Sabtu, 31 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Regional & Nasional

Masuk China dengan Mobil Sendiri, Kakek-Nenek Keliling Dunia Hadapi Pemeriksaan Ketat di Perbatasan

RAU - Friday, 30 October 2026 | 06:47 PM

Background
Masuk China dengan Mobil Sendiri, Kakek-Nenek Keliling Dunia Hadapi Pemeriksaan Ketat di Perbatasan

Kakek-Nenek Keliling Dunia Hadapi Pemeriksaan Ketat Saat Masuk China dengan Mobil Pribadi

Pasangan lansia asal Aceh, T. Faisal Laksamana (65) dan dr. Indriati (61), mengalami pengalaman menegangkan ketika memasuki China dalam perjalanan The Great Overland Journey. Keduanya harus melewati serangkaian pemeriksaan ketat saat membawa kendaraan pribadi melintasi perbatasan negara tersebut.

Pasangan yang kini berdomisili di Padangsidimpuan, Sumatera Utara, itu memasuki China melalui perbatasan Boten, Laos, pada 4 Agustus 2026.

Setibanya di kawasan perbatasan, kendaraan yang mereka gunakan langsung menjalani pemeriksaan oleh petugas setempat. Proses tersebut menjadi salah satu pengalaman yang cukup menegangkan bagi keduanya.

Mobil Diperiksa Menggunakan Scanner Khusus

Sebelum diizinkan melanjutkan perjalanan, mobil Faisal dan Indriati terlebih dahulu diperiksa menggunakan alat scanner khusus.

Setelah melewati pemindaian, petugas melanjutkan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap kendaraan beserta barang-barang yang dibawa.



Faisal menceritakan bahwa proses pemeriksaan tersebut membuat mereka cukup tegang karena hampir seluruh bagian kendaraan diperiksa.

"Kami cukup tegang saat masuk border China. Mobil harus masuk scanner dan kemudian diperiksa hampir seluruh bagiannya," ujar Faisal kepada ANTARA, Sabtu.

Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari prosedur yang harus mereka lalui sebelum memulai perjalanan lebih jauh di wilayah China.

Kendala Bahasa Mandarin Saat Pemeriksaan

Selain pemeriksaan kendaraan, Faisal dan Indriati juga menghadapi tantangan komunikasi. Petugas perbatasan menggunakan bahasa Mandarin sehingga keduanya mengalami kesulitan memahami beberapa instruksi yang diberikan.

Situasi tersebut sempat membuat proses pemeriksaan terasa lebih menantang. Beruntung, mereka mendapatkan pendampingan dari pemandu yang disediakan oleh agen perjalanan.



Pemandu tersebut membantu menerjemahkan percakapan sekaligus menjelaskan arahan petugas agar proses pemeriksaan dapat berjalan dengan lebih mudah.

Kehadiran pendamping menjadi sangat membantu, terutama bagi wisatawan yang tidak menguasai bahasa setempat ketika melakukan perjalanan menggunakan kendaraan pribadi.

Bendera Merah Putih Menarik Perhatian

Ada hal menarik lainnya selama Faisal dan Indriati berada di kawasan perbatasan China. Mobil yang mereka gunakan dilengkapi bendera Merah Putih berukuran cukup besar sehingga menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.

Bendera tersebut menjadi identitas pasangan asal Indonesia itu selama menempuh perjalanan panjang melintasi berbagai negara.

Melalui perjalanan tersebut, Faisal dan Indriati turut membawa identitas Indonesia ketika bertemu masyarakat dari berbagai bangsa.



Perjalanan di China Membutuhkan Agen Khusus

Faisal menjelaskan bahwa perjalanan menggunakan kendaraan pribadi di China membutuhkan bantuan agen perjalanan. Hal ini berkaitan dengan berbagai persyaratan administrasi dan kebutuhan teknis yang harus diselesaikan sebelum menjelajahi negara tersebut.

Paket perjalanan yang mereka ikuti mencakup pendampingan selama perjalanan, pengurusan surat izin mengemudi China, pelat nomor kendaraan setempat, serta dokumen pendukung lainnya.

Menurut Faisal, mengurus seluruh kebutuhan tersebut secara mandiri dapat membutuhkan biaya yang sangat besar.

Karena itu, ia dan Indriati memilih bergabung dengan kelompok perjalanan agar pengeluaran dapat dibagi bersama peserta lainnya.

"Kalau sendirian biayanya sangat mahal. Karena itu kami bergabung dalam grup agar biaya perjalanan bisa lebih murah," katanya.



Menjelajahi China Selama 25 Hari

Setelah menyelesaikan pemeriksaan di perbatasan, Faisal dan Indriati dijadwalkan menjelajahi China selama kurang lebih 25 hari.

Perjalanan tersebut menjadi bagian dari ekspedisi panjang mereka sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kazakhstan dan sejumlah negara lain di kawasan Asia Tengah.

Bagi pasangan berusia 65 dan 61 tahun itu, memasuki China menggunakan mobil pribadi merupakan pengalaman tersendiri. Mereka tidak hanya menghadapi tantangan perjalanan jarak jauh, tetapi juga harus menyesuaikan diri dengan aturan, bahasa, dan prosedur yang berlaku di negara tujuan.

Kisah perjalanan Kakek-Nenek Keliling Dunia memperlihatkan bahwa ekspedisi lintas negara membutuhkan persiapan yang matang. Selain kondisi kendaraan, pemahaman mengenai aturan perjalanan dan dukungan pendamping lokal juga dapat menjadi faktor penting.

Melalui The Great Overland Journey, Faisal dan Indriati terus melanjutkan impian menjelajahi dunia sekaligus membagikan pengalaman yang dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia.