Jumat, 13 Februari 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Eksplor

Petai Antara Kenikmatan Surgawi dan Teror Kamar Mandi

RAU - Thursday, 12 February 2026 | 08:35 AM

Background
Petai Antara Kenikmatan Surgawi dan Teror Kamar Mandi

Petai Antara Kenikmatan Surgawi dan Teror Kamar Mandi

Bayangkan kamu sedang berada di sebuah acara pernikahan dengan adat Sunda yang kental. Di meja prasmanan, selain rendang yang menggoda dan sate ayam yang aromanya semerbak, ada satu piring kecil berisi butiran hijau lonjong yang berkilau. Sebagian orang akan langsung berbinar-binar, mengambilnya dengan sendok besar seolah menemukan harta karun. Namun, sebagian lainnya mungkin akan mengernyitkan dahi, menutup hidung secara halus, dan melangkah menjauh seolah baru saja melihat ancaman biologis. Itulah petai, sang primadona yang paling membelah opini publik di seantero nusantara.

Dalam tradisi kuliner Indonesia, petai atau Parkia speciosa bukan sekadar bahan makanan. Ia adalah sebuah pernyataan sikap. Bagi pemujanya, petai adalah pelengkap hidup yang sanggup meningkatkan nafsu makan hingga tiga kali lipat. Tapi bagi pembencinya, petai adalah musuh bebuyutan yang aromanya sanggup bertahan di ingatan—dan di kamar mandi—selama berhari-hari. Pertanyaannya, kenapa si hijau yang "bau" ini bisa punya tempat yang begitu sakral dalam kebudayaan kita?

Bukan Sekadar Lalapan, Tapi Warisan

Kalau kita bicara soal sejarah, petai sudah menjadi bagian dari lidah orang Asia Tenggara, khususnya Indonesia, sejak zaman nenek moyang masih hobi blusukan di hutan. Di tanah Jawa atau tanah Pasundan, makan tanpa lalapan itu rasanya seperti ada yang kurang. Dan di dalam barisan lalapan itu, petai seringkali menjadi "kapten" timnya. Mau dimakan mentah dengan sambal dadak, digoreng setengah matang sampai kulitnya agak kecokelatan, atau dibakar di atas arang—semuanya punya penikmat fanatik tersendiri.

Menariknya, petai ini adalah makanan yang sangat demokratis. Kamu bisa menemukannya di warteg pinggir jalan yang harganya ramah kantong, tapi kamu juga bisa menemukannya tersaji cantik di restoran bintang lima dengan harga yang kadang bikin geleng-geleng kepala. Petai tidak mengenal kasta sosial. Seorang pejabat tinggi bisa saja asyik melahap sambal goreng ati petai dengan lahap, sama halnya dengan seorang kuli bangunan yang menikmati makan siangnya di bawah pohon rindang. Di hadapan petai, semua orang setara dalam perjuangan melawan aroma mulut setelahnya.

Urusan Rasa yang Mengalahkan Logika

Secara ilmiah, bau petai yang khas itu berasal dari kandungan asam amino yang mengandung unsur belerang atau sulfur. Itulah sebabnya, setelah makan petai, bau napas dan urin seseorang bisa berubah menjadi sangat tajam. Namun, bagi para pecintanya, aroma ini justru dianggap sebagai "aroma kebahagiaan". Ada sensasi umami alami dan tekstur renyah yang sedikit pahit-gurih yang tidak bisa digantikan oleh bahan makanan lain.

Beberapa orang bahkan bilang kalau makan petai itu bikin kecanduan. Ada semacam kepuasan batin saat berhasil membelah kulit petai yang tebal dan menemukan biji yang gemuk di dalamnya. Belum lagi kalau bicara soal manfaat kesehatan. Konon, petai kaya akan kalium, serat, dan bisa membantu mengatasi depresi ringan karena kandungan triptofannya. Ya, meskipun klaim ini sering dijadikan "tameng" oleh para pecinta petai saat diprotes oleh pasangannya karena bau mulut.

Teror di Kamar Mandi: Sebuah Realita Sosial

Kita harus jujur, tantangan terbesar dari mencintai petai bukanlah saat mengunyahnya, melainkan fase setelahnya. Istilah "teror kamar mandi" bukan sekadar isapan jempol. Di lingkungan kantor atau asrama, kehadiran seorang pemakan petai bisa langsung terdeteksi hanya dengan satu kali kunjungan ke toilet. Ini seringkali menjadi bahan bercandaan yang akrab di masyarakat kita. "Siapa nih yang habis makan pete?" menjadi pertanyaan retoris yang sering terdengar di ruang-ruang publik.

Namun, di sinilah letak uniknya masyarakat Indonesia. Meski bau, kita punya segudang tips dan trik lokal untuk meredam dampaknya. Mulai dari minum kopi hitam, mengunyah beras mentah (ini metode yang cukup legendaris tapi melelahkan), hingga makan mentimun dalam jumlah banyak. Ada semacam "kode etik" tidak tertulis: silakan makan petai sepuasnya, tapi pastikan kamu tahu cara meminimalisir jejaknya agar tidak mengganggu ketenteraman orang lain.

Petai Sebagai Identitas Kuliner Modern

Di era sekarang, petai mengalami evolusi. Ia tidak lagi dianggap sebagai makanan "ndeso". Banyak kafe kekinian yang menyajikan Nasi Goreng Petai Wagyu atau Pasta Sambal Petai. Para chef muda mulai bereksperimen menggabungkan rasa tradisional ini dengan teknik memasak modern. Petai telah naik kelas tanpa kehilangan jati dirinya yang liar.

Bahkan di media sosial, petai seringkali menjadi konten yang menarik. Video mukbang petai mentah seringkali ditonton jutaan orang, memicu perdebatan seru di kolom komentar antara tim "Cinta Mati" dan tim "Mending Jauh-jauh". Fenomena ini menunjukkan bahwa petai bukan sekadar soal rasa di lidah, tapi juga soal memori kolektif dan identitas kita sebagai bangsa yang berani berurusan dengan sesuatu yang kontroversial.

Kesimpulan: Berdamai dengan Si Hijau

Jadi, apakah kamu termasuk tim yang memuja petai atau yang lari terbirit-birit saat melihatnya? Pada akhirnya, petai adalah bagian tak terpisahkan dari kekayaan tradisi kita. Ia mengajarkan kita bahwa kenikmatan seringkali datang dengan konsekuensi, dan dalam hidup, tidak semuanya harus selalu wangi untuk bisa dihargai.

Bagi kamu yang masih ragu, mungkin sesekali perlu mencoba petai yang sudah diolah ke dalam sambal goreng yang gurih. Siapa tahu, benci itu bisa berubah jadi rindu yang dalam. Dan bagi kamu para veteran pemakan petai, tetaplah konsisten dan jangan lupa selalu sedia permen karet atau sikat gigi di tas. Karena bagaimanapun juga, mencintai petai adalah sebuah keberanian untuk menjadi diri sendiri di tengah aroma yang memikat sekaligus mematikan.