Sabtu, 31 Oktober 2026
Live Radio
LIVE
Raufm.com
Regional & Nasional

Jelajahi Padang Tandus China-Kazakhstan, Kakek-Nenek Keliling Dunia Cicipi Steak Daging Kuda di Almaty

RAU - Friday, 30 October 2026 | 06:55 PM

Background
Jelajahi Padang Tandus China-Kazakhstan, Kakek-Nenek Keliling Dunia Cicipi Steak Daging Kuda di Almaty

Lewati Padang Tandus Menuju Kazakhstan, Kakek-Nenek Keliling Dunia Cicipi Daging Kuda di Almaty

Perjalanan keliling dunia menggunakan kendaraan pribadi membawa pengalaman unik bagi pasangan asal Aceh, T. Faisal Laksamana (65) dan dr. Indriati (61). Setelah menempuh perjalanan panjang dari China, keduanya akhirnya tiba di Almaty, Kazakhstan, dengan melewati jalur yang dipenuhi padang tandus dan minim permukiman.

Perjalanan menuju Asia Tengah menjadi salah satu bagian yang cukup menantang dalam ekspedisi The Great Overland Journey. Meski kondisi jalan relatif mulus, panjangnya jalur tanpa rumah penduduk membuat pasangan tersebut harus lebih waspada selama berkendara.

Melintasi Padang Tandus Tanpa Permukiman

Setelah meninggalkan China, Faisal dan Indriati melewati kawasan pegunungan sebelum memasuki hamparan padang tandus yang sangat luas. Puluhan kilometer perjalanan dilalui tanpa terlihat permukiman warga.

Kondisi jalan yang baik memang membantu perjalanan mereka. Namun, minimnya tempat untuk meminta pertolongan menjadi kekhawatiran tersendiri apabila kendaraan mengalami kerusakan di tengah perjalanan.

Faisal mengaku sempat membayangkan risiko yang mungkin terjadi jika mobil mereka mengalami masalah di kawasan terpencil tersebut.



"Jalannya cukup bagus, mulus dan teratur. Tetapi kami tidak bisa membayangkan kalau terjadi masalah dengan mobil di tengah padang tandus seperti ini. Mau minta bantuan kepada siapa? Rumah penduduk saja tidak ada," ujar Faisal kepada ANTARA, Minggu.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan overland membutuhkan persiapan kendaraan dan perlengkapan yang memadai, terutama ketika melewati daerah yang jauh dari fasilitas umum.

Bermalam di Kawasan Charyn Canyon

Setelah melewati perjalanan panjang, Faisal dan Indriati memutuskan beristirahat di kawasan wisata Charyn Canyon Tarmerlik.

Kawasan alam dengan bentang tebing yang khas itu memberikan pengalaman berbeda bagi keduanya. Mereka dapat menikmati suasana alam sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju Almaty.

Dari kawasan tersebut, perjalanan menuju Almaty masih berjarak sekitar 280 kilometer.



Setelah akhirnya tiba, rasa lelah akibat perjalanan panjang terasa terbayarkan. Keduanya bahkan berkesempatan bertemu dua sahabat perjalanan, Lily Yosa dari London dan Mila dari Belgia, yang ternyata sama-sama berasal dari Medan.

Pertemuan tersebut menjadi momen menyenangkan sekaligus membuka rencana perjalanan berikutnya menuju Kyrgyzstan dan Uzbekistan.

Menjelajahi Green Bazaar di Almaty

Sambil menunggu proses pengurusan visa Kyrgyzstan, Faisal dan Indriati memanfaatkan waktu untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat Almaty.

Salah satu tempat yang mereka kunjungi adalah Green Bazaar, pasar tradisional yang menjadi pusat aktivitas jual beli masyarakat setempat.

Di pasar tersebut, keduanya melihat berbagai produk dan komoditas lokal sekaligus mengamati suasana kehidupan sehari-hari warga Kazakhstan.



Mengunjungi pasar tradisional menjadi salah satu cara untuk mengenal budaya suatu negara. Melalui interaksi dengan lingkungan sekitar, wisatawan dapat memperoleh pengalaman yang berbeda dibandingkan hanya mengunjungi tempat-tempat wisata populer.

Pertama Kali Mencicipi Sup dan Steak Daging Kuda

Pengalaman kuliner menjadi salah satu cerita paling menarik selama mereka berada di Kazakhstan.

Untuk pertama kalinya dalam perjalanan tersebut, Faisal dan Indriati mencoba hidangan berbahan daging kuda. Menu yang mereka cicipi berupa sup daging kuda dan steak daging kuda yang disajikan bersama jus delima.

Bagi keduanya, makanan tersebut memberikan pengalaman baru karena berbeda dari hidangan yang biasa mereka nikmati selama berada di negara lain.

"Luar biasa. Kami baru kali ini mencoba makan daging kuda. Rasanya menjadi pengalaman yang tidak terlupakan selama perjalanan kami di Kazakhstan," kata Faisal.



Mencicipi makanan khas suatu daerah juga menjadi bagian dari perjalanan budaya. Setiap negara memiliki bahan pangan dan tradisi kuliner yang mencerminkan kebiasaan masyarakatnya.

Mengunjungi Masjid di Tengah Perjalanan

Sebagai wisatawan Muslim, Faisal dan Indriati juga menyempatkan diri menjalankan ibadah selama berada di Almaty.

Setelah menikmati kuliner setempat, keduanya melanjutkan aktivitas dengan menunaikan salat di Almaty Central Mosque.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari pengalaman mereka mengenal kehidupan masyarakat Muslim di Kazakhstan.

Selain menikmati keindahan alam dan kuliner, keberadaan masjid juga memberikan kesempatan bagi keduanya untuk tetap menjalankan aktivitas keagamaan selama melakukan perjalanan jauh.



Ekspedisi Panjang dari Indonesia Menuju Eropa

Perjalanan Faisal dan Indriati bukanlah petualangan yang baru dimulai. Sebelum menjalani ekspedisi lintas negara kali ini, keduanya telah menjelajahi berbagai wilayah di Indonesia.

Pada 2023, mereka melakukan perjalanan ke Malaysia dan Brunei. Setahun kemudian, perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Laos.

Dalam ekspedisi The Great Overland Journey 2026–2027, keduanya membawa kendaraan pribadi dari Indonesia untuk menjelajahi sejumlah negara hingga kawasan Asia Tengah.

Setelah Kazakhstan, mereka merencanakan perjalanan menuju Kyrgyzstan dan Uzbekistan sebelum melanjutkan ekspedisi ke negara-negara berikutnya.

Tujuan perjalanan tersebut masih mencakup kawasan Eropa hingga Arab Saudi, termasuk Tanah Suci.



Setiap Perjalanan Menyimpan Cerita Berharga

Bagi Faisal dan Indriati, menjelajahi dunia bukan hanya tentang mengunjungi tempat baru atau menempuh jarak ribuan kilometer.

Setiap perjalanan memberikan kesempatan untuk bertemu orang-orang baru, mengenal kebudayaan berbeda, serta mencoba berbagai pengalaman yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Mulai dari melewati padang tandus yang jauh dari permukiman hingga mencicipi daging kuda di Kazakhstan, semuanya menjadi bagian dari cerita ekspedisi mereka.

Kisah pasangan yang kini berdomisili di Padangsidimpuan, Sumatera Utara, tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan panjang dapat memberikan banyak pelajaran tentang keberanian, persiapan, dan keterbukaan terhadap budaya lain.

Dengan kendaraan pribadi yang menjadi rumah sekaligus teman perjalanan, Faisal dan Indriati masih terus melanjutkan impian menjelajahi dunia. Ekspedisi mereka pun belum berakhir karena masih ada berbagai negara dan pengalaman baru yang menanti di perjalanan berikutnya.