he stays."

Di beberapa negara lain, jumlahnya bahkan berbeda. Di Spanyol dan Italia, kucing dipercaya memiliki tujuh nyawa. Sementara dalam tradisi Turki dan Arab, disebut memiliki enam nyawa. Artinya, angka tersebut lebih bersifat simbolis daripada fakta biologis.

Kenapa Kucing Terlihat "Kebal"?

Mitos ini muncul bukan tanpa alasan. Secara ilmiah, kucing memang memiliki kemampuan fisik luar biasa yang membuatnya sering selamat dari situasi berbahaya.

Salah satu kemampuan uniknya adalah righting reflex, yaitu refleks alami yang memungkinkan kucing memutar tubuhnya di udara agar mendarat dengan kaki terlebih dahulu saat jatuh. Refleks ini mulai berkembang sejak usia 3-4 minggu dan sempurna sekitar usia 7 minggu.

Penelitian kedokteran hewan bahkan mencatat fenomena yang dikenal sebagai high-rise syndrome, di mana kucing yang jatuh dari ketinggian tertentu seringkali justru mengalami cedera lebih ringan dibandingkan jatuh dari ketinggian sedang. Hal ini terjadi karena saat mencapai kecepatan terminal, tubuh kucing menjadi lebih rileks dan posisinya melebar seperti parasut kecil, mengurangi dampak benturan.

Selain itu, struktur tulang kucing juga sangat fleksibel. Mereka memiliki lebih banyak ruas tulang belakang dibanding manusia, serta tidak memiliki tulang selangka yang kaku. Ini membuat tubuhnya sangat lentur dan mampu menyerap benturan lebih baik.

Bukan Berarti Tidak Bisa Terluka

Meski memiliki refleks dan anatomi yang luar biasa, kucing tetap bisa terluka parah atau bahkan mati akibat kecelakaan. Dokter hewan menegaskan bahwa kemampuan bertahan hidup mereka bukanlah bukti memiliki banyak nyawa, melainkan hasil evolusi dan adaptasi sebagai pemburu yang lincah.

Kucing adalah predator alami yang harus mampu melompat, memanjat, dan berburu. Tubuhnya berkembang untuk mendukung aktivitas tersebut. Jadi, apa yang terlihat seperti "keajaiban" sebenarnya adalah mekanisme biologis yang sangat efisien.

Makna Simbolik di Balik "9 Nyawa"

Ungkapan sembilan nyawa pada akhirnya lebih merupakan metafora. Kucing sering diasosiasikan dengan ketahanan, misteri, dan kemampuan bangkit dari situasi sulit. Karena itu, istilah ini juga sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berkali-kali selamat dari bahaya.

Dalam konteks budaya populer, mitos ini membuat kucing semakin menarik dan penuh daya tarik.

Kucing tidak benar-benar memiliki sembilan nyawa. Namun, refleks alami, fleksibilitas tubuh, dan kemampuan adaptasinya membuat mereka tampak seperti makhluk yang sulit "dikalahkan". Mitos tersebut lahir dari kekaguman manusia terhadap ketangguhan dan kelincahan hewan ini sejak zaman kuno.

Jadi, lain kali Anda melihat kucing mendarat sempurna setelah melompat dari tempat tinggi, ingatlah—itu bukan karena ia punya sembilan nyawa, melainkan karena tubuhnya memang dirancang luar biasa oleh alam.